Mufti Baru Mesir: Dr. Syauqi Ibrahim Abdul Karim

Senin (11/02), Dewan Petinggi Ulama Al-Azhar, yang diketuai oleh Syekh Ahmad Thayyib (Grand Syekh Al-Azhar), melakukan pertemuan tertutup guna membahas siapa pengganti Syekh Ali Jum’ah sebagai Grand Mufti Mesir, yang masa jabatannya akan selesai pada akhir Februari nanti ..

Ada Cinta di MTQ ..*

Unik, panggilan yang tak terduga ketika aku harus menghentikan sejenak pengembaraan mengais ilmu di Negeri Idaman sebagian para Cendikiawan, berat, meski akhirnya sampai juga di Negeri Suara Emas ..

Biografi Singkat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Pemimpin Para Da'i

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911 M. – 17 Juni 1998 M.) merupakan salah satu ahli tafsir Alquran yang terkenal pada masa modern dan merupakan Imam pada masa kini ..

KH. A. Tajuddin Marzuki Tokoh Ulama Oejoeng Malang sekaligus Representatif Generasi Kedua Attaqwa

Tanda-tanda dicabutnya ilmu oleh Allah SWT adalah perginya para ulama. Sudah banyak ulama yang telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya ..

IELTS Class; Antara Jenuh dan Semangat

Pada Ahad beberapa minggu yang lalu, aku tiba di Pare, sebuah desa yang sudah terkenal dengan sebutan Kampung Inggris ..

Friday, March 19, 2010

Dr. Ahmad Thayyib: Syekh Al-Azhar Yang Baru


Dr. Ahmad Thayyib: Syekh Al-Azhar Yang Baru

Presiden Muhammad Husni Mubarak pada hari Jumat ini (19/03/10), mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 62 tahun 2010 tentang pengangkatan Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib sebagai Syekh Al-Azhar yang baru.

Keputusan tersebut ditetapkan untuk mengangkat Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib sebagai Syekh Al-Azhar, pengganti Syekh Muhammad Sayyid Thantawi, yang meninggal pekan lalu. Adapun Masa kepemimpinan sebagai Syekh Al-Azhar adalah seumur hidup.

Ketika Syekh Thantawi meninggal, anggota kantornya, Ashraf Hassan, telah mengatakan bahwa Muhamad Washil, wakil Syekh Thantawi, diharapkan untuk sementara mengambil alih memimpin lembaga sampai Presiden Mesir menunjuk Syekh Al-Azhar yang baru.

Sejak 1961, Imam Besar Al-Azhar telah ditentukan melalui dekrit presiden, hal tersebut membuka pos untuk kritik karena terlalu dekat dengan pemerintah.

Hal ini terkait dengan Universitas Al-Azhar yang didirikan pada abad kesepuluh sebagai pusat yang paling penting untuk belajar Islam Sunni di dunia, yayasan tersebut mengeluarkan sejumlah fatwa untuk membimbing kaum Muslim.

Sebelum pengangkatan resmi Syekh Al-Azhar yang baru diumumkan, beberapa sumber di Al-Azhar mengatakan kandidat yang paling terkemuka untuk menggantikan Syekh Thantawi di antaranya adalah Menteri Wakaf Mahmud Hamdi Zaqzuq, Dekan Universitas Al-Azhar Ahmad Thayyib, dan Mufti Negara Mesir Ali Jum’ah.

Salah satu sumber berkata kepada Reuters bahwa Ali Jum’ah, telah memotong kunjungannya ke Jepang setelah mengetahui pemberitaan kematian Syekh Al-Azhar, tampaknya kurang mungkin atau mempunyai kesempatan yang sangat kecil karena ia memulai pendidikan Azhari setelah menerima gelar sarjana dari Fakultas Perdagangan Universitas Ain Syams di Kairo.

Syekh Ali Jum’ah pun tidak menunggu untuk dapat diangkat sebagai Syekh Al-Azhar sebelum kembalinya Presiden Husni Mubarak ke Mesir dari Jerman, yang melewati masa pemulihan setelah pembedahan untuk menghilangkan striktur bilier.

Dr. Ali Jum’ah – orang yang pertama memberikan ucapan selamat kepada Syekh Al-Azhar yang baru – harapan beliau kepada Dr. Ahmad Thayyib adalah semoga Allah membantunya dalam tugas besar ini untuk melayani Islam dan kaum Muslim di mesir dan dunia.

Mufti juga memuji – melalui telegram yang dikirimnya untuk Syekh Al-Azhar yang baru- Dr. Ahmad Thayyib memiliki peran penting melalui pengetahuannya dan status relijius dan ilmiahnya, yang menekankan kerja sama penuh dari semua lembaga-lembaga keagamaan di Mesir untuk melayani Islam dan kaum Muslim.

Sementara itu, Dr. Ahmad Thayyib ingin mengungkapkan apresiasinya yang mendalam terhadap kepercayaan besar yang diberikan kepadanya oleh Presiden Husni Mubarak dengan ditunjuknya sebagai Syekh Al-Azhar yang baru.

Telah dibayangi keadaan gembira seluruh Universitas Al-Azhar karena terpilihnya kepemimpinan Syekh Al-Azhar yang baru, meskipun hari ini adalah akhir pekan, tetapi kantor rektor universitas telah menerima ratusan panggilan untuk mengucapkan selamat kepada Dr. Ahmad Thayyib dengan posisinya yang baru.

Biografi Singkat Dr. Ahmad Thayyib, Pendidikan dan Karirnya.


Lahir pada tahun 1946, di desa El-Marashda, distrik Deshna, provinsi Qana, Mesir. Dari keluarga yang terhenti keturunannya dengan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ahmad Thayyib kecil bergabung dengan sekolah yang berafiliasi Al-Azhar pada usia 10 tahun, dengan rentang karir 40 tahun di lembaga pendidikan. Beliau menerima gelar License (Lc.) dari Universitas Al-Azhar pada fakultas Aqidah dan Filsafat Islam pada tahun 1969, dan diangkat menjadi dosen di Universitas, dan menerima gelar master pada tahun 1971, kemudian gelar Doktor (PhD) pada tahun 1977.

Dr. Ahmad Thayyib adalah seorang profesor dalam aqidah Islam, lancar dalam berbahasa Prancis dan Inggris, mempunyai banyak kajian, penelitian dan karangan mengenai aqidah dan filsafat Islam, beliau menerjemahkan sejumlah referensi berbahasa Prancis ke bahasa Arab, dan bekerja sebagai dosen beberapa waktu di Prancis.

Pernah diberikan kekuasaan sebagai Dekan Fakultas Studi Islam dan Arab untuk putra di Qana, dan kemudian ditugaskan sebagai Dekan Fakultas Studi Islam untuk putra di Aswan, dan kemudian ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Internasional, Pakistan.

Dahulunya pernah memegang jabatan Mufti Negara Mesir hingga September 2003. Hingga akhirnya beliau diangkat sebagai Rektor Universitas Al-Azhar, beliau juga salah seorang anggota Akademi Riset Islam (Islamic Research Academy) - dan akan memimpin Dewan tersebut setelah ditunjuk sebagai Syekh Al-Azhar yang baru ini -, dan anggota Dewan Tertinggi Tarekat Sufi dan sebagai Syekh Tarekat Ahmadiyah Klutip menggantikan ayahnya, pendiri tarekat klutip di Aswan, dan juga memimpin Komite Dialog Antar Agama di Al-Azhar.

Para Ulama di Al-Azhar mengatakan: Beliau adalah seorang yang mempunyai ilmu yang luas, beliau tidak akan masuk dalam perdebatan ke arah isu kontroversial, dan ketika menjadi mufti Negara Mesir beliau tidak merilis fatwa yang memicu kontroversi.

"Perbedaan di antara orang-orang, baik dalam keyakinan agama, pola fikir, bahasa atau emosi, adalah prinsip dasar Al-Quran. Allah menciptakan beragam suku bangsa," katanya sebelum menerima Uskup Agung Canterbury, Rowan Williams, dalam upaya untuk meningkatkan dialog antar-agama.

Dr. Ahmad Thayyib juga dikenal karena sikap kerasnya terhadap kelompok Al-Ikhwanul Muslimun, organisasi yang paling terorganisir dari kelompok oposisi, yang tetap resmi dilarang walaupun tetap dapat dukungan dari sebagian rakyat.

Pada tahun 2006, ia mengecam parade gaya militer oleh Persaudaraan mahasiswa di Universitas Al-Azhar di mana mereka memakai masker hitam "seperti Hamas, Hizbullah dan Pengawal Republik di Iran," katanya pada saat itu. Beberapa mahasiswa diskors dari universitas setelah parade dan puluhan lainnya ditangkap.

Demikianlah Profil singkat Dr. Ahmad Thayyib Syekh Al-Azhar yang baru, semoga cita-cita para leluhur Al-Azhar yang moderat agar lembaga ini terus memberikan sumbangsih khazanah keilmuan Islam akan tercapai dan terus berlanjut melalui kepemimpinannya.

Wednesday, March 10, 2010

Wafatnya Seorang Ulama Yang Arif dan Bijaksana: Fadhilatul Imâmil Akbar Ad-Duktûr Muhammad Sayyid Thantawi Syaikhul Azhar Asy-Syarif


Syekh Thantawi yang dijuluki Fadhilatul Imamil Akbar Syaikhul Azhar Asy-Syarif, meninggal Rabu pagi di Arab Saudi setelah mengalami serangan jantung yang akut, pada usia 81 tahun.
Beliau telah menderita penyakit jantung, yang sudah terpasang penyangga di dalam jantungnya pada tahun 2006. Beliau juga menderita diabetes, dan kesehatannya mengalami krisis pada akhir 2008 setelah terluka dalam salah satu kakinya dengan infeksi berat pada saraf kaki, dan dirawat di rumah sakit selama 10 hari.
Kunjungan Syekh Thantawi ke Kerajaan Saudi untuk menghadiri acara pemberian penghargaan Internasional Raja Faisal untuk layanan Islam kepada para pemenang tahun ini.
Wartawan BBC di Kairo memberitakan bahwa Syekh Thantawi menderita serangan jantung ketika sedang dalam perjalanan ke bandara untuk kembali ke Mesir. Dan dibawa ke rumah sakit terdekat di mana ia meninggal.
Jasad Syekh Al-Azhar tersebut kemudian dipindahkan melalui pesawat pribadi ke Madinah untuk dimakamkan di pemakaman Baqi' Al-Gharqad (penj: terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi tempat di mana dimakamkan sebagian isteri nabi, putra-putri nabi, para sahabat dan tabi'in serta orang shaleh lainnya. Dan banyak hadits tentang keutamaan penghuni dan maqam baqi', antaranya: Dari Aisyah ketika Rasulullah berziarah ke maqam Baqi' beliau mengucapkan: Salam sejahtera bagi kalian di tempat pemakaman umat Islam. Telah datang kepada kalian perkara yang telah dijanjikan, pada hari esok kalian akan ditundakan. Dengan izin Allah kita bisa bertemu besok. Ya Allah ampunilah para penghuni pemakaman baqi' [Hadits Shahih Imam Muslim 974] dan masih banyak hadits yang lainnya berkenaan tentang maqam baqi'), pemerintah Saudi telah mengirimkan pesawat pribadi ke Kairo untuk membawa keluarganya untuk berpartisipasi dalam upacara pemakaman.
Abdullah Al-Najjar, salah satu penasihat Syekh Thantawi pada waktu diwawancarai oleh televisi Nil Mesir, beliau mengatakan bahwa kematian Syekh Thantawi adalah secara tiba-tiba, saat itu kesehatan dan keadaan Syekh terlihat sangat baik selama kunjungannya di Arab Saudi.
Menurut kantor berita reuters, mengutip perkataan Hasan Asyraf, salah seorang staf Syekh Thantawi mengatakan bahwa Syekh Washil Hasan yang selama ini menjadi wakil Syekh Al-Azhar secara otomatis langsung memegang kendali sementara dalam kewenangan urusan yayasan Al-Azhar. Akan tetapi beberapa petinggi di Al-Azhar memprediksikan jabatan Grand Syekh Al-Azhar yang baru akan diisi oleh Syekh Dr. Muhammad Ali Jum’ah yang saat ini menjabat sebagai Mufti Negara Mesir. Namun demikian yang berkuasa penuh dalam pengangkatan Syekh Al-Azhar yang baru akan ditunjuk langsung oleh Presiden Mesir Husni Mubarak.

Kisah perjalanan hidup Syekh Thantawi


Syekh Thantawi dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di desa Salim Timur, distrik Tama, provinsi Suhaj, dan beliau belajar serta menghafal Al-Quran di kota Alexandria.
Beliau menerima gelar doktor dalam ilmu hadits dan tafsir pada tahun 1966 dengan prediket Cumlaude, kemudian bekerja sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin, dan kemudian ditugaskan untuk mengajar di Libya Arab Jamahiriya selama 4 tahun, kemudian bekerja sebagai dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Islam di Madinah.
Penunjukkan Dr. Muhammad Sayyid Thantawi sebagai Mufti Negara Mesir pada tanggal 28 Oktober 1986, dan menduduki posisi ini sampai beliau diangkat sebagai Syekh Universitas Al-Azhar pada tahun 1996. Menggantikan Syekh Jad al-Haq Ali Jad al-Haq.
Syekh Tantawi adalah salah satu dari Ulama Al-Azhar yang paling mulia dan paling disiplin dalam ilmu, terutama dalam ilmu tafsir.
Terlihat kepemimpinannya bagi Yayasan Al-Azhar yaitu sejumlah sikap yang memicu perdebatan yang luas di tengah-tengah masyarakat Mesir, dan pengaruh pendapatnya yang moderat terhadap kaum militan, seperti keputusan untuk melarang pemakaian niqab (baca: cadar) di suatu kelas pada akhir tahun lalu.
Syekh Thantawi telah terkejut di tengah-tengah kunjungannya ke Ma’had Azhar di Nasr City, utara-timur Kairo dengan salah seorang siswi di kelas dua yang mengenakan niqab di dalam ruang kelas kemudian beliau memerintahkan siswi tersebut untuk melepaskannya.
Dikutip oleh laporan media bahwa beliau mengatakan di depan para siswi bahwa "Niqab hanya sebuah adat dan tidak ada hubungannya dengan agama Islam, dari dekat atau jauh."
Langkah ini dipandang sebagai sebuah bagian dari perjuangan menciptakan Islam moderat yang diperjuangkan oleh Negara, namun memicu amarah kalangan Islam radikal di Mesir.
Namun demikian beliau adalah ulama yang sangat mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok atau pribadi, dan tidak asal mengeluarkan fatwa-fatwa melainkan karena tuntutan situasi dan kondisi yang penting serta masih banyak lagi keunggulan serta jasa beliau dalam memajukkan umat Islam di Mesir maupun di seluruh dunia.
Kullu nafsin dzaiqatul maut ... Mudah-mudahan segala amal perbuatan beliau diterima di sisi Allah ‘azza wajalla, dan ditempatkan di Raudhah-Nya. Amin ya robbal ‘alamin.

Friday, February 26, 2010

Benarkah Shalahuddin Al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi shalallahu’alaihi wa sallam?


Alkisah

Ada sebuah kisah yang cukup masyhur tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Shalahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan Maulid Nabi. Dan itu adalah peringatan Maulid Nabi yang pertama kali di muka bumi.

Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Shalahuddin al-Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan Malam Maulid Nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?

Kedustaan Kisah Ini

Anggapan bahwa Imam Shalahuddin al-Ayyubi adalah pencetus peringatan Malam Maulid Nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Shalahuddin al-Ayyubi- menyebutkan bahwa beliaulah yang pertama kali memperingati Malam Maulid Nabi.

Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati Malam Maulid Nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.

Merekalah yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al-Miqrizi dalam al-Khuthath: 1/280, al-Qalqasyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as-Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhait al-Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadharat beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

Imam Ahmad bin Ali al-Miqrizi berkata: “Para Khalifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari Asyura, perayaan Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Tholib, Maulid Hasan, Maulid Husein, maupun Maulid Fathimah az-Zahra, dan Maulid khalifah. (Juga ada) perayaan awal Rajab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan penutup Ramadhan…” [al Mawa’izh:1/490]

Kalau ada yang masih mempertanyakan: Bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan Maulid Nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhaffar penguasa daerah Irbil?

Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al-Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa Raja Mudhaffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al-Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al-Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al-Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.

Adapun klaim bahwa Raja Mudhaffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang se-zaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda.

Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat Raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al-Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar. Al-Fakihani – tahqiq Syekh Ali- yang tercetak dalam Rasa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8].

Alhasil, pengingatan Maulid Nabi pertama kali dirayakan oleh para Raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362 H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al-Mula oleh Raja Mudhaffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhaffar berkata: “Dia merayakan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal dengan amat mewah. As-Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir di sana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhaffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan …”

Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang Raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”

Ibnu Khalikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shafar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang di tempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila Maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba di lapangan.” Dan pada malam Maulid, raja mengadakan nyanyian setelah shalat maghrib di benteng.”

Setelah penjelasan di atas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Shalahuddin al-Ayyubi adalah penggagas Maulid Nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

Siapakah Gerangan Shalahuddin al-Ayyubi [2]

Beliau adalah Sultan Agung Shalahuddin Abul Muzhaffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad-Duwini. Beliau lahir di Tikrit pada 532 H. karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.

Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thahir as-Silafi, al-Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thahir bin Auf, dan lainnya.

Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu dikuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.

Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.

Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Shalahuddin al-Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak-porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.

Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Shalahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”

Adz-Dzahabi berkata: “Keutamaan Shalahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”

Shalahuddin al-Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shafar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.

________
Footnote:

[1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hukum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”

[2] Disarikan dari Siyaru A’lam an-Nubala: 15/434 no.5301

Sumber: Diketik ulang dari Majalah Al-Furqan Edisi 09 Thn.XIII, Rabi’uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58 [di salin dari: http://alqiyamah.wordpress.com/]
Tulisan ini telah diedit gaya penulisannya oleh: Irhamni Rofiun.

Tuesday, February 23, 2010

Biografi Singkat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Pemimpin Para Da'i




Biografi

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911 M. – 17 Juni 1998 M.) merupakan salah satu ahli tafsir Alquran yang terkenal pada masa modern dan merupakan Imam pada masa kini, beliau memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan masalah agama dengan sangat mudah dan sederhana, beliau juga memiliki usaha yang luar biasa besar dan mulia dalam bidang dakwah Islam. Beliau dikenal dengan metodenya yang bagus dan mudah dalam menafsirkan Alquran, dan memfokuskannya atas titik-titik keimanan dalam menafsirkannya, hal tersebutlah yang menjadikannya dekat dengan hati manusia, terkhusus metodenya sangat sesuai bagi seluruh kalangan dan kebudayaan, sehingga beliau dianggap memiliki kepribadian muslim yang lebih mencintai dan menghormati Mesir dan dunia arab. Oleh karena itu beliau diberi gelar Imam Ad-Du'âti (baca: Pemimpin Para Da'i).

Kelahiran dan Pendidikan

Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi dilahirkan pada tanggal 16 April tahun 1911 M. di desa Daqadus, distrik Mith Ghamr, provinsi Daqahlia, Republik Arab Mesir. Dalam usia 11 tahun beliau sudah hafal Alquran. Syekh Asy-Sya’râwi terdaftar di Madrasah Ibtidaiyah (baca: lembaga pendidikan dasar) al-Azhar, Zaqaziq pada tahun 1926 M. Sejak beliau kecil, sudah timbul kecerdasannya dalam menghafal sya'ir (baca: puisi) dan pepatah arab dari sebuah perkataan dan hikmah, kemudian mendapatkan ijazah Madrasah Ibtidaiyah al-Azhar pada tahun 1923 M. Dan memasuki Madrasah Tsanawiyah (baca: lembaga pendidikan menengah), bertambahlah minatnya dalam syair dan sastra, dan beliau telah mendapatkan tempat khusus di antara rekan-rekannya, serta terpilih sebagai ketua persatuan mahasiswa dan menjadi ketua perkumpulan sastrawan di Zaqaziq. Dan bersamanya pada waktu itu Dr. Muhammad Abdul Mun’im Khafaji, penyair Thahir Abu Fasya, Prof. Khalid Muhammad Khalid, Dr. Ahmad Haikal dan Dr. Hassan Gad. Mereka memperlihatkan kepadanya apa yang mereka tulis. Hal itulah yang menjadi titik perubahan kehidupan Syekh Asy-Sya’râwi, ketika orang tuanya ingin mendaftarkan dirinya di al-Azhar, Kairo. Syekh Asy-Sya’râwi ingin tinggal dengan saudara-saudaranya untuk bertani, namun orang tuanya mendesaknya untuk menemaninya ke Kairo, dan membayar segala keperluan serta mempersiapkan tempat untuk tempat tinggalnya. Syekh Asy-Sya’râwi memberikan syarat kepada orang tuanya agar membelikan sejumlah buku-buku induk dalam literatur klasik, bahasa, sains Alquran, tafsir, hadits, sebagai jenis dari melemahkannya sampai orang tuanya merestuinya dengan sekembalinya ke desa asal. Tetapi ayahnya cerdas pada trik tersebut, dan membeli apa yang diminta kepadanya, sambil mengatakan: “Aku tahu anakku bahwa semua buku-buku tersebut tidak diwajibkan untuk kamu, tapi aku memilih untuk membelinya dalam rangka memberikan ilmu pengetahuan yang menarik agar kamu haus dengan ilmu”. Tidak ada di hadapan Syekh, kecuali untuk patuh kepada ayahnya, dan menjadi sebuah tantangan keinginan untuk kembali ke desa dengan cara mengeruk ilmu sebanyak-banyaknya serta menelan sekaligus semua yang terjadi padanya dari ilmu-ilmu di depan matanya. Asy-Sya’râwi terdaftar di Fakultas Bahasa Arab tahun 1937 M., dan beliau sibuk dengan gerakan nasional dan gerakan al-Azhar. Pada tahun 1919 M. revolusi pecah di al-Azhar, kemudian al-Azhar mengeluarkan pengumuman yang mencerminkan kejengkelan orang Mesir melawan penjajah Inggris. Institut Zaqaziq tidak jauh dari benteng al-Azhar yang luhur di Kairo, Syekh Asy-Sya’râwi bersama rekan-rekannya berjalan menuju halaman al-Azhar dan sekitarnya, dan menyampaikan orasi dari sesuatu yang mendemonstrasikannya pada penahanan yang lebih dari sekali, dan pada saat itu beliau sebagai Ketua Persatuan Mahasiswa pada tahun 1934 M.

Fase Karir

Syekh Asy-Sya’râwi tamat pada tahun 1940 M. Dan meraih gelar strata satunya serta diizinkan mengajar pada tahun 1943 M. Setelah tamat Syekh Asy-Sya’râwi ditugaskan ke pesantren agama di Thanta. Setelah itu beliau dipindahkan ke pesantren agama di Zaqaziq, kemudian pesantren agama di Iskandaria. Setelah masa pengalaman yang panjang, Syekh Asy-Sya’râwi pindah untuk bekerja di Saudi Arabia pada tahun 1950 M. sebagai dosen syari'ah di Universitas Ummu al-Qurro. Dan Syekh Asy-Sya’râwi terpaksa mengajar materi aqidah meskipun spesialisasinya dalam bidang bahasa, dan pada dasarnya ini menimbulkan kesulitan yang besar, akan tetapi Syekh Asy-Sya’râwi bisa mengatasinya dengan keunggulan yang ada pada dirinya dengan prestasi yang tinggi, dan karena pengaruh itu Presiden Jamal Abdul Naser melarang Syekh Asy-Sya’râwi untuk kembali ke Saudi Arabia. Dan pada tahun 1963 M. terjadi perselisihan antara Presiden Jamal Abdul Naser dan Raja Saudi. Setelah itu Syekh Asy-Sya’râwi mendapatkan penghargaan dan ditugaskan di Kairo sebagai Direktur di kantor Syekh al-Azhar Syekh Husein Ma'mun. Kemudian Syekh Asy-Sya’râwi pergi ke Algeria sebagai ketua duta al-Azhar di sana dan menetap selama tujuh tahun, dan kembali lagi ke Kairo untuk ditugaskan sebagai Kepala Departemen Agama provinsi Gharbiyah, kemudian beliau menjadi Wakil Dakwah dan Pemikiran, serta menjadi utusan al-Azhar untuk kedua kalinya ke Kerajaan Saudi Arabia, mengajar di Universitas King Abdul Aziz. Pada bulan November 1976 M. Perdana Menteri Sayyid Mamduh Salim memilih anggota kementeriannya, Syekh Asy-Sya’râwi ditugaskan untuk Departemen (urusan) Wakaf dan Urusan al-Azhar (baca: setingkat Menteri Agama di Indonesia) sampai bulan Oktober 1978 M. Setelah meninggalkan pengaruh yang bagus bagi kehidupan ekonomi di Mesir, beliaulah yang pertama kali mengeluarkan keputusan menteri tentang pembuatan bank Islam pertama di Mesir yaitu Bank Faisal, dan ini merupakan wewenang Menteri Ekonomi dan Keuangan Dr. Hamid Sayih pada masa ini yang diserahkan kepadanya dan disetujui oleh anggota parlemen Mesir.

Keluarga Syekh Asy-Sya’râwi
Beliau telah menikah tatkala sekolah dasar karena kemauan orang tuanya yang telah memilih pasangan untuknya, dan Syekh Asy-Sya’râwi setuju atas pilihan orang tuanya tersebut, dan itu pilihan yang bagus yang tidak mengecewakan kehidupannya. Kemudian beliau dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri. Anak laki-lakinya: Sami, Abdul Rahim dan Ahmad. Dan anak perempuannya: Fathimah dan Sholihah. Syekh Asy-Sya’râwi berpendapat bahwa sesungguhnya faktor utama keberhasilan pernikahan adalah ikhtiar dan kerelaan kedua belah pihak. Mengenai pendidikan anaknya dia berkata: Yang terpenting dalam mendidik anak adalah suri tauladan, seandainya didapatkan suri tauladan yang baik maka seorang anak akan menjadikannya sebagai contoh, kemudian tindakan apapun terhadap tingkah laku yang jelek memungkinkan akan menghancurkannya. Maka seorang anak harus dicermatinya dengan baik, dan di sana terdapat perbedaan antara mengajari anak dan mendidiknya sebagai barometer kehidupan. Seorang anak jika tidak bergerak kemampuannya dan bersiap untuk menerima dan menampung sesuatu yang disekitarnya, artinya apabila tidak siap telinganya untuk mendengar, dan kedua matanya untuk melihat, dan hidungnya untuk mencium, dan ujung-ujung jarinya untuk menyentuh, maka kita wajib menjaga seluruh kemampuannya dengan tingkah laku kita yang mendidik bersamanya dan di depannya. Oleh karena itu, kita harus menjaga telinganya dari setiap perkataan yang jelek, dan menjaga matanya dari setiap pemandangan yang merusak. Dan apabila kita ingin mendidik anak-anak kita dengan pendidikan islami, caranya dengan menerapkan ajaran Islam dalam menunaikan setiap kewajiban, terampil dalam bekerja, menunaikan salat pada waktunya, dan ketika kita memulai makan maka kita memulainya dengan menyebutkan Bismillah, dan ketika kita selesai makan maka kita mengucapkan Alhamdulillah. Apabila anak melihat kita dan kita mengerjakan yang demikian itu maka dia akan mengikutinya juga yang lainnya. Tapi jika anak itu tidak mengambil pelajaran dalam hal ini, maka tindakan lebih penting daripada omongan belaka.

Penghargaan yang pernah diraihnya

Imam Asy-Sya’râwi diberikan tanda penghargaan pertama pada usia pensiunnya pada tanggal 15 Maret 1976 M. sebelum ditugaskan menjadi Menteri Wakaf dan Urusan al-Azhar. Mendapatkan penghargaan nasional tingkat pertama pada tahun 1983 M. dan tahun 1988 M., dan pada hari Da'i Nasional beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa pada bidang sastra dari Universitas Manshurah dan Universitas al-Azhar Daqahlia. Organisasi Konferensi Islam di Makkah al-Mukarramah memilihnya sebagai anggota komite tetap untuk konferensi keajaiban ilmu dalam Alquran dan Sunnah Nabawi, yang disusun oleh Organisasi Konferensi Islam, dan beliau ditugaskan untuk memilih juri-juri pada bidang agama dan keilmuan yang berbeda-beda, untuk menilai makalah-makalah yang masuk dalam konferensi. Sejumlah karya-karya universitas menulis tentang dirinya di antaranya tesis magister mengenainya di Universitas Minya, Fakultas Pendidikan, Jurusan Dasar-dasar Pendidikan, dan tesis tersebut mencakup informasi dari pendapat-pendapat pendidikan pada Syekh Asy-Sya’râwi dalam faktor perkembangan pendidikan modern di Mesir. Provinsi Daqahlia menjadikannya sebagai tokoh pameran kebudayaan pada tahun 1989 M. dan yang diselenggarakan setiap tahun untuk memberikan penghargaan putra-putri Daqahlia. Provinsi Daqahlia mempublikasikan suatu perlombaan untuk meraih penghargaan penghormatan dan motifasi tentang kehidupannya, pekerjaannya dan tingkatannya dalam dakwah Islam pada lingkup Nasional dan Internasional, dan diberikan uang yang berlimpah bagi yang mengikuti perlombaan tersebut.

Hasil Karya Syekh Asy-Sya’râwi

Syekh Asy-Sya’râwi mempunyai sejumlah karangan-karangan, beberapa orang yang mencintainya mengumpulkan dan menyusunnya untuk disebarluaskan, sedangkan hasil karya yang paling populer dan yang paling fenomenal adalah Tafsir Asy-Sya’râwi terhadap Alquran yang Mulia. Dan di antara sebagian hasil karyanya adalah:

1. Al-Isrâu wa al- Mi'râju (Isra dan Mi'raj),
2. Asrâru Bismillâhirrahmânirrahîmi (Rahasia dibalik kalimat Bismillahirrahmanirrahim),
3. Al-Islâmu wa al-Fikru al-Mu'ashiri (Islam dan Pemikiran Modern),
4. Al-Islâmu wa al-Mar'átu, 'Aqîdatun wa Manĥajun (Islam dan Perempuan, Akidah dan Metode),
5. Asy- Syûrâ wa at-Tasyrî'u fî al-Islâmi (Musyawarah dan Pensyariatan dalam Islam),
6. Ash-Shalâtu wa Arkânu al-Islâmi (Shalat dan Rukun-rukun Islam),
7. Ath-Tharîqu ila Allâh (Jalan Menuju Allah),
8. Al-Fatâwâ (Fatwa-fatwa),
9. Labbayka Allâhumma Labbayka (Ya Allah Kami Memenuhi Panggilan-Mu),
10. Suâlu wa Jawâbu fî al-Fiqhi al-Islâmî 100 (100 Soal Jawab Fiqih Islam),
11. Al-Mar'átu Kamâ Arâdahâ Allâhu (Perempuan Sebagaimana Yang Diinginkan Allah),
12. Mu'jizatu al-Qurâni (Kemukjizatan Alquran),
13. Min Faydhi al-Qurâni (Diantara Limpahan Hikmah Alquran),
14. Nazharâtu al-Qurâni (Pandangan-pandangan Alquran),
15. 'Ala Mâídati al-Fikri al-Islâmî (Di atas Hidangan Pemikiran Islam),
16. Al-Qadhâu wa al-Qadaru (Qadha dan Qadar),
17. Ĥâdzâ Ĥuwa al-Islâmu (Inilah Islam),
18. Al-Muntakhabu fi Tafsîri al-Qurâni al-Karîmi (Pilihan dari Tafsir Alquran Alkarim).

Referensi: Muntadayâtu Syabâbi Mishra – Al-Muntadayâtu al-Islâmiyyatu – Fî Rihâbi al-Islâmi – Muntadâ Qashashu al-Anbiyâi wa al-Mursalîna – Al-Imamu Muhammad Mutawallî Asy-Sya'râwî: Musyâhadatu an-Nuskhati Kamilatan. http://www.egyguys.com/.

Ar-Rajulu La Yansâ At-Târikh
Irhamni Rofi'un.