Tuesday, February 23, 2010

Biografi Singkat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Pemimpin Para Da'i




Biografi

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911 M. – 17 Juni 1998 M.) merupakan salah satu ahli tafsir Alquran yang terkenal pada masa modern dan merupakan Imam pada masa kini, beliau memiliki kemampuan untuk menginterpretasikan masalah agama dengan sangat mudah dan sederhana, beliau juga memiliki usaha yang luar biasa besar dan mulia dalam bidang dakwah Islam. Beliau dikenal dengan metodenya yang bagus dan mudah dalam menafsirkan Alquran, dan memfokuskannya atas titik-titik keimanan dalam menafsirkannya, hal tersebutlah yang menjadikannya dekat dengan hati manusia, terkhusus metodenya sangat sesuai bagi seluruh kalangan dan kebudayaan, sehingga beliau dianggap memiliki kepribadian muslim yang lebih mencintai dan menghormati Mesir dan dunia arab. Oleh karena itu beliau diberi gelar Imam Ad-Du'âti (baca: Pemimpin Para Da'i).

Kelahiran dan Pendidikan

Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi dilahirkan pada tanggal 16 April tahun 1911 M. di desa Daqadus, distrik Mith Ghamr, provinsi Daqahlia, Republik Arab Mesir. Dalam usia 11 tahun beliau sudah hafal Alquran. Syekh Asy-Sya’râwi terdaftar di Madrasah Ibtidaiyah (baca: lembaga pendidikan dasar) al-Azhar, Zaqaziq pada tahun 1926 M. Sejak beliau kecil, sudah timbul kecerdasannya dalam menghafal sya'ir (baca: puisi) dan pepatah arab dari sebuah perkataan dan hikmah, kemudian mendapatkan ijazah Madrasah Ibtidaiyah al-Azhar pada tahun 1923 M. Dan memasuki Madrasah Tsanawiyah (baca: lembaga pendidikan menengah), bertambahlah minatnya dalam syair dan sastra, dan beliau telah mendapatkan tempat khusus di antara rekan-rekannya, serta terpilih sebagai ketua persatuan mahasiswa dan menjadi ketua perkumpulan sastrawan di Zaqaziq. Dan bersamanya pada waktu itu Dr. Muhammad Abdul Mun’im Khafaji, penyair Thahir Abu Fasya, Prof. Khalid Muhammad Khalid, Dr. Ahmad Haikal dan Dr. Hassan Gad. Mereka memperlihatkan kepadanya apa yang mereka tulis. Hal itulah yang menjadi titik perubahan kehidupan Syekh Asy-Sya’râwi, ketika orang tuanya ingin mendaftarkan dirinya di al-Azhar, Kairo. Syekh Asy-Sya’râwi ingin tinggal dengan saudara-saudaranya untuk bertani, namun orang tuanya mendesaknya untuk menemaninya ke Kairo, dan membayar segala keperluan serta mempersiapkan tempat untuk tempat tinggalnya. Syekh Asy-Sya’râwi memberikan syarat kepada orang tuanya agar membelikan sejumlah buku-buku induk dalam literatur klasik, bahasa, sains Alquran, tafsir, hadits, sebagai jenis dari melemahkannya sampai orang tuanya merestuinya dengan sekembalinya ke desa asal. Tetapi ayahnya cerdas pada trik tersebut, dan membeli apa yang diminta kepadanya, sambil mengatakan: “Aku tahu anakku bahwa semua buku-buku tersebut tidak diwajibkan untuk kamu, tapi aku memilih untuk membelinya dalam rangka memberikan ilmu pengetahuan yang menarik agar kamu haus dengan ilmu”. Tidak ada di hadapan Syekh, kecuali untuk patuh kepada ayahnya, dan menjadi sebuah tantangan keinginan untuk kembali ke desa dengan cara mengeruk ilmu sebanyak-banyaknya serta menelan sekaligus semua yang terjadi padanya dari ilmu-ilmu di depan matanya. Asy-Sya’râwi terdaftar di Fakultas Bahasa Arab tahun 1937 M., dan beliau sibuk dengan gerakan nasional dan gerakan al-Azhar. Pada tahun 1919 M. revolusi pecah di al-Azhar, kemudian al-Azhar mengeluarkan pengumuman yang mencerminkan kejengkelan orang Mesir melawan penjajah Inggris. Institut Zaqaziq tidak jauh dari benteng al-Azhar yang luhur di Kairo, Syekh Asy-Sya’râwi bersama rekan-rekannya berjalan menuju halaman al-Azhar dan sekitarnya, dan menyampaikan orasi dari sesuatu yang mendemonstrasikannya pada penahanan yang lebih dari sekali, dan pada saat itu beliau sebagai Ketua Persatuan Mahasiswa pada tahun 1934 M.

Fase Karir

Syekh Asy-Sya’râwi tamat pada tahun 1940 M. Dan meraih gelar strata satunya serta diizinkan mengajar pada tahun 1943 M. Setelah tamat Syekh Asy-Sya’râwi ditugaskan ke pesantren agama di Thanta. Setelah itu beliau dipindahkan ke pesantren agama di Zaqaziq, kemudian pesantren agama di Iskandaria. Setelah masa pengalaman yang panjang, Syekh Asy-Sya’râwi pindah untuk bekerja di Saudi Arabia pada tahun 1950 M. sebagai dosen syari'ah di Universitas Ummu al-Qurro. Dan Syekh Asy-Sya’râwi terpaksa mengajar materi aqidah meskipun spesialisasinya dalam bidang bahasa, dan pada dasarnya ini menimbulkan kesulitan yang besar, akan tetapi Syekh Asy-Sya’râwi bisa mengatasinya dengan keunggulan yang ada pada dirinya dengan prestasi yang tinggi, dan karena pengaruh itu Presiden Jamal Abdul Naser melarang Syekh Asy-Sya’râwi untuk kembali ke Saudi Arabia. Dan pada tahun 1963 M. terjadi perselisihan antara Presiden Jamal Abdul Naser dan Raja Saudi. Setelah itu Syekh Asy-Sya’râwi mendapatkan penghargaan dan ditugaskan di Kairo sebagai Direktur di kantor Syekh al-Azhar Syekh Husein Ma'mun. Kemudian Syekh Asy-Sya’râwi pergi ke Algeria sebagai ketua duta al-Azhar di sana dan menetap selama tujuh tahun, dan kembali lagi ke Kairo untuk ditugaskan sebagai Kepala Departemen Agama provinsi Gharbiyah, kemudian beliau menjadi Wakil Dakwah dan Pemikiran, serta menjadi utusan al-Azhar untuk kedua kalinya ke Kerajaan Saudi Arabia, mengajar di Universitas King Abdul Aziz. Pada bulan November 1976 M. Perdana Menteri Sayyid Mamduh Salim memilih anggota kementeriannya, Syekh Asy-Sya’râwi ditugaskan untuk Departemen (urusan) Wakaf dan Urusan al-Azhar (baca: setingkat Menteri Agama di Indonesia) sampai bulan Oktober 1978 M. Setelah meninggalkan pengaruh yang bagus bagi kehidupan ekonomi di Mesir, beliaulah yang pertama kali mengeluarkan keputusan menteri tentang pembuatan bank Islam pertama di Mesir yaitu Bank Faisal, dan ini merupakan wewenang Menteri Ekonomi dan Keuangan Dr. Hamid Sayih pada masa ini yang diserahkan kepadanya dan disetujui oleh anggota parlemen Mesir.

Keluarga Syekh Asy-Sya’râwi
Beliau telah menikah tatkala sekolah dasar karena kemauan orang tuanya yang telah memilih pasangan untuknya, dan Syekh Asy-Sya’râwi setuju atas pilihan orang tuanya tersebut, dan itu pilihan yang bagus yang tidak mengecewakan kehidupannya. Kemudian beliau dikaruniai tiga orang putra dan dua orang putri. Anak laki-lakinya: Sami, Abdul Rahim dan Ahmad. Dan anak perempuannya: Fathimah dan Sholihah. Syekh Asy-Sya’râwi berpendapat bahwa sesungguhnya faktor utama keberhasilan pernikahan adalah ikhtiar dan kerelaan kedua belah pihak. Mengenai pendidikan anaknya dia berkata: Yang terpenting dalam mendidik anak adalah suri tauladan, seandainya didapatkan suri tauladan yang baik maka seorang anak akan menjadikannya sebagai contoh, kemudian tindakan apapun terhadap tingkah laku yang jelek memungkinkan akan menghancurkannya. Maka seorang anak harus dicermatinya dengan baik, dan di sana terdapat perbedaan antara mengajari anak dan mendidiknya sebagai barometer kehidupan. Seorang anak jika tidak bergerak kemampuannya dan bersiap untuk menerima dan menampung sesuatu yang disekitarnya, artinya apabila tidak siap telinganya untuk mendengar, dan kedua matanya untuk melihat, dan hidungnya untuk mencium, dan ujung-ujung jarinya untuk menyentuh, maka kita wajib menjaga seluruh kemampuannya dengan tingkah laku kita yang mendidik bersamanya dan di depannya. Oleh karena itu, kita harus menjaga telinganya dari setiap perkataan yang jelek, dan menjaga matanya dari setiap pemandangan yang merusak. Dan apabila kita ingin mendidik anak-anak kita dengan pendidikan islami, caranya dengan menerapkan ajaran Islam dalam menunaikan setiap kewajiban, terampil dalam bekerja, menunaikan salat pada waktunya, dan ketika kita memulai makan maka kita memulainya dengan menyebutkan Bismillah, dan ketika kita selesai makan maka kita mengucapkan Alhamdulillah. Apabila anak melihat kita dan kita mengerjakan yang demikian itu maka dia akan mengikutinya juga yang lainnya. Tapi jika anak itu tidak mengambil pelajaran dalam hal ini, maka tindakan lebih penting daripada omongan belaka.

Penghargaan yang pernah diraihnya

Imam Asy-Sya’râwi diberikan tanda penghargaan pertama pada usia pensiunnya pada tanggal 15 Maret 1976 M. sebelum ditugaskan menjadi Menteri Wakaf dan Urusan al-Azhar. Mendapatkan penghargaan nasional tingkat pertama pada tahun 1983 M. dan tahun 1988 M., dan pada hari Da'i Nasional beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa pada bidang sastra dari Universitas Manshurah dan Universitas al-Azhar Daqahlia. Organisasi Konferensi Islam di Makkah al-Mukarramah memilihnya sebagai anggota komite tetap untuk konferensi keajaiban ilmu dalam Alquran dan Sunnah Nabawi, yang disusun oleh Organisasi Konferensi Islam, dan beliau ditugaskan untuk memilih juri-juri pada bidang agama dan keilmuan yang berbeda-beda, untuk menilai makalah-makalah yang masuk dalam konferensi. Sejumlah karya-karya universitas menulis tentang dirinya di antaranya tesis magister mengenainya di Universitas Minya, Fakultas Pendidikan, Jurusan Dasar-dasar Pendidikan, dan tesis tersebut mencakup informasi dari pendapat-pendapat pendidikan pada Syekh Asy-Sya’râwi dalam faktor perkembangan pendidikan modern di Mesir. Provinsi Daqahlia menjadikannya sebagai tokoh pameran kebudayaan pada tahun 1989 M. dan yang diselenggarakan setiap tahun untuk memberikan penghargaan putra-putri Daqahlia. Provinsi Daqahlia mempublikasikan suatu perlombaan untuk meraih penghargaan penghormatan dan motifasi tentang kehidupannya, pekerjaannya dan tingkatannya dalam dakwah Islam pada lingkup Nasional dan Internasional, dan diberikan uang yang berlimpah bagi yang mengikuti perlombaan tersebut.

Hasil Karya Syekh Asy-Sya’râwi

Syekh Asy-Sya’râwi mempunyai sejumlah karangan-karangan, beberapa orang yang mencintainya mengumpulkan dan menyusunnya untuk disebarluaskan, sedangkan hasil karya yang paling populer dan yang paling fenomenal adalah Tafsir Asy-Sya’râwi terhadap Alquran yang Mulia. Dan di antara sebagian hasil karyanya adalah:

1. Al-Isrâu wa al- Mi'râju (Isra dan Mi'raj),
2. Asrâru Bismillâhirrahmânirrahîmi (Rahasia dibalik kalimat Bismillahirrahmanirrahim),
3. Al-Islâmu wa al-Fikru al-Mu'ashiri (Islam dan Pemikiran Modern),
4. Al-Islâmu wa al-Mar'átu, 'Aqîdatun wa Manĥajun (Islam dan Perempuan, Akidah dan Metode),
5. Asy- Syûrâ wa at-Tasyrî'u fî al-Islâmi (Musyawarah dan Pensyariatan dalam Islam),
6. Ash-Shalâtu wa Arkânu al-Islâmi (Shalat dan Rukun-rukun Islam),
7. Ath-Tharîqu ila Allâh (Jalan Menuju Allah),
8. Al-Fatâwâ (Fatwa-fatwa),
9. Labbayka Allâhumma Labbayka (Ya Allah Kami Memenuhi Panggilan-Mu),
10. Suâlu wa Jawâbu fî al-Fiqhi al-Islâmî 100 (100 Soal Jawab Fiqih Islam),
11. Al-Mar'átu Kamâ Arâdahâ Allâhu (Perempuan Sebagaimana Yang Diinginkan Allah),
12. Mu'jizatu al-Qurâni (Kemukjizatan Alquran),
13. Min Faydhi al-Qurâni (Diantara Limpahan Hikmah Alquran),
14. Nazharâtu al-Qurâni (Pandangan-pandangan Alquran),
15. 'Ala Mâídati al-Fikri al-Islâmî (Di atas Hidangan Pemikiran Islam),
16. Al-Qadhâu wa al-Qadaru (Qadha dan Qadar),
17. Ĥâdzâ Ĥuwa al-Islâmu (Inilah Islam),
18. Al-Muntakhabu fi Tafsîri al-Qurâni al-Karîmi (Pilihan dari Tafsir Alquran Alkarim).

Referensi: Muntadayâtu Syabâbi Mishra – Al-Muntadayâtu al-Islâmiyyatu – Fî Rihâbi al-Islâmi – Muntadâ Qashashu al-Anbiyâi wa al-Mursalîna – Al-Imamu Muhammad Mutawallî Asy-Sya'râwî: Musyâhadatu an-Nuskhati Kamilatan. http://www.egyguys.com/.

Ar-Rajulu La Yansâ At-Târikh
Irhamni Rofi'un.

4 comments:

  1. Maaf, saya tidak menemukan sumber asal tulisan ini. Mohon diletakkan untuk rujukan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  2. Maaf, saya tidak menemukan sumber asal tulisan ini. Mohon diletakkan untuk rujukan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  3. Maaf, saya tidak menemukan sumber asal tulisan ini. Mohon diletakkan untuk rujukan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Kebetulan saya menulis ini tahun 2010, dan kebetulan sewaktu saya di Mesir sempat tinggal di daerah qabr Syekh Mutawalli As-Sya'rawi, jadi langsung bertanya ke masyarakat sekitar dan ada juga referensi yang sudah saya tulis di akhir tulisan ini. Terima kasih, mohon maaf baru lihat. :)

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca postingan ini ... Silahkan tinggalkan pesan Anda.