Mufti Baru Mesir: Dr. Syauqi Ibrahim Abdul Karim
Senin (11/02), Dewan Petinggi Ulama Al-Azhar, yang diketuai oleh Syekh Ahmad Thayyib (Grand Syekh Al-Azhar), melakukan pertemuan tertutup guna membahas siapa pengganti Syekh Ali Jum’ah sebagai Grand Mufti Mesir, yang masa jabatannya akan selesai pada akhir Februari nanti ..
Ada Cinta di MTQ ..*
Unik, panggilan yang tak terduga ketika aku harus menghentikan sejenak pengembaraan mengais ilmu di Negeri Idaman sebagian para Cendikiawan, berat, meski akhirnya sampai juga di Negeri Suara Emas ..
Biografi Singkat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Pemimpin Para Da'i
Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911 M. – 17 Juni 1998 M.) merupakan salah satu ahli tafsir Alquran yang terkenal pada masa modern dan merupakan Imam pada masa kini ..
KH. A. Tajuddin Marzuki Tokoh Ulama Oejoeng Malang sekaligus Representatif Generasi Kedua Attaqwa
Tanda-tanda dicabutnya ilmu oleh Allah SWT adalah perginya para ulama. Sudah banyak ulama yang telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya ..
IELTS Class; Antara Jenuh dan Semangat
Pada Ahad beberapa minggu yang lalu, aku tiba di Pare, sebuah desa yang sudah terkenal dengan sebutan Kampung Inggris ..
Monday, April 07, 2014
Fenomena Golput Dalam Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia: Sebuah Korelasi Kajian Islam Terhadap Pemilu
Thursday, April 03, 2014
Talenta Kaum Muda Dalam Merebut Kepemimpinan Bangsa (Bedah Konsepsi Kepemimpinan Perspektif Al-Qur’an)
Pendahuluan
Tuesday, April 01, 2014
Membumikan Kepemimpinan Profetik
Wednesday, March 26, 2014
Inspiring Spirit Sultan Maulana Hasanuddin Banten Dalam Mewujudkan Masyarakat Sejahtera
Monday, March 24, 2014
Pesantren Transformatif: Mengais Serpihan Janji Demokrasi, Mengubur Kepemimpinan Transaksional
Tuesday, January 14, 2014
Jangan Panggil Muhammad!
Monday, January 13, 2014
Al-Azhar, Mesir dan Prediksi Al-Quran: Sebuah Doa dan Harapan
![]() |
| Menatap Menara Islam, Al-Azhar As-Syarif |
Wednesday, September 25, 2013
Pemugaran Makam Almarhum Uje: Wasiat Dahulu atau Mashlahah Mursalah?
Saturday, September 07, 2013
Dhuha & Istikharah
Jika mempunyai pekerjaan yang syubhat, ragu antara halal dan haram, tinggalkan! Banyak pekerjaan halal yang tidak menipu konsumen atau ummat. #Dhuha
Masa kamu mau memberi makan keluargamu dengan harta yang tidak disukai Allah, ingat itu akan berpengaruh dengan keturunanmu, juga berimbas kepada pola pikirnya. #Dhuha
Kisah dan Doa Memperoleh Keturunan yang Baik
Saudaraku yang dirahmati Allah, jangan berputus asa dari rahmat-Nya, biasakan berprasangka baik kepada-Nya, pertebal iman kembali, perbanyak ikhtiar diselingi doa dan tawakkal.
Friday, September 06, 2013
Miss World: Antara Humanisitas dan Religiusitas + Solusi Praktis Penulis
"Bersama tidak mesti sama. Dari ketidaksamaan itu akan muncul toleransi dalam menyikapi perbedaan, toh pada akhirnya akan hidup bersama-sama".
Tak mau ketinggalan informasi tentang perkembangan berita terkini di Indonesia yang sedang heboh -atau heboh sendiri?-, apalagi jika dibilang "Kudet" (Kurang Update). Oh tidak.
Monday, November 12, 2012
Bahaya Ghibah (Menggunjing)
Friday, July 02, 2010
Taklid Dalam Hukum Amaliyah Agama

Taklid menurut etimologi: Menaruh sesuatu pada leher mencangkup keseluruhannya, hal itu dinamakan dengan kalung.
Ibnu Manzhur dalam kitab Lisan al `Arab dikatakan: Kalung adalah sesuatu yang diletakkan di dalam leher, baik itu bagi manusia, kuda, anjing, unta atau sapi yang digemukkan dan selainnya. Firman Allah Ta`ala yang artinya: “Jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[1], dan binatang-binatang qalaa-id[2]” (QS. Al Maidah: 2)
[1] Ialah: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke ka'bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih di tanah Haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadah haji.
[2] Ialah: binatang had-ya yang diberi kalung, supaya diketahui orang bahwa binatang itu telah diperuntukkan untuk dibawa ke Ka'bah.
Imam As Syaukani berkata dalam kitab Irsyad al Fuhul: Permisalan seseorang yang bertaklid yaitu menjadikan suatu hukum yang menjadikan taklid dia pada seorang mujtahid seperti kalung di dalam leher orang yang bertaklid padanya.
Adapun Taklid menurut terminologi: Para ahli ushul fiqh menyebutkan sejumlah definisi taklid yang semuanya kembali kepada suatu istilah makna, yaitu mengambil perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya.
Yang demikian itu seperti orang yang menyapu se-perempat kepalanya dalam berwudhu, atau membaca qunut dalam shalat witir berdasarkan pendapat Imam Abu Hanifah.
Dan seperti orang yang menyapu seluruh kepalanya dalam berwudhu, hal tersebut bertaklid kepada Imam Malik tanpa meneliti lebih jauh dalil pedoman Imam Malik dalam menyapu seluruh kepala.
Taklid dalam Hukum Amaliyah Agama
Para ulama berselisih pendapat dalam kebolehan taklid dalam hukum amaliyah kepada tiga pendapat, di antaranya:
Pendapat pertama: Tidak boleh taklid secara mutlak dalam sisi manapun, yang diwajibkan adalah berpendapat dan berijtihad.
Setiap mukalaf berijtihad bagi dirinya sendiri pada sesuatu yang dihadapkan kepadanya dalam perkara agama, dan mengamalkan sesuatu yang telah dilakukannya dalam berijtihad.
Dalam kitab An Nubadz fi ushul fiqh karangan Ibnu Hazm dikatakan: Taklid haram, tidak boleh bagi seseorang mengambil perkataan orang lain tanpa dalil.
Ibnu Hazm juga berkata dalam kitab Al Ihkam fi Ushul Ahkam: Taklid haram semuanya dalam seluruh ajaran Islam, sejak awal sampai akhir, mulai dari ajaran ketuhanan sampai ajaran kenabian, masalah taqdir dan keimanan, ancaman, kepemimpinan, dan seluruh permasalahan ibadah dan hukum.
Dalil:
1. Allah `azza wajalla mengecam perbuatan taklid dalam suatu hikayat terhadap suatu kaum, yang artinya: "Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka" (QS. Az Zukhruf: 23)
Tidak mungkin kecaman menandakan kebolehan bertaklid.
Dalil tersebut dibantah bahwasanya yang dimaksud kecaman di sini adalah bertaklid dalam permasalahan aqidah dan segala hal lainnya yang dituntut untuk diketahui sebelumnya.
2. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Dan sabdanya yang lain: “ Ber`amallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya”.
Dua hadits tersebut umum pada setiap individu dan ilmu, maka keduanya menunjukkan kewajiban berijitihad dan berpandangan hukum.
Hadits pertama dibantah bahwasanya hal tersebut bukan pada tempat pertentangan, karena yang kita bicarakan di sini adalah permasalahan taklid dalam hal furu`iyah, dan makna ilmu dalam hadits adalah keyakinan, tidak dituntut secara global, tidak dalam berijtihad dan taklid.
Begitupun bantahan hadits kedua bahwa yang dibicarakan padanya meskipun umum kecuali bahwasanya mewajibkan kekhususan dan merampingkan atas orang yang telah memenuhi syarat berijtihad.
3. Seandainya orang awam diperintahkan untuk taklid maka dia tidak tentram bahwa orang yang diikutinya terdapat kesalahan dalam berijtihad atau berbohong atas apa yang diberitahukan kepadanya. Seorang awam diperintahkan untuk mengikuti kesalahan dan kebohongan itu dilarang dalam agama.
Bantahan dalil ini terangkum bahwasanya seorang awam apabila berijtihad kemudian merasa tidak tentram dari terjadinya kesalahan, hal tersebut hanyalah mendekati kepada kesalahan karena ketidakmampuannya, maka kesalahannya bersama-sama.
Pendapat kedua: Tidak boleh berijtihad, yang wajib adalah bertaklid setelah zaman imam mujtahid yang terjadi kesepakatan atas penyerahan ijtihad bagi mereka dan boleh mengikuti mereka.
Asy Syaukani dalam kitab Isyad al Fuhul berkata bahwa: Mengkomparasikan pendapat yang berkata tidak boleh yaitu sebagian Hasyawiyah, wajib mutlak dan haram berpandangan hukum. Mereka tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam diri mereka dari kebodohan sampai mewajibkannya atas diri mereka dan atas orang lain. Maka sesungguhnya taklid itu pembodohan dan tidak berilmu.
Pendapat ketiga: Merincikan antara seorang mujtahid dan orang awam. Tidak boleh taklid bagi seorang mujtahid, adapun bagi orang awam maka wajib taklid pada haknya. Ini merupakan pendapat mayoritas dari pengikut imam yang empat (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi`I dan Imam Hambali) dan pendapat yang rajih (kuat, menang) dalam pandanganku.
Dalil pendapat ini, antara lain:
1. Firman Allah ta`ala yang artinya: “Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui”.
Dalam ayat ini Allah `ajja wajalla memerintahkan kepada orang yang tidak tahu untuk bertanya kepada orang yang tahu, hal ini menunjukan secara pasti bahwasanya manusia itu terdiri dari orang yang berilmu dan orang yang bodoh, maka bagi orang yang bodoh bertanya kepada orang yang berilmu dari segala sesuatu yang dibutuhkan dan dan tidak diketahuinya.
Maka pembebanan semua manusia bahwa mereka menjadi mujtahid bertentangan dengan yang terkandung dalam ayat ini.
2. Sesungguhnya orang awam pada zaman shahabat dan tabi`in apabila terjadi peristiwa atau kejadian mereka langsung mendatangi para mujtahid dari kalangan shahabat atau tabi`in, mereka menjawab pertentangan dan perselisihan mereka sesuai dengan hukum Allah tanpa mengingkari pertanyaan dan interpretasinya. Hal yang demikian itu merupakan konsensus dari shahabat dan tabi`in bahwa orang yang tidak mampu berijtihad mereka tidak dibebani, dan cara mengetahui hukum-hukum yaitu bertanya kepada orang yang mampu dalam berijtihad.
Pembebanan manusia seluruhnya untuk berijtihad bertentangan dengan konsensus ulama ini.
3. Pembebanan manusia semuanya dalam berijtihad mengakibatkan mereka sibuk dengan kepentingan primer dan kehidupan duniawi, hal yang demikian itu merupakan kerusakan bagi segala kebutuhan manusia.
4. Ijtihad adalah sebuah kekuatan dan kekuasaan tidak boleh dilakukan kecuali bagi kekhususan ulama yang terpenuhi sebab-musababnya dan sempurna bagi mereka segala perantaranya.
Apabila dibebankan kepada orang yang tidak mampu maka yang demikian itu menjadi kebebanan yang bukan pada kesanggupannya. Pembebanan yang bukan pada kemampuannya tidak boleh ditinjau secara agama, sebagaimana firman Allah ta`ala yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286). Wallahu Warasulihi A`lam.
Friday, June 18, 2010
Ancaman dalam Menentukan Keputusan dan Peringatan dari padanya.*
Memberi keputusan itu mempunyai bahaya yang sangat besar dan kemudharatan yang sangat tinggi karena setiap jiwa itu cenderung kepada sesuatu yang dicintainya karena mengharapkan pangkat dan kehormatan atau takut kekuasaannya hancur kemudian mereka condong kepada 'pelicin'. Hal tersebut merupakan penyakit yang kronis dan bahaya.
Memberikan keputusan itu ibarat pedang yang memiliki dua ujung besi, yang kemungkinan besar dimanfaatkan untuk berbuat zalim dan curang, permusuhan dan dendam serta menghimpun harta sebanyak-banyaknya dan melenyapkan kebenaran.
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dalam hal ini memberikan peringatan keras dengan menjelaskan bahaya dan hukuman bagi yang melakukan hal abnormal tersebut, terdapat banyak hadits yang berkutat mengenai hal ini di antaranya tentang ancaman dan peringatan bagi yang mengendalikan keputusan, sebagai berikut:
- Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah menceritakan kepada kami Amru bin Al-Alaa' Asy-Syanni dari Abdil Qais berkata; Telah menceritakan kepadaku Shalih bin Saraj telah menceritakan kepadaku Imran bin Hitthan berkata; "Saya menemui Aisyah dan saya mengulang belajar padanya hingga saya menyebut mengenai seorang hakim." Lalu Aisyah berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. bersabda: "Sungguh akan datang kepada seorang hakim yang adil pada hari kiamat, saat yang mana dia berharap tidak pernah menghukumi antara dua orang sama sekali meskipun dalam (masalah) satu buah kurma." (HR. Ahmad No. 23324)
- Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Mujalid telah menceritakan kepada kami Amir dari Masruq dari Abdullah ia berkata sekali atau dua kali dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Tidak ada seorang hakim pun yang menegakkan hukum di antara manusia kecuali ia ditahan pada hari kiamat. Dan malaikat yang memegang tengkuknya hingga memberdirikannya di atas jahannam kemudian menengadahkan kepalanya kepada Allah 'azza wajalla, Jika Dia mengatakan: Ia berbuat salah, ia (malaikat) itu akan melemparkannya ke Jahannam hingga ia terjatuh selama empat puluh musim." (HR. Ahmad No. 3889)
- Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali telah mengabarkan kepada kami Bisyr bin Umar dari Abdullah bin Ja'far dari Utsman bin Muhammad Al Akhnasi dari Al Maqburi serta Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa dijadikan sebagai hakim di antara manusia, maka sungguh ia telah disembelih tanpa menggunakan pisau." (HR. Abu Daud No. 3101).
Segi pengambilan dalil dari hadits di atas:
Imam As Shan`ani berkata dalam kitab Subul as Salam: “ Hadits tersebut menunjukkan atas peringatan memasuki wilayah kekuasaan dalam memberikan sebuah keputusan, seperti petikan hadits di atas: Orang yang mengendalikan keputusan diibaratkan seperti menyembelih dirinya sendiri, kemudian diberikan peringatan agar tidak terjerumus ke dalamnya, sesungguhnya jika dia telah memberikan keputusan dengan mengabaikan kebenaran padahal mengetahui kebenaran tersebut atau bersama kebodohannya maka sungguh neraka lah tempat yang sesuai baginya.
Dalam kitab Al `Inayah Syarh al Hidayah dikatakan: Hal penyerupaan dalam memberikan keputusan dengan menyembelih tanpa pisau adalah bahwasanya pisau itu meninggalkan pengaruh di dalam zahir dan bathin semuanya, sedangkan menyembelih tanpa pisau meninggalkan bekas di dalam bathin saja yaitu dengan cara menghilangkan ruh dan tidak berpengaruh dalam zahirnya. Bahaya yang diakibatkan dalam hal memberikan keputusan tidak berpengaruh dalam zahir. Zahir nya memiliki pangkat dan kekuasaan akan tetapi bathinya hancur binasa.
Penulis berusaha untuk menenangkan diri kembali dengan kejadian yang sedang terjadi, yang mengakibatkan hak sebagian orang terampas karena ulah pemimpin yang abnormal. Peraturan yang dibuat terkesan sangat mewah bagi orang yang melihatnya, tapi hal itu hanya fatamorgana belaka dan usaha untuk melicinkan tanduk kepemimpinannya agar dianggap baik oleh khalayak ramai.
Semoga teman-teman seperjuangan yang merasa di zalimi dengan tingkatan di atasnya tetap sabar, tabah dan terus berusaha menegakkan sesuatu hal yang harus diterapkan. Berharap pemimpin abnormal tadi kembali normal dan sadar dengan apa yang telah dilakukannya itu tidak baik.
وأما القاسطون فكانوا لجهنم حطبا
Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, Maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Surah Al-Jinn Ayat: 15)
*Hakim, Presiden atau Seseorang yang memiliki kewenangan dalam mengendalikan keputusan.
Wallahu wa rasuluhu a`lam bi muradih.
Monday, May 31, 2010
Surat Ubbad bin Ubbad Al-Khawwas Asy-Syami (Advised to Read)
Sumber : Sunan Ad Darimi
Kitab : Kitab Mukaddimah
Bab : Surat Ubbad bin Ubbad Al-Khawwas Asy-Syami
No. Hadist : 647
Monday, May 24, 2010
Haram Membunuh Orang Kafir dan Wajib Dibunuh Orang Islam, Bingung??
حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا
Telah bercerita kepada kami Qais bin Hafsh telah bercerita kepada kami 'Abdul Wahid telah bercerita kepada kami Al Hasan bin 'Amru telah bercerita kepada kami Mujahid dari 'Abdullah bin 'Amru radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang membunuh mu'ahad (orang kafir yang terikat perjanjian) maka dia tidak akan mencium bau surga padahal sesungguhnya bau surga itu dapat dirasakan dari jarak empat puluh tahun perjalanan".
Takhrij Hadits:
Sumber : Shahih Bukhari
Kitab : Jizyah
Bab : Dosa orang yang membunuh kafir mu'ahad yang tidak berbuat kesalahan
No. Hadist : 3166
JALUR SANAD
Abdullah bin 'Amru bin Al
'Ash bin Wa'il
Mujahid bin Jabar
Al Hasan bin 'Amru
Abdul Wahid bin Ziyad
Qais bin Hafsh bin Al
Qa'qa'
Biografi Perawi Hadits (Tarjamah ar-Rawi al-A`la):
• Nama Lengkap : Qais bin Hafsh bin Al Qa'qa'
• Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
• Kuniyah : Abu Muhammad
• Negeri semasa hidup : Bashrah
• Wafat : 227 H
Hukum Sanad:
ULAMA KOMENTAR
Yahya bin Ma'in Tsiqah
Al 'Ajli la ba`sa bih
Abu Hatim Syaikh
Ad Daruquthni Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani Tsiqah lahu Afrad
Hadits Kedua:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ رَجُلٌ زَنَى بَعْدَ إِحْصَانٍ فَإِنَّهُ يُرْجَمُ وَرَجُلٌ خَرَجَ مُحَارِبًا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِنَّهُ يُقْتَلُ أَوْ يُصْلَبُ أَوْ يُنْفَى مِنْ الْأَرْضِ أَوْ يَقْتُلُ نَفْسًا فَيُقْتَلُ بِهَا
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al bahili berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abdul Aziz bin Rufai' dari Ubaid bin Umair dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah -yang berhak disembah- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; orang yang berzina setelah menikah, maka ia harus dirajam; seorang laki-laki yang keluar untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus dibunuh, disalib atau dibuang dari negri terebut. Serta seseorang yang membunuh orang lain maka harus dihukum mati karena membunuh."
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al bahili berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Thahman dari Abdul Aziz bin Rufai' dari Ubaid bin Umair dari 'Aisyah radliallahu 'anha ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah -yang berhak disembah- selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga sebab; orang yang berzina setelah menikah, maka ia harus dirajam; seorang laki-laki yang keluar untuk memerangi Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus dibunuh, disalib atau dibuang dari negri terebut. Serta seseorang yang membunuh orang lain maka harus dihukum mati karena membunuh."
Takhrij Hadits:
Sumber: Sunan Abu Daud
Kitab: Hudud
Bab: Hukum bagi orang yang murtad
No. Hadits: 4353
JALUR SANAD:
Aisyah binti Abi Bakar
Ash Shiddiq
Ubaid bin 'Umair bin
Qatadah bin Sa'id
Abdul 'Aziz bin Rufai'
Ibrahim bin Thahman bin
Syu'bah
Muhammad bin Sinan
Biografi Perawi Hadits (Tarjamah ar-Rawi al-A`la):
• Nama Lengkap : Muhammad bin Sinan
• Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan pertengahan
• Kuniyah : Abu Bakar
• Negeri semasa hidup : Bashrah
• Wafat : 223 H
Hukum Sanad:
ULAMA KOMENTAR
Yahya bin Ma'in Tsiqah
Abu Hatim Shaduuq
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani tsiqah tsabat
Derajat Hadits ini: Shahih (Menurut Imam Nashiruddin Al-Albani) Kitab Sunan Abu Daud Hal.780
أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ رُفَيْعٍ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثِ خِصَالٍ زَانٍ مُحْصَنٌ يُرْجَمُ أَوْ رَجُلٌ قَتَلَ رَجُلًا مُتَعَمِّدًا فَيُقْتَلُ أَوْ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ الْإِسْلَامِ يُحَارِبُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ فَيُقْتَلُ أَوْ يُصْلَبُ أَوْ يُنْفَى مِنْ الْأَرْضِ
Telah mengabarkan kepada kami Al Abbas bin Muhammad Ad Duri, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi dari Ibrahim bin Thahman dari Abdul Aziz bin Rafi' dari 'Ubaid bin 'Umair dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan salah satu dari tiga sifat, yaitu; pezina yang telah menikah, maka ia dirajam, atau seseorang yang membunuh orang lain dengan sengaja, maka ia dibunuh, atau seseorang yang keluar dari Islam, memerangi Allah 'azza wajalla dan RasulullahNya, maka ia dibunuh atau disalib atau disingkirkan dari negeri.
Takhrij Hadits:
Sumber : Sunan An-Nasa'i
Kitab : Kesucian darah
Bab : Penyaliban
No. Hadist : 4048
JALUR SANAD:
Aisyah binti Abi Bakar
Ash Shiddiq
Ubaid bin 'Umair bin
Qatadah bin Sa'id
Abdul 'Aziz bin Rufai'
Ibrahim bin Thahman bin
Syu'bah
Abdul Malik bin 'Amru
Abbas bin Muhammad bin
Hatim bin Waqid
Biografi Perawi Hadits (Tarjamah ar-Rawi al-A`la):
• Nama Lengkap : Abbas bin Muhammad bin Hatim bin Waqid
• Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan pertengahan
• Kuniyah : Abu Al Fadlol
• Negeri semasa hidup : Baghdad
• Wafat : 271 H
Hukum Sanad:
ULAMA KOMENTAR
Ibnu Abi Hatim Shaduuq
Abu Hatim Shaduuq
An Nasa'i Tsiqah
Maslamah bin Qasim Tsiqah
Ibnu Hibban disebutkan dalam 'ats tsiqaat
Ibnu Hajar al 'Asqalani tsiqoh hafidz
Adz Dzahabi tsiqoh hafidz
Derajat Hadits ini: Shahih (Menurut Imam Nashiruddin Al-Albani) Kitab Sunan An-Nasa’i Hal.625.
Sunday, May 09, 2010
بحث عن سمسار بورصة الأوراق المالية ومعاونيه في ضوء الفقه الإسلامي دراسة فقهية معاصرة
جامعة الأزهر
كلية الشريعة والقانون
بالدقهلية
بحث عن
سمسار بورصة الأوراق المالية
ومعاونيه في ضوء الفقه الإسلامي
دراسة فقهية معاصرة
إعـــــــداد :
ارحمني بن الحاج رافعون الإندونيسي
رقم الجلوس : ١٠٦٧٦
إشراف :
د. محمد شكري الجميل العدوي
أستاذ الفقه المقارن بالكلية
٢٠٠٩- ٢٠١٠ م
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدُ لله رب العالمين وبه نستعين وعلى أمور الدنيا والدين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد :
فقد جاءت الشريعة الإسلامية لتحقيق مصالح العباد وهدايتهم إلى سبيل الرشاد ، ولهذا نظمت المعاملات المالية تنظيماً دقيقاً في أبواب الفقه الإسلامي ، وتضمنت هذه المعاملات العقود التي تنظم العلاقة بين الناس بصفة عامة ، وهي العقود المسماة التي أقرت الشريعة الإسلامية التعامل بها بين الناس ، إلاَّ أنَّ مصالح الناس اليومية متنامية ومتغيرة بحسب الزمان والمكان ، وعقد السمسرة من العقود غير المسماة التي لم تقرُّ لها الشريعة أحكاماً خاصةً بها تميزها عن غيرها من العقود.
اتسمت المعاملات المالية والاقتصادية بالعالمية فى ظل عصر العولمة والجات والنظام الاقتصادى العالمى الجديد ، وساعد على ذلك التقدم العظيم فى وسائل تقنية المعلومات وشبكات الاتصالات الإلكترونية العالمية ، وأصبح التعامل فى أسواق الأوراق المالية العالمية ممكناً من أى مكان.
وتحتاج المؤسسات المالية الإسلامية وما فى حكمها إلى معرفة الضوابط الشرعية للتعامل مع السماسرة بصفة عامة فى أسواق الأوراق المالية المحلية وبصفة خاصة فى أسواق الأوراق المالية العالمية ، ومعرفة الجائز شرعاً والمنهى عنه شرعاً ، وكذلك معرفة الشروط الواجب توافرها فى هؤلاء السماسرة .
ويختص الجزء الأخير من هذه الدراسة بتناول الضوابط الشرعية للتعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية العالمية مع الإشارة إلى الشروط الواجب توافرها فيهم وذلك فى ضوء أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية والفتاوى الصادرة عن مجامع ومجالس الفقه الإسلامى .
فأقدم بين حضراتكم هذا البحث إلى فضيلتكم مع رجائي التوجيهات والإرشادات لنفسي ولهذا البحث الوجيز فعسى الله أن يجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه.
وأخيراً والله أرجوه أن يوفقني وإياكم لما يحبه ويرضاه وأن يجعل هذا العمل خالصا لوجهه الكريم إنه ولي المؤمنين.
وآخر دعوانا عن الحمد لله رب العالمين.
تفهنا الأشراف ، ليلة الخميس ٢٧ أبريل ٢٠١٠
كتبه
ارحمني بن الحاج رافعون الإندونيسي
خطة الدراسة
هذا البحث الوجيز المتواضع يشتمل على مقدمة وأربعة مباحث والخاتمة على النحو التالى:
المبحث الأول: بين يدي السمسرة والسمسار ومعاونيه
وفيه مطلبان:
المطلب الأول: مفهوم السمسرة والسمسار ومعاونيه في الفقه الإسلامي
المطلب الثاني: أدلة مشروعية السمسرة والسمسار ومعاونيه
المبحث الثاني: طبيعة عقد السمسرة في سوق الأوراق المالية
المبحث الثالث: الشروط الواجب توافرها في السمسار في سوق الأوراق المالية
المبحث الرابع: الضوابط الشرعية العامة للتعامل مع السمسرة
الخاتمة
فأبدأ هذا البحث الوجيز المتواضع وأقول وبالله التوفيق والهداية ...
المبحث الأول: بين يدي السمسرة والسمسار ومعاونيه
o المطلب الأول: مفهوم السمسرة والسمسار ومعاونيه في الفقه الإسلامي
♦ تعريف السمسرة وقد أفادَ بأنها في الأصل كلمة فارسية من حيث الأصل ، ومع ذلك فهي معربة وقد استعملها العرب في زمن الجاهلية ، ويُرادُ بها في اللغة : الوسيط بين البائع والمشتري لإمضاء البيع ، واستشهدَ بكلام الأعشى :
فأصبحتُ لا أستطيع الكلا م سوى أن أراجع سمسارها
وأما في الاصطلاح فلها تعريفات متقاربة ، وقد عرفها أرباب المذاهب الفقهية الأربعة ، وقد عرفها ابن تيمية بأنها: (التوسط بين المتعاقدين للتوفيق بينهما لإتمام العقد).
يُقصد بالسمسرة فى مجال المعاملات المالية : بأنها الوساطة بين البائع والمشترى ومن فى حكمهما فى تنفيذ عمليات البيع والشراء ونحو ذلك نظير أجر معلوم يتم التراضى عليه بين الأطراف ، وتعتبر السمسرة نوع ذو طبيعة خاصة من أنواع الوكالة طبقاً للأوامر الصادرة من الطرف المعطى لها.
♦ مفهوم السمسار:
ويطلق على الشخص الذى يقوم بعمليات السمسرة اسم الوسيط أو الدلال بأنه يتوسط بين البائع والمشترى ، كما أنه أحياناً يقدم معلومات تدلهما على تحقيق رغباتهم .
ويعتبر عمل السمسار من الأعمال المهنية والتى تتعلق بتقديم خدمات لمن يرغب من المتعاملين نظير أجر أو أتعاب يتم الاتفاق عليها فى إطار القوانين والأعراف ، يطلق عليها أتعاب السمسرة .
ويختلف عمل السمسار عن الأجير وعن الشريك من الناحية الشرعية والقانونية والمهنية ، وليس هذا هو المجال لمناقشة ذلك تفصيلاً ويرجع فى ذلك إلى المراجع المتخصصة.
سمسار الأوراق المالية : هو شخص ذو مؤهلات ومواصفات معينة يتلقي أوامر العملاء بالبيع والشراء في الأوراق المالية ، ويقوم بتنفيذها نيابة عنهم وبمعاونة مساعديه مقابل سمسرة - عمولة – محددة باللائحة ، ويمارس مهنته منفردا أو كشريك متضامن في شركة سمسرة.
وقيل : هو شخص ذو دراسة وعلم وكفاءة في شؤون الأوراق المالية ، ويقوم بعقد عماليات بيع وشراء الأوراق المالية من خلال بورصة الأوراق المالية ، وفي المواعيد الرسمية المحددة لها لحساب العملاء مقابل عمولة محددة من كل من البائع والمشتري ، ويعتبر السمسار ضامنا لصحة كل عملية تم تنفيذها بيعا وشراءً.
♦ معاونو سمسار بورصة الأوراق المالية:
يقوم سمسار الأوراق المالية في الأصل بعمله بنفسه ، ولكن ما أن يتسع نشاطه حتى يستشعر الحاجة في تنفيذ أعماله إلى أن يتخذ لنفسه أشخاصاً يعاونونه في تنفيذ أعماله ، ويكونون تابعين له ويعملون لحسابه وتحت مسؤوليته.
وعلى ذلك فمعاونو سمسار بورصة الأوراق المالية : هم أشخاص تابعون له يعاونوه في تنفيذ أعماله ويعملون لحسابه وتحت مسؤوليته. وهؤلاء المعاونين هم :
1- المندوب الرئيسي :
وهو مستخدم يعمل بأجر من قبل السمسار ، ليعاونه في تنفيذ الأوامر داخل المقصورة ، ولا يجوز له العمل إلا باسم السمسار الذي يتبعه وتحت مسؤوليته ، ولا يجوز أن يكون طرفاً في العمليات التي يعقدها السمسار ، ولا أن يعمل لحساب الخاص.
2- الوسيط :
وهو أداة اتصل بين العميل والسمسار ، ويتلقي الأوامر من العميل ويبلغها للسمسار - شركة السمسرة – المقيد عنده ، مقابل عمولة لا تتجاوز نصف المحصل من عمولة العمليات المعقودة بواسطته ، وهو مسئول عن المليات التي يتوسط فيها.
والوسطاء نوعان :
الأول: وسطاء لهم حق التعاقد : وهؤلاء هم الذين يجوز لهم دخول المقصورة لتنفيذ الأوامر الموكلة إليهم باسم السمسار - شركة السمسرة – الذي يتبعونه ولحسابه وتحت مسئوليته.
الثاني: هم الوسطاء الذين ليس لهم حق التعاقد : وهولاء يظل عملهم خارج نطاق المقصورة ، لأنهم ليس لهم حق التعاقد.
3- صانع السوق :
يمكن للوسيط أن يقوم بدور صانع السوق ، وذلك بقيامه ببيع وشراء الأوراق المالية بعد الترخيص من لجنة البورصة ، حيث يحق له أن يعمل لصالح عملائه أو لصالح نفسه.
ولصانع السوق دور مهم في المحافظة على توازن السوق واستمراريته ، فهو مشتر عندما يكون السمسار مشترياً ، ويترتب على ذلك تدفق السيولة في السوق ، والمحافظة على توازن العرض والطلب.
4- شركات المقاصة والتسوية :
تقوم هذه الشركات بدور مكمل لعمل السمسار أو شركة السمسرة في إتمام صفقات التداول ، حيث تقوم بما يأتي :
استكمال العمليات التي قامت بها شركات السمسرة من استلام وتسليم الأوراق المالية.
تسوية المراكز المالية الناتجة عن عمليات التداول بين الأطراف المتعاملة والمقاصة بينها.
الحفظ المركزي ، حيث يودع العملاء الأوراق المالية عندها مقبل إيصالات ، وعند إتمام صفقة عليها ، تقوم الشركة بقيد ملكية الأوراق لحساب المشتري ، وخصمها من ملكية حساب البائع وهي ما زالت في الحفظ المركزي ، مثلما يحدث في البنوك من تسوية حساب عميل إلى حساب آخر.
5- المتعهدون بتغطية الإصدارات المالية :
يمكن للوسيط بالإضافة لدوره كصانع السوق ، أن يمثل المتعهد لتغطية إصدار الأوراق المالية (يعني الإصدارات الجديدة للأوراق المالية) ، إذ يتعهد الوسيط أو من يقوم مقامه - مثل مؤسسة مالية ، أو بنك استثمار ، أو شركة استثمار – للجهة المصدرة بتسويق جميع إصدارتها مقابل عمولة معينة ، وفي هذه الحالة يتيعن عليه شراء ما يعجز عن تسويقه من هذه الإصدارات.
o المطلب الثاني: أدلة مشروعية السمسرة والسمسار ومعاونيه
تعتبر مهنة السمسرة من احتياجات الناس فى كافة المعاملات ولا سيما المعاملات المالية والتجارية حيث يحتاج البائع إلى من يعاونه فى بيع سلعته ويحتاج المشترى إلى من يدله عن ما يحتاجه من سلع ، وتأسيساً على ذلك يعتبر عمل السمسار من موجبات التجارة ولا سيما العالمية ، وتدخل فى نطاق التعاون على قضاء الصالح .
ولقد أجمع الفقهاء على مشروعية السمسرة وعمل السمسار واعتمدوا فى ذلك على مجموعة من الأدلة المستنبطة من مصادر الشريعة الإسلامية من أهمها ما يلى :( )
♦ ـ الكتاب:
يقول الله تبارك وتعالى : ........ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [المائدة:2] ، ويعتبر عمل السمسار أحد صيغ التعاون فى تنفيذ عمليات البيع والشراء وما فى حكمهما فى إطار أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية .
♦ ـ السنة النبوية:
يقول الرسول صلى الله عليه وسلم : إن لله عباداً اختصهم لحوائج الناس يفزع الناس إليهم فى حوائجهم ، أولئك الآمنون من عذاب الله [ رواه الطبرانى ] ، وتدخل مهنة السمسرة فى نطاق قضاء حوائج الناس لأنها مما يحتاجها البائع والمشترى فى تحقيق مقاصدهم ، ولقد أجاز رسول الله صلى الله عليه وسلم أعمال السماسرة فى الأسواق ، فقد روى قيس الجهنى أنه قال : خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نتبايع بالسوق ، وكنا نُدعى بالسماسرة ، فقال : يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة [رواه الترمذى وقال حديث حسن صحيح] ، ويُفهم من هذا الحديث أن الرسول صلى الله عليه وسلم لم ينكر عليهم السمسرة وأوجب عليهم الزكاة والصدقات لتطهير أموالهم من اللغو والحلف والكذب ونحو ذلك من الآثام .
♦ ـ الإجماع:
لم يرد عن الفقهاء ما يشير إلى عدم جواز مهنة السمسرة ، بل أجمعوا على جوازها ووضعوا لها الضوابط الشرعية على النحو الذى سوف يرد تفصيلاً فيما بعد ، فقد قال ابن سيرين وعطاء وإبراهيم والحسن فى أمر السمسار : لا بأس ، كما ورد عن ابن عباس رضى الله عنهما قوله عن السمسار : (( لا بأس بأن يقول بع هذا الثوب فما زاد على كذا وكذا فهو لك ))( ) ، وتعتبر أعمال السمسرة من الأعمال المباحة شرعاً وفقاً للقاعدة الشرعية : (( الأصل فى العقود الإباحة فلا يُحرم منها إلا ما حرمه الله ورسوله ، ولم يحرم الله عقداً فيه مصلحة للمسلمين بلا مفسدة )) ، وتأسيساً على ذلك أن أى عقد مستجد فى الحياة المعاصرة يكون مقبولا شرعاً إذا لم يتصادم مع دليل شرعى يشتمل على مفسدة راجحة ( ) .
وخلاص القول فى مشروعية السمسرة : أنها من الأعمال المشروعة بأدلة من الكتاب والسُنة والإجماع ما دامت تلتزم بأحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية .
المبحث الثاني: طبيعة عقد السمسرة في سوق الأوراق المالية
يعتبر عقد السمسرة من العقود المشروعة يتعلق بالوساطة بين البائع والمشترى فى سوق الأوراق المالية فى تنفيذ عمليات بيع وشراء الأوراق المالية وغيرها فى ضوء الأوامر الواردة له من العملاء وطبقاً للقوانين والتعليمات المنظمة لذلك نظير عمولة (أجر أو أتعاب) يتم الاتفاق عليها .
وتتمثل أركان هذا العقد فى الآتى :
الإيجاب: الصادر من البائع الراغب فى البيع ، أو من المشترى الراغب فى الشراء.
القبول: الصادر من السمسار الموافق على تنفيذ عمليات البيع أو الشراء وفق الأوامر الواردة له .
موضوع العقد: الوساطة فى تنفيذ عمليات الشراء أو البيع.
صيغة العقد: تنفيذ عملية كذا..... بشروط وضوابط كذا ..... نظير عمولة كذا .....
ويجب أن يشترط فى أركان هذا العقد الشروط العامة للعقود فى الفقه الإسلامى ، وليس هذا هو مناط الدراسة والبحث ، ولمزيد من التفصيل يمكن الرجوع إلى المراجع المذكورة فى الهامش ( ) .
المبحث الثالث: الشروط الواجب توافرها في السمسار في سوق الأوراق المالية
يشترط فيمن يقوم بأعمال السمسرة بصفة عامة وفى سوق الأوراق المالية بصفة خاصة مجموعة من الشروط (المعايير) والتى يمكن تبويبها فى مجموعتين رئيسيتين هما :
شروط تتعلق بالتكوين الشخصى للسمسار من حيث خلقه وسلوكياته (الأخلاق والسلوك).
شروط تتعلق بالجوانب الفنية من حيث المعارف والخبرة المهنية (الكفاءة الفنية).
وسوف نتناول هذه الشروط بشىء من التفصيل مع التطبيق على سوق الأوراق المالية.
أولاً القيم الأخلاقية والسلوكية للسمسار فى سوق الأوراق المالية: من أهمها ما يلى:
• الصدق : يلتزم السمسار فى كل معاملاته بالصدق والباعث له على ذلك قيمة الإيمانية ، ودليل ذلك قول الله تبارك وتعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
[التوبة:119] ، والدليل من السنة النبوية قول الرسول صلى الله عليه وسلم : التاجر الصدوق مع النبيين والصديقين والشهداء [رواه الترمذى] ، ويقول صلى الله عليه وسلم : البيعان بالخيار حتى يتفرقا فان صدقا وبَيَّنا بورك لهما فى بيعهما ، وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما [البخارى ] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يكون صادقاً فى البيانات والمعلومات التى يقدمها لعملائه من البائعين والمشترين ، ويتجنب الكذب والغش والتدليس والكتمان وما فى حكم ذلك من الأمور التى حرمتها الشريعة الإسلامية.
• الأمانة : يلتزم السمسار بالأمانة فى المعاملة مع المتعاملين معه لأن هذا من موجبات التعاقد معه، ولقد أمر الله سبحانه وتعالى بالأمانة فقال : إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً [النساء:58] كما أكد الرسول صلى الله عليه وسلم على ذلك فقال : أد الأمانة لمن ائتمنك ولا تخن من خانك [رواه أحمد وأبو داود]
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يتحرى الأمانة فى كل معاملاته طبقاً للأوامر الواردة له ، كما يجب أن يكون أميناً فى المشورة والنصيحة التى يقدمها لعملائه عند طلبها فالمستشار مؤتمن ويتجنب الغش والتدليس والتزوير.
• الوفاء : يلتزم السمسار بالوفاء بالعقود والعهود ولا سيما بالأوامر الواردة له من العملاء ، حيث أن ذلك من موجبات الثقة فيه كوسيط ودلاَّل ، ولقد أمر الله سبحانه وتعالى بالوفاء فقال : وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ [النحل:91] ، ويؤكد الرسول صلى الله عليه وسلم على قيمة الوفاء بالعهود فيقول : من كان بينه وبين قوم عهد فلا يحل عهدا ولا يشدنه حتى يمضى أمره أو ينبذ إليهم على سواء [رواه الترمذى وقال حديث حسن ] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يلتزم بوعوده وعهوده حتى يكون موضع ثقة من المتعاملين معه .
• النصيحة : يجب على السمسار أن يقدم النصيحة الصادقة والخالصة لعملائه وأن يكون لهم موجهاً ومرشداً إلى الأفضل والأحسن ، وأن لا يخشى إلا الله ، ويؤمن إيماناً راسخاً بأن الله هو الرزاق ذو القوة المتين ، ودليل خِصلة النصح من القرآن الكريم قول الله تبارك وتعالى : إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر:3] ، ويقول الرسول صلى الله عليه وسلم : الدين النصيحة ، قلنا لمن ؟ ، قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم [رواه مسلم] ، وتأسيساً على ذلك يجب أن يكون السمسار مقداماً فى تقديم النصائح والتوصيات والإرشادات لعملائه لما فيه مصلحة لهم وأن لا يكون غشاشاً أو مدلساً أو مزوراً وما فى حكم ذلك ، ويرى فقهاء المعاملات أن الدافع والباعث والحافز على التزام السمسار بهذه القيم الأخلاقية هو القيم الإيمانية ومنها الإخلاص فى العمل ابتغاء وجه الله سبحانه وتعالى بجانب الباعث المجتمعى والمهنى .
ثانياً قيم الكفاءة المهنية : ومن أهمها ما يلى :
• أن يكون مؤهلا تأهيلاً علمياً مناسباً يمكنه من القيام بالمهام المكلف بها على الوجه اللازم ، وأن يكون على علم مستمر بالمستجدات فى مجال المعاملات فى أسواق الأوراق المالية .
• المعرفة التامة بالجوانب القانونية التى تحكم المعاملات فى سوق الأوراق المالية حتى يجنب عملائه مخاطر مخالفتها ، كما يجب أن يكون على علم تام بالجوانب الإجرائية اللازمة لتنفيذ الأوامر الواردة له من العملاء .
• أن يكون السمسار متقناً فى تنفيذ الأوامر الواردة له وفقاً للقوانين والأعراف والنظم واللوائح ، وله أن يستعين فى ذلك بالأساليب المعاصرة ، ولقد أوصى الرسول صلى الله عليه وسلم فقال : إن الله يحب إذا عَمِل أحدكم عملاً أن يتقنه [رواه البيهقى] .
• أن يأخذ السمسار بمنهج المعاصرة فى كافة أعماله ومعاملاته ، فالحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها فهو أحق الناس بها ، وأن يكون مقداماً ومبدعاً ، ومن أساليب المعاصرة الواجب عليه الأخذ بها :
أساليب الحاسبات الإلكترونية المتقدمة وبرامجها المعاصرة .
أساليب شبكات الاتصالات المتقدمة وبرامجها المعاصرة .
نظم المعلومات المتكاملة العالمية الإلكترونية .
بنوك البيانات الوافية العالمية الإلكترونية .
نظم المواقع الإلكترونية المتخصصة .
وهكذا ....
• أن يستعين السمسار بفريق من الخبراء والمستشارين من التخصصات ذات العلاقة بمعاملاته والذين يقدمون له المعرفة والمشورة والرأى السديد مما يحتاجه ليقدمه لعملائه ، ومن بين هذه التخصصات : الاستثمار و الاقتصاد .
المعاملات الشرعية .
الجوانب القانونية .
• أن لا يمارس السمسار أى أفعال ضارة بالغير أو بالسوق وفقاً للقاعدة الشرعية المتواترة : ((لا ضرر ولا ضِرار ، والضرر يُزال )) كما يجب أن لا يقدم معلومات خاطئة ومضللة للعملاء ليتكسب من وراء ذلك بدون حق مشروع ، كما يجب ألا يساعد بعض العملاء على القيام بأعمال ضارة بالآخرين بهدف إخراجهم من السوق أو ما فى حكم ذلك .
• أن لا يمارس أى أعمال تتعارض مع المصالح المرسلة المشروعة الذى وضعها ولى الأمر (الجهات الحكومية المشرفة والمراقبة للأسواق ) لضبط وتنظيم التعامل فى الأسواق ما دام ذلك لا يتعارض مع أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية والأعراف السائدة .
تعقيب :
نخلص من الشروط السابقة الواجب توافرها فى السمسار فى أسواق الأوراق المالية أنها تدور حول محورين أساسيين هما : القيم الأخلاقية والسلوكية من ناحية والكفاءة الفنية والمهنية من ناحية أخرى وهذا يضمن أداء خدمات السمسرة بجودة وإتقان بما يحقق المقاصد المرجُوة التى وردت فى الأوامر الواردة من العملاء ، كما يحقق له الأجر الحلال الطيب المبارك .
المبحث الرابع: الضوابط الشرعية العامة للتعامل مع السمسرة
يحكم التعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية مجموعة من الضوابط الشرعية الكلية العامة والمستنبطة من مصادر الشريعة الإسلامية وتتسم هذه الضوابط بمجموعة من الخصائص المميزة لها مثل :الثبات والموضوعية والشمولية والتوازن والتحفيز والمعاصرة والقابلية للتطبيق فى كل زمان ومكان ، كما أن مبعث الالتزام بها بصفة عامة : القيم والمُثل والأخلاق والسلوكيات الحسنة وتحقيق المصالح والمنافع للناس وللمجتمع ، وهى تنطبق على كافة السماسرة المحليين والعالميين .
ومن أهم هذه الضوابط ما يلى :
• المشروعية فى الاستثمار والمعاملات :
ويقصد بذلك أن يكون مجال معاملات السمسرة مشروعاً لا يتعارض مع نص صريح فى القرآن الكريم أو السنة النبوية الشريفة أو إجماع الفقهاء الثقات الصادرة عن مجامع الفقه ، كما يجب تجنب المعاملات التى تحرمها الشريعة الإسلامية والتى تتضمن الربا والغرر والتدليس والاحتكار والمقامرة (الميسر) والجهالة وكل ما يؤدى إلى أكل أموال الناس بالباطل.
وتأسيساً على ذلك يجب أن يبين العميل للسمسار ذلك بوضوح حتى يقدم له البيانات والمعلومات عن طبيعة الشركات المصدرة للأوراق ليختار منها ما يدخل فى نطاق الحلال المشروع.
• الطيبات فى الاستثمارات والمضاربات :
ويقصد بذلك أن تتعلق معاملات السمسرة بالأوراق المالية لشركات تعمل فى مجال الطيبات ذات العلاقة بتحقيق مقاصد الشريعة الإسلامية ،وهى حفظ الدين والنفس والعقل والعِرض والمال ، وهذا الضابط ثابت فى كل الأديان السماوية ، ودليل ذلك قول الله تبارك وتعالى : ........ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [لأعراف:157] ، ويقول الرسول صلى الله عليه وسلم : إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا ، ولا تقبل صدقة من غلول [رواه مسلم] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يقدم بيانات ومعلومات لعملائه عن طبيعة أنشطة الشركات التى يتم التعامل فى أسهمها فى أسواق الوراق المالية حتى يوجههم إلى الحلال الطيب ، ولقد قامت بعض شركات الوساطة بذلك من خلال مساعدة الفقهاء وعلماء الاقتصاد الإسلامى.
• المحافظة على الأموال من الهلاك والضياع :
من بين مقاصد الشريعة الإسلامية حفظ المال ، ولذلك يجب أن يتعاون السمسار مع عملائه فى التعامل فى أسواق الأوراق المالية فى اختيار الأوراق المالية وبالآليات التى تقلل المخاطر وتنمى العوائد ، فعلى سبيل المثال لا يجب الدخول فى معاملات ذات مخاطر عالية غير مجدية وتؤدى إلى هلاك المال ، كما يجب تجنب طرق التعامل ذات المخاطر العالية مثل الاختيارات والمستقبليات والمشتقات المالية والتى لم تجيزها الشريعة الإسلامية.
• تنمية المال فى إطار المشروعية والطيبات :
يسعى المتعاملين فى سوق الوراق المالية إلى تنمية استثماراتهم وفقاً لشرع الله سبحانه وتعالى ، وذلك من خلال اختيار الأوراق المالية التى تنمو فى قيمتها وفى عوائدها فى إطار الحلال الطيب ، ولقد حث الإسلام على تنمية المال بصفة عامة وعدم اكتنازه ، فيقول الله تبارك وتعالى : ........... وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ [التوبة:34] ، ويحث الرسول على الاستثمار فيقول صلى الله عليه وسلم : استثمروا أموالكم حتى لا تأكلها الصدقة [رواه الإمام أحمد] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يدل وينصح ويرشد عملائه إلى أنواع الاستثمارات التى تنمى أصل المال وعوائده بالحلال وفى إطار أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية.
• التوازن والتنوع لتقليل المخاطر وتنمية العوائد والأرباح :
اتصالاً بالضابط السابق يجب على السمسار أن يرشد ويوجه عملائه إلى مجموعة من الأوراق المتنوعة فى إطار المشروعية والطيبات بما تقلل المخاطر إلى أدنى مستوى ممكن وتنمى العوائد إلى أقصى مستوى ممكن ، وتساهم خبرات السمسار وما لديه من معلومات أن يحقق ذلك لعملائه ، وله أن يستعين فى ذلك بأهل الخبرة والاختصاص.
• المعلومية والتدوين والتوثيق بين السمسار وعملائه لحفظ الحقوق :
ويقصد بذلك أن كل من العميل والسمسار وغيرهم مقدار ما يقدمه من مال للاستثمار ومقدار ما يتحمله من مخاطر إذا حدثت ، وأن يكتب ذلك فى عقود موثقة ومكتوبة حتى لا يحدث جهالة وغرر ويؤدى ذلك إلى شك وريبة ونزاع بينهما ، ولقد تناول القرآن الكريم هذه المسألة فى آية التدوين فيقول الله تبارك وتعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيراً أَوْ كَبِيراً إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةَ تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [البقرة:282].
وتأسيساً على ذلك يجب أن تكون الأوامر الصادرة من المتعاملين مع السمسار مكتوبة وواضحة وشفافة ، كما يجب أن يكون عقد السمسرة بين العميل والسمسار مبيناً فيه كافة الشروط والاتفاقيات ولا سيما مقدار أجرة السمسرة.
تعقيب :
تتفاعل هذه الضوابط الشرعية مع بعضها البعض لتحقق للمتعاملين فى أسواق الأوراق المالية ولشركات الوساطة المالية والسماسرة مجموعة من المقاصد الهامة والمشروعة ومنها :
التعامل وفقاً لأحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية لتحقيق النمو والنماء.
المحافظة على الأموال وتنميتها بالحق ومنعها من الاستثمار فى الحرام الخبيث.
المحافظة على حقوق المتعاملين والسماسرة وفقاً للعقود والعهود.
المحافظة على استقرار المعاملات فى الأسواق وتجنب الأزمات والتقلبات.
حماية أسواق الأوراق المالية من الغش والغرر والجهالة والتدليس والإشاعات المغرضة وكافة صور أكل أموال الناس بالباطل.
الــخـاتــــمة
إن الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه واقتفى أثره واسنن بسنته إلى يوم القيامة ، وبعد.
فإن هذا البحث الوجيز المتواضع لم يكن شاملاً كافياً حاوياً لكل مسائل موجودة في سمسار بورصة الأوراق المالية ومعاونيه وأن ثمة مسائل أخرى تحتاج إلى تفصيلها وتفريعها وتخريج أقوال الفقهاء فيها وإن شاء الله تعالى أن تدرسها سويا في أيام قادمة.
وأما من خلال ما تقدم في هذا البحث الوجيز المتواضع يلاحظ أربعة أشياء ، من أهمها ما يلى :
أولاً : تعتبر السمسرة من المهن الخدمية المشروعة بأدلة من الكتاب والسُنة والإجماع ، ولقد وضع الفقهاء من السلف والخلف لها الضوابط الشرعية لتحقيق مقاصدها المنشودة للمتعاملين فى الأسواق.
ثانياً : يعتبر السمسار وسيطاً ومرشداً وموجهاً وناصحاً لمن يتعاملون معه وفق الأوامر التنفيذية الصادرة له فى عمليات البيع والشراء وما فى حكم ذلك مقابل أجر أو أتعاب معلومة ومحددة يتم الاتفاق عليها طبقاً للقوانين والأعراف السائدة فى الأسواق ولقد كَيَّف بعض الفقهاء التعاقد معه على أنه عقد وكالة بنظام خاص.
ثالثاً : يشترط فى السمسار ومعاونيه بصفة عامة سواء كان محلياً أو عالمياً مجموعة من الشروط يمكن تبويبها فى مجموعتين رئيسيتين هما :
شروط القيم والمثل والأخلاق والسلوكيات.
شروط الكفاءة الفنية والمهنية.
ويستنبط من هذه الشروط معايير جودة أداء خدمة السمسرة بصفة عامة ، والسمسرة فى أسواق الأوراق المالية المحلية والعالمية بصفة خاصة ، وهذا أمر ضرورى وحاجى فى ظل الأزمات المالية العالمية.
رابعاً : يحكم التعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية بصفة عامة مجموعة من الضوابط الشرعية الواجب مراعاتها فى الأوامر التنفيذية الصادرة لهم من العملاء ، من أهمها ما يلى :
• ضابط مشروعية المعاملات والاستثمارات.
• ضابط الطيبات فى الاستثمارات.
• ضابط المحافظة على الأموال من الهلاك والضياع.
• ضابط تنمية الاستثمارات وعوائدها.
• ضابط تقليل المخاطر وتنمية العوائد.
• ضابط المعلومية والتدوين والتوثيق لحفظ الحقوق.
والحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات
قائمة المراجع المختارة
د. عادل عبد الفضيل عيد ـ (السمسرة في الفقه الإسلامي والتطبيقات المعصرة) ـ دار الفكر الجامعي ـ 2008م.
د. عطية فياض ـ (سوق الأوراق المالية فى ميزان الفقه الإسلامى) ـ دار النشر للجامعات ، القاهرة ، 1998م.
د. حسين حسين شحاتة ، د. عطية فياض ـ (الضوابط الشرعية للتعامل فى سوق الوراق المالية) ـ دار التوزيع والنشر الإسلامية ـ القاهرة ـ 2001م.
شعبان محمد إسلام البرواري ـ (بورصة الأوراق المالية من منظور إسلامي) ـ دارالفكرالمعاصرـ 2002م.
د.محمد شكري الجميل العدوي – (بورصة الأوراق المالية في ميزان الشريعة الإسلامية والقانون الوضعي) – مكتبة الكلية – 2009-2010م.
علاء الدين أحمد جبرـ (بورصة الأوراق المالية) ـ طبعة الهيئة المصرية العامة للكتاب ـ 2007م.
د. عبد الفضيل محمد أحمد – (بورصات الأوراق المالية) بحث منشور بمجلة البحوث القانونية والاقتصادية – كلية الحقوق , جامعة المنصورة, العدد الثالث, إبريل, 1988م.
د. محمد صبري هارون – (أحكام الأسواق المالية) – طبعة: دار النفائس للنشر والتوزيع- الأردن, الطبعة الأولى – 1999م
سيد سابق ، (فقه السنة) ، الجزء الثالث.
د. على أحمد الندوى ، (جمهرة القواعد الفقهية فى المعاملات المالية) ، الجزء الأول.
الشيخ على الخفيف ، (أحكام المعاملات الشرعية ) ، من مطبوعات بنك البركة الإسلامى ، البحرين.
د. عبد الحميد محمود البعلى ـ (ضوابط العقود) ـ مكتبة وهبة ـ القاهرة ـ الطبعة الأولى.
د. عبد الستار أبو غدة ـ (أوفوا بالعقود) ـ من مطبوعات دلة البركة ـ 1997م.
الشيخ حسن أيوب ـ (فقه المعاملات المالية فى الإسلام) ـ دار النشر والتوزيع الإسلامية ـ 1998م.
لك الحمد ولك الشكر كما ينبغي لجلال وجهك الكريم ولعظيم سلطانك
Friday, February 26, 2010
Benarkah Shalahuddin Al-Ayyubi Pencetus Perayaan Maulid Nabi shalallahu’alaihi wa sallam?

Alkisah
Ada sebuah kisah yang cukup masyhur tentang peristiwa pada saat menjelang Perang Salib. Ketika itu kekuatan kafir menyerang negeri Muslimin dengan segala kekuatan dan peralatan perangnya. Demi melihat kekuatan musuh tersebut, sang raja muslim waktu itu, Shalahuddin al-Ayyubi, ingin mengobarkan semangat jihad kaum muslimin. Maka beliau membuat peringatan Maulid Nabi. Dan itu adalah peringatan Maulid Nabi yang pertama kali di muka bumi.
Begitulah cerita yang berkembang sehingga yang dikenal oleh kaum Muslimin bangsa ini, penggagas perayaan untuk memperingati kelahiran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ini adalah Imam Shalahuddin al-Ayyubi. Akan tetapi benarkah cerita ini? Kalau tidak, lalu siapa sebenarnya pencetus peringatan Malam Maulid Nabi? Dan bagaimana alur cerita sebenarnya?
Kedustaan Kisah Ini
Anggapan bahwa Imam Shalahuddin al-Ayyubi adalah pencetus peringatan Malam Maulid Nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Shalahuddin al-Ayyubi- menyebutkan bahwa beliaulah yang pertama kali memperingati Malam Maulid Nabi.
Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati Malam Maulid Nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.
Merekalah yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al-Miqrizi dalam al-Khuthath: 1/280, al-Qalqasyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as-Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhait al-Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadharat beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.
Imam Ahmad bin Ali al-Miqrizi berkata: “Para Khalifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari Asyura, perayaan Maulid Nabi, Maulid Ali bin Abi Tholib, Maulid Hasan, Maulid Husein, maupun Maulid Fathimah az-Zahra, dan Maulid khalifah. (Juga ada) perayaan awal Rajab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan penutup Ramadhan…” [al Mawa’izh:1/490]
Kalau ada yang masih mempertanyakan: Bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan Maulid Nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhaffar penguasa daerah Irbil?
Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al-Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa Raja Mudhaffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al-Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al-Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al-Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.
Adapun klaim bahwa Raja Mudhaffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang se-zaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda.
Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat Raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al-Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar. Al-Fakihani – tahqiq Syekh Ali- yang tercetak dalam Rasa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8].
Alhasil, pengingatan Maulid Nabi pertama kali dirayakan oleh para Raja Ubaidiyyah di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362 H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al-Mula oleh Raja Mudhaffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.
Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al-Hafizh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhaffar berkata: “Dia merayakan Maulid Nabi pada bulan Rabi’ul Awal dengan amat mewah. As-Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir di sana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhaffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan …”
Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang Raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”
Ibnu Khalikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shafar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang di tempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila Maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba di lapangan.” Dan pada malam Maulid, raja mengadakan nyanyian setelah shalat maghrib di benteng.”
Setelah penjelasan di atas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Shalahuddin al-Ayyubi adalah penggagas Maulid Nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]
Siapakah Gerangan Shalahuddin al-Ayyubi [2]
Beliau adalah Sultan Agung Shalahuddin Abul Muzhaffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad-Duwini. Beliau lahir di Tikrit pada 532 H. karena saat itu bapak beliau, Najmuddin, sedang menjadi gubernur daerah Tikrit.
Beliau belajar kepada para ulama zamannya seperti Abu Thahir as-Silafi, al-Faqih Ali bin Binti Abu Sa’id, Abu Thahir bin Auf, dan lainnya.
Nuruddin Zanki (raja pada saat itu) memerintah beliau untuk memimpin pasukan perang untuk masuk Mesir yang saat itu dikuasai oleh Daulah Ubaidiyyah sehingga beliau berhasil menghancurkan mereka dan menghapus Negara mereka dari Mesir.
Setelah Raja Nuruddin Zanki wafat, beliau yang menggantikan kedudukannya. Sejak menjadi raja beliau tidak lagi suka dengan kelezatan dunia. Beliau adalah seorang yang punya semangat tinggi dalam jihad fi sabilillah, tidak pernah didengar ada orang yang semisal beliau.
Perang dahsyat yang sangat monumental dalam kehidupan Shalahuddin al-Ayyubi adalah Perang Salib melawan kekuatan kafir salibis. Beliau berhasil memporak-porandakan kekuatan mereka, terutama ketika perang di daerah Hithin.
Muwaffaq Abdul Lathif berkata: “Saya pernah datang kepada Shalahuddin saat beliau berada di Baitul Maqdis (Palestina, red), ternyata beliau adalah seorang yang sangat dikagumi oleh semua yang memandangnya, dicintai oleh siapapun baik orang dekat maupun jauh. Para panglima dan prajuritnya sangat berlomba-lomba dalam beramal kebaikan. Saat pertama kali aku hadir di majelisnya, ternyata majelis beliau penuh dengan para ulama, beliau banyak mendengarkan nasihat dari mereka.”
Adz-Dzahabi berkata: “Keutamaan Shalahuddin sangat banyak, khususnya dalam masalah jihad. Beliau pun seorang yang sangat dermawan dalam hal memberikan harta benda kepada para pasukan perangnya. Beliau mempunyai kecerdasan dan kecermatan dalam berfikir, serta tekad yang kuat.”
Shalahuddin al-Ayyubi wafat di Damaskus setelah subuh pada hari Rabu 27 Shafar 589 H. Masa pemerintahan beliau adalah 20 tahun lebih.
________
Footnote:
[1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hukum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”
[2] Disarikan dari Siyaru A’lam an-Nubala: 15/434 no.5301
Sumber: Diketik ulang dari Majalah Al-Furqan Edisi 09 Thn.XIII, Rabi’uts Tsani 1430/April 2009, Hal.57-58 [di salin dari: http://alqiyamah.wordpress.com/]
Tulisan ini telah diedit gaya penulisannya oleh: Irhamni Rofiun.
Monday, February 15, 2010
Vaksin Meningitis; Antara Halal dan Haram

Vaksin Meningitis; Antara Halal dan Haram
Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima dan sangat krusial bagi kaum muslimin tentunya bagi yang sudah masuk dalam kategori istitho'ah. Namun, pada beberapa tahun ini semenjak pihak Arab Saudi sebagai khadimul haramain menetapkan bahwa bagi seluruh calon jama'ah haji diwajibkan vaksin meningitis atau dalam istilah arabnya iltihab as-sahaya (radang otak), banyak jama'ah calon haji yang merasa resah karena tersebar kabar bahwa vaksin tersebut mengandung enzim babi (porcine).
Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengidentifikasi dan memberikan sedikit pengenalan tentang Vaksin Meningitis sampai tinjauan hukum Islam dalam menangani masalah tersebut.
Apakah Vaksin Meningitis itu?
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".
Meningitis adalah radang membran pelindung sistem syaraf pusat. Penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.
Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Daerah "sabuk meningitis" di Afrika terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur. Daerah ini ditinggali kurang lebih 300 juta manusia. Pada 1996 terjadi wabah meningitis di mana 250.000 orang menderita penyakit ini dengan 25.000 korban jiwa.
Bakteri ini ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan sekresi pernafasan atau tenggorokan. Tutup dan lama kontak (misalnya berciuman, bersin dan batuk pada seseorang, yang tinggal di dekat tempat tinggal atau asrama (militer yang direkrut, mahasiswa), berbagi alat makan atau minum, dll) memfasilitasi penyebaran penyakit. Inkubasi rata-rata adalah 4 hari, berkisar antara 2 dan 10 hari.
Gejala yang paling umum adalah leher kaku, demam tinggi, kepekaan terhadap cahaya, kebingungan, sakit kepala dan muntah-muntah. Bahkan ketika penyakit ini didiagnosis dini dan terapi yang memadai dilembagakan, 5% sampai 10% dari pasien mati, biasanya dalam waktu 24-48 jam setelah timbulnya gejala. Bakteri meningitis dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan pendengaran, atau ketidakmampuan belajar pada 10 sampai 20% dari korban. Yang kurang umum tapi lebih parah (sering fatal) bentuk penyakit meningokokus adalah septikemia meningokokus yang ditandai oleh ruam berdarah dan cepat peredaran darah.
Benarkah vaksin meningitis mengandung enzim babi (porcine)?
Berita bahwa vaksin meningitis dicurigai mengandung enzim babi bermula dari sebuah laporan penelitian yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengawasan Obat dan Makanan Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI) Sumatera Selatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hasil temuan tersebut kemudian diumumkan kepada publik pada 24 April 2009 oleh Ketua MUI Sumsel KH Sodikun.
Glaxo Smith kline (GSK) sebagai produsen vaksin meningitis yang digunakan oleh Departemen Kesehatan RI, membantah bahwa produknya mengandung unsur babi. GSK menerangkan, bahwa memang pada awalnya mereka menggunakan enzim babi sebagai katalisator dalam proses pembuatan vaksin meningitis (”Old” Mencevax TM ACW 135 Y). Namun hal ini tidak dilakukan lagi pada proses pembuatan vaksin meningitis yang baru (NEW” Mencevax TM ACW 135 Y) yang digunakan sejak akhir tahun 2008.
Klaim GSK ini ternyata hanya isapan jempol belaka. Dalam presentasi GSK di hadapan sejumlah lembaga terkait, terungkap bahwa pembuatan vaksin meningitis ternyata masih menggunakan enzim babi.
“Meski pada hasil akhirnya vaksin meningits itu tak lagi mengandung enzim babi, namun dalam prosesnya masih menggunakan enzim babi,” ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Umar Shihab, kepada Republika , Jumat (22/5). Menurut Kiai Umar, kepastian penggunaan enzim babi itu terungkap saat perusahaan GSK, mempresentasikan proses pembuatan produknya di Gedung Depkes pada Rabu (20/5).
KH. Ma`ruf Amin yang juga Ketua MUI memberikan pernyataan senada, beliau mengatakan: “Walaupun dalam rapat tersebut perusahaan pembuat vaksin telah membantah produknya mengandung unsur babi, tetapi dalam proses pembuatannya mulai dari bahan baku hingga menjadi vaksin ternyata bersentuhan dengan porcine sebanyak tiga kali”.
Kemungkinan Pembuatan Vaksin Bebas Porcine
Adalah Abdulah Mu’nim dan Herman Suryadi, keduanya adalah ahli farmasi dari Univesitas Indonesia (UI), yang melontarkan kemungkinan vaksin meningitis bisa menggunakan enzim yang halal, misalnya dari hewan yang halal atau dari mikroba sendiri.
Sementara di Malaysia, pemerintah negeri itu menjamin penuh vaksin meningitis yang disuntikkan untuk calon jamaah umrah dan haji tak mengandung babi dan tak berkaitan dengan babi. Jaminan itu dikemukakan Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Rosnah Abdul Rashid Shirlin yang dikutip harian Utusan Malaysia edisi Rabu, (10/6). Menurut Rosnah, vaksin yang dihebohkan di Indonesia tidak terjadi di Malaysia. Vaksin meningitis yang diberikan kepada jamaah haji dan umrah yang dilakukan di Malaysia, katanya, telah diuji dan melalui proses penelitian lebih dulu dan ternyata tidak menimbulkan masalah hingga kini.
Kantor Berita Malaysia, Bernama, edisi Selasa (5/5) lalu memberitakan bahwa Negeri jiran itu telah berhasil membuat vaksin meningitis halal dari enzim sapi. Proses penyembelihan sapi sebagai bahan vaksin juga dilakukan dengan islami.Vaksin baru tersebut akan selalu dan mengharuskan mengikuti prosedur, antara lain, penelitian dan percobaan. Vaksin tersebut baru bisa dipasarkan setelah melewati berbagai prosedur, seperti prosedur jaminan keamanan vaksin, sertifikasi vaksin, registrasi, dan persyaratan umum lainnya. Vaksin tersebut merupakan hasil kerja sama antara Universiti Sains Malaysia (USM) dan Institut Finlay dari Kuba, untuk mengembangkan vaksin meningitis halal, yang telah dimulai sejak dua tahun lalu. Vaksin tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi andalan produksi bioteknologi kedua negara.
Vaksin Meningitis dalam tinjauan hukum Islam
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkesimpulan bahwa vaksin meningitis produksi Belgia yang digunakan jamaah Indonesia dan puluhan negara lainnya adalah haram.
Berikut ini adalah kutipan pernyataan KH. Ma`ruf Amin, Ketua MUI, pada wartawan Republika usai rapat MUI yang membahas vaksin di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (16/7).
“Keputusannya, bahwa vaksin Meningitis produksi Belgia itu yang digunakan oleh Depkes untuk jamaah haji kita, adalah haram karena mengandung enzim babi… Namun, karena untuk calon jamaah haji intinya wajib harus divaksin karena ketentuan dari pemerintah Arab saudi, maka kita perbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji… Namun hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan seterusnya,”.
Dikatakan KH. Ma’ruf bahwa Fatwa MUI ini sifatnya sementara sampai ditemukan vaksin yang halal. “Atau sampai kebijakan pemerintah Arab saudi yang mengharuskan vaksin meningitis ini dicabut,” tutur Kiai Ma’ruf. “Kami juga merekomendasikan paling lambat tahun 2010, pemerintah sudah harus memperoleh vaksin yang halal atau memproduksi sendiri vaksin yang halal,” tegas Kiai Ma’ruf.
A.B. Tamam Elvasrowany (Koordinator Dept. Pendidikan & Dakwah DPW. PPI Hadhramout) mengutarakan pernyataan diatas dengan jawaban sebagai berikut: Pada dasarnya saya setuju dengan keputusan MUI tersebut, hanya saja saya kurang sependapat dengan KH. Ma`ruf Amin yang memperbolehkan vaksinasi bagi yang berhaji wajib atau pertamakali haji dengan alasan dhorurot. Menurut hemat saya, dalam masalah ini sama sekali tidak ada dhorurot sehingga dapat diberlakukan kaidah fiqh “Al-Dhorurot Tubih al-Mahdzurot” (keadaan darurat dapat memperkenankan sesuatu yang dilarang). Karena –sebagaimana sudah maklum- ibadah haji adalah ibadah yang bersifat wajib `ala tarokhy, artinya boleh ditunda pelaksanaannya walaupun bagi orang yang sudah mampu.
Dan seandainyapun yang dimaksud dengan dhorurot disini adalah pengertian yang lumrah kita baca di kitab-kitab fiqh, yaitu ancaman gangguan kesehatan yang dapat membahayakan keselamatan jiwa atau lainnya sehingga dapat memperbolehkan bertayammum (mubih al-tayammum). Keputusan hukum di atas tetaplah tidak akan berubah dengan dua alasan:
Pertama : sebagaimana dijelaskan sebelumnya, vaksinasi dimaksudkan sebagai tindakan prefentif agar jamaah haji terhindar dari kemungkinan tertular dan menularkan meningitis terhadap orang lain ketika berada di Arab Saudi. Sementara untuk kondisi Indonesia, kemungkinan ini hampir tidak ada. Ini berarti hukum dhorurot tidak berlaku bagi para jamaah yang masih berada di Indonesia, walaupun dia tergolong calon jamaah haji wajib. Karena –sebagaimana dipaparkan sebelumnya- kewajiban haji bersifat `ala tarokhy.
Kedua : vaksinasi meningitis dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang halal. Misalnya dengan menggunakan vaksin bebas porcine sebagaimana yang –katanya- digunakan di Malaysia, atau dengan cara-cara alami sbb:
Laksanakan hijamah/bekam 1bulan 1 x (3 bulan berturut-turut sebelum naik haji)
Sangat perlu makan yang segar-segar
Pagi : Wortel 1 gelas, bayam ½ gelas
Siang : Wortel 1 gelas, bit 1/3 gelas, Timun 1/3 gelas
Sore : Wortel 1 gelas, seledri ½ gelas, Bayam 1/3 gelas
Malam : Wortel 1 gelas
Tambahan : Habatusauda, madu, sari kurma
Makanan minuman: Back to nature, tidak msg, vetsin, instan.
Alasan kedua ini semakin melemahkan argumen MUI. Karena diantara syarat diperbolehkannya menggunakan benda najis atau haram sebagai obat adalah apabila pengguanaan benda tersebut merupakan alternatif terakhir.
Adapun apabila cara-cara halal ini tidak mendapatkan pengakuan dari Depkes RI. Maka ini adalah masalah lain yang tidak dapat merubah keadaan normal menjadi darurat atau yang haram menjadi halal.
Walhasil, hukum vaksinasi meningitis menggunakan Mencevax TM ACW 135 Y buatan GSK Belgia adalah haram. Tidak ada alasan mendasar untuk memperbolehkannya dengan alasan darurat, karena memang kriteria darurat belum terpenuhi.
Kriteria darurat sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Ma`ruf Amin mungkin dapat berlaku bagi orang yang berkewajiban menunaikan ibadah haji sesegera mungkin (man wajaba `alaihi al-hajj fauron), disebabkan oleh nadzar atau yang lain. Namun demikian, ini masih memerlukan kajian lebih mendalam apakah memang benar dia itu sudah dianggap dalam keadaan darurat (mudhthor) atau justeru ibadah haji menjadi tidak wajib baginya karena dianggap belum mampu (istitho`ah).
Mencoba untuk menjawab pernyataan diatas, penulis menjelaskan kembali dengan kaidah الضرورات تبيح المحظورات بشرط عدم نقصانها عنها keadaan darurat membolehkan hal-hal yang dilarang dengan syarat hal-hal yang dilarang tadi tidak kurang dari keadaan darurat. Maksudnya adanya keadaan darurat membolehkan melakukan hal-hal yang dilarang atau diharamkan dengan syarat keadaan melakukan perbuatan yang dilarang lebih ringan dari adanya keadaan darurat. Maka boleh. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-An'am ayat 119 وقد فصّل لكم ما حرّم عليكم إلاّ ما اضطررتم إليه (Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa). Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa kita dilarang untuk memakan makanan atau sesuatu yang diharamkan yang telah jelas Allah haramkan kepada kita pada selain keadaan darurat, tapi menjadi halal apabila dalam keadaan darurat sampai hilang ke daruratannya.
Mengingat sudah datangnya musim haji 1430 H. dan sampai sekarang belum ada kabar Depkes RI telah mendapatkan vaksin meningitis halal. Pemerintah Arab Saudi juga belum mencabut peraturannya mengenai vaksinasi. Maka perlu dikaji secara mendalam kemungkinan vaksin tersebut dapat dihukumi suci dan halal dengan berbagai pendekatan fiqh. Selain pendekatan darurat tentunya.
Referensi:
Irsyâdul Hâir fî al-Asybâh wa an-Nazhâir (Dr. Ahmad Muhammad Ahmad abu Thoha) WHO Media Centre http://id.wikipedia.org http://jurnalhaji.com http://forsansalaf.com














