Mufti Baru Mesir: Dr. Syauqi Ibrahim Abdul Karim

Senin (11/02), Dewan Petinggi Ulama Al-Azhar, yang diketuai oleh Syekh Ahmad Thayyib (Grand Syekh Al-Azhar), melakukan pertemuan tertutup guna membahas siapa pengganti Syekh Ali Jum’ah sebagai Grand Mufti Mesir, yang masa jabatannya akan selesai pada akhir Februari nanti ..

Ada Cinta di MTQ ..*

Unik, panggilan yang tak terduga ketika aku harus menghentikan sejenak pengembaraan mengais ilmu di Negeri Idaman sebagian para Cendikiawan, berat, meski akhirnya sampai juga di Negeri Suara Emas ..

Biografi Singkat Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Pemimpin Para Da'i

Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911 M. – 17 Juni 1998 M.) merupakan salah satu ahli tafsir Alquran yang terkenal pada masa modern dan merupakan Imam pada masa kini ..

KH. A. Tajuddin Marzuki Tokoh Ulama Oejoeng Malang sekaligus Representatif Generasi Kedua Attaqwa

Tanda-tanda dicabutnya ilmu oleh Allah SWT adalah perginya para ulama. Sudah banyak ulama yang telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya ..

IELTS Class; Antara Jenuh dan Semangat

Pada Ahad beberapa minggu yang lalu, aku tiba di Pare, sebuah desa yang sudah terkenal dengan sebutan Kampung Inggris ..

Showing posts with label Al-Azhar. Show all posts
Showing posts with label Al-Azhar. Show all posts

Monday, January 13, 2014

Al-Azhar, Mesir dan Prediksi Al-Quran: Sebuah Doa dan Harapan

Menatap Menara Islam, Al-Azhar As-Syarif
Dulu Al-Azhar dikenal sebagai pusat peradaban ilmu keislaman yang moderat. Dari berbagai belahan dunia orang berbondong-bondong untuk menyerap mata air ilmu di Al-Azhar.

Kini, konstelasi politik Mesir yang telah terpecah-belah masuk ke ranah Al-Azhar, menyebabkan kampus tercinta ternodai oleh aksi demonstrasi dan aksi pembakaran kampus yang terjadi di Fakultas Perdagangan. Di tempat terpisah, terjadi pulapengrusakan fasilitas kampus di kampus Al-Azhar Putri, ditambah aksi pembunuhan massal secara terang-terangan di mana-mana. Kesal namun bungkam, terasa mimpi menyaksikan kejadian yang ada.

Saturday, October 12, 2013

Haji Pertamaku; Berkat Menjadi Yang Terbaik di Ajang Olimpiade Intelektual di Mesir

Setiap orang pasti memiliki cerita tersendiri bagaimana cara mereka bisa berhaji, bisa dikatakan panggilan haji adalah panggilan Allah, tidak memandang miskin atau kaya, besar atau kecil, pintar atau kurang cerdas, karena haji merupakan anugerah dan keberuntungan yang luar biasa bagi yang menjalankannya, terlebih posisinya yang menjadi tamu Allah dan rasul-Nya.

Rasanya sudah seharusnya saya selalu bersyukur, jangan sampai kufur nikmat, karena perjalanan haji pertama saya adalah hadiah dari mengikuti perlombaan olimpiade intelektual di Mesir pada cabang cerdas cermat dua bahasa (arab dan Inggris) yang kebetulan berhasil meraih posisi pertama.

Thursday, October 10, 2013

Di mana Keberadaan Para Ulama Ketika Terjadi Pembantaian Ribuan Rakyat Mesir, Bungkam?


Ketika rakyat Mesir dibantai rezim militer, peran ulama nyaris tenggelam dari pemberitaan. Karena media dalam kendali militer, media lainnya diberangus. Pendukung militer diberi kesempatan sedang penentangnya diintimidasi, termasuk para ulamanya. Ulama seperti Syaikh Azhar Ahmad Thayyib dan mantan mufti Syaikh Ali Jum’ah mendapat sanjungan di media, sedang ulama yang menentang cara-cara militer ditangkap bahkan dibantai. Seakan-akan ulama tidak peduli.
http://www.islammemo.cc/akhbar/arab/2013/07/23/177138.html

Padahal tidak demikian. Syaikh Muhammad Abdul Maqsud misalnya, ulama ahli fiqih di Mesir, memfatwakan membela Morsi. “Kita wajib membela presiden terpilih dalam pemilu 2012 ini karena inilah yang sah secara syariat dan hukum.” Beliau juga menfatwakan kudeta haram atas dasar sabda Rasulullah Saw: “Jika telah dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya.” (HR. Muslim).
http://www.youtube.com/watch?v=C-agtdsgC_A

Wednesday, September 25, 2013

Kicauan Nostalgia Ujian di Al-Azhar, Mesir


Kicauan nostalgia ujian di Al-Azhar, Mesir.

1. Dengan membaca dapat membuka cakrawala dunia, ehm.. Intinya jadilah pembaca dan penyimak yang baik. ^_^

2. Entah kenapa saat mencurahkan sesuatu melalui tulisan, tangan ini tidak bisa berhenti, jalan terus.

Monday, March 07, 2011

Kondisi Politik Mesir dan Al Azhar Terkini


Ahmad Shafeeq, Perdana Menteri Mesir -rezim Mubarak- mengundurkan diri dari jabatannya Kamis malam (03/03) atas desakan sebagian masyarakat Mesir, sebelum mengundurkan diri tersiar kabar bahwa para demonstran akan turun ke jalan -yang berpusat di Tahrir Square dengan jargon Satu Juta Ummat- pada hari Jum’at (04/03) menuntut Ahmad Shafeeq mundur dari jabatannya, rupanya Ahmad Shafeeq meletakkan jabatannya sebelum jutaan manusia turun ke jalan memaksanya untuk mundur.

Dewan Tertinggi angkatan bersenjata Mesir menugaskan Dr Isham Sharaf untuk membentuk pemerintahan baru, setelah menyetujui pengunduran diri Perdana Mesir Ahmad Shafeeq (04/03).

Dr. Isham Sharaf adalah Professor Teknik, lulus dari Fakultas Teknik, Universitas Cairo, sebelum ia memperoleh Master dan Ph.D. di Universitas Purdue, Amerika Serikat, dan telah memenangkan berbagai penghargaan ilmiah. Beliau juga merupakan mantan Menteri Perhubungan -Juli 2004 sampai Desember 2005- era Ahmad Shafeeq, beliau mengundurkan diri setelah serangkaian insiden yang merenggut banyak nyawa warga Mesir, terutama setelah terjadinya kecelakaan kereta api di daerah Qalyub.

Setelah ditugaskan sebagai Perdana Menteri Mesir yang baru Dr Isham Sharaf langsung me-reshuffle kabinet yang ada. Kepala Militer Mesir Marsekal Hussein Thantawi, Ahad (06/03) mengeluarkan keputusan mengangkat Dr Usamah Al 'Abd -Wakil Rektor Studi Pasca Sarjana dan Riset Al Azhar- sebagai Rektor Universitas Al Azhar yang baru menggantikan Dr Abdullah Huseini Hilal yang diangkat sebagai Menteri Urusan Wakaf Mesir yang baru.

Lalu bagaimana nasib Syekh Al Azhar Dr Ahmad Thayyib, yang notabene ditunjuk langsung oleh Mubarak, Jum’at (19/03/2010) tahun lalu, setelah meninggalnya Syekh Muhammad Sayyid Thantawi pada Rabu (10/03/2010) di Arab Saudi. Kita tunggu saja drama politik Mesir selanjutnya. Apakah beliau ikut di-reshuffle karena masih rezim Mubarak, atau masih tetap seumur hidup (jabatan Syekh Al Azhar seumur hidup).

Seru juga ya jadi saksi sejarah Revolusi Mesir. Tetap berharap aktifitas perkuliahan -kegiatan belajar mengajar- tidak terganggu karena efek dari revolusi ini. Perlu diketahui, sampai saat ini kegiatan belajar mengajar semua sekolah dan universitas di Mesir diundur sepekan lagi -sudah saya tanyakan langsung ke bagian administrasi kemahasiswaan pascasarjana Al Azhar, Ahad (06/03)- . Sebenarnya sudah bosan akan berita pengunduran KBM yang sudah ditunda selama empat pekan semenjak meletusnya revolusi di Mesir 25 Januari lalu yang juga berakibat futur hampir setengah semangat ini. Tapi ketika mengingat kembali salah satu catatan BBM dengan Bang Cecep Emha, Jum’at (04/03) lalu, setengah semangat itu muncul kembali, beliau mengatakan “kata Ngkong Kiayi: Ilmu tanpa Jihad Lemah .. Jihad tanpa Ilmu Kalah .. Jihad Ente adalah mengangkat kualitas anak-anak Attaqwa di sana (Mesir)” butuh penafsiran yang cukup dalam.

*Tulisan ini selentingan saja sekaligus merangkum sebagian kondisi tanah air, khususnya Nurdin Halid yang tidak mau turun dari jabatan Ketua PSSI, serta ‘kondisi lainnya’. Apakah setiap rezim otoriter harus segera diadakan revolusi besar-besaran.

Thursday, August 26, 2010

Natijah .. Kau Membuat Jiwa Raga dan LC Ku Mati Suri


Natijah ..!! Iya benar Natijah .. Kata yang tidak asing lagi di telinga Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir), setiap mahasiswa yang mendengar kata tersebut akan terpacu jantungnya bila Natijah didengungkan kembali. Di Alazhar kata Natijah adalah momok yang sangat menakutkan kadang pula biasa saja bagi sebagian mahasiswa, karena Natijah adalah hasil akhir dari ujian yang dilakukan oleh mahasiswa/I Alazhar dari mulai ujian termin satu/ujian musim dingin pada bulan Januari dan ujian termin dua/ujian musim panas pada bulan Juni.

Dua bulan berlalu, sungguh tidak seperti biasanya menunggu Natijah selama ini, karena sejak tingkat satu sampai tingkat tiga setelah dua minggu selesai ujian akhir pasti bisa mengontrol ke bagian kontrol Natijah. Tapi apa boleh buat, hari berlalu meninggalkan jam, bulan berpamitan melangkahi minggu, Natijah yang diharapkan tak kunjung datang. Jiwa ku mulai tidak stabil diakibatkan oleh bayangan Natijah yang selalu beterbangan di fikiranku, belum lagi orangtua ku serta sanak famili ku yang selalu menanyakan tentang Natijah akhirku di Alazhar. Semua fikiran, bisikan, rayuan, bayangan serta semua yang membebaniku seakan bersatu mulai menyerang tubuhku yang lemah. Aku benar-benar tidak sanggup menjalani hari-hari ku karena menunggu Natijah akhir selama ini, sampai awal ramadhan pun belum terdengar kabar Natijah itu kapan dipampang, sampai 12 hari di awal ramadhan hatiku tak karuan semakin berdebar menanti datangnya Natijah. Ramadhanku seakan sepi, sunyi, semua serba sendiri, dari mulai berbuka dan menyiapkan sahur aku lakukan di rumah. Tepat pada hari senin, malam ketiga belas ramadhan, salah satu teman satu kuliahku memanggil dari kejauhan seakan ingin memberitahukan sesuatu hal yang penting kepadaku, tapi aku terasa agak segan karena setelah pulang shalat tarawih malam itu aku hendak membeli ayam untuk menu buka puasaku, temanku terus memanggilku tidak henti-hentinya, aku pun menghampirinya, betul sekali, dia memberitahukan kepadaku bahwa Natijah sudah bisa dilihat di Syuun Thulab atau di kantor bagian urusan mahasiswa tingkat 4.

Semenjak malam ketiga belas itulah aku mulai berdebar menantikan kabar Natijahku, semua orang yang dekat kepadaku tak segan aku meminta doa kepadanya, dari mulai keluarga, sahabat karib sampai semua orang yang menanyakan tentang Natijah pun tak luput dari permintaan doa itu. Selasa siang aku memberanikan diri untuk pergi ke kampus untuk melihat Natijah ku dicatatan nilai yang dipegang oleh penanggung jawab Syuun Thulab tingkat 4, tiba di depan pintu masuk, bacaan dzikir dan doa-doa khusus tak berhenti aku kumandangkan dalam hati, tapi apa yang terjadi, penanggung jawab Syuun ku tadi membuatku takut, karena memang aku melihat dia sangat sibuk menulis semua nilai yang hampir tujuh ratusan orang, dengan langkah yang tak pasti aku izin untuk melihat Natijahku, lembar demi lembaran nilai aku lihat dimana letak nilaiku berada, dengan raut wajah penanggung jawab yang seolah-olah marah aku dibuat tidak sanggup lagi, aku melihat namaku di sana, ada dua mata kuliah yang tertulis untuk tashfiyah atau remedial di barisan namaku, badanku lemas tidak berdaya, jiwa ini rasanya tak karuan lagi, fikiran melayang seakan hidupku sudah berakhir, nadzar ku seakan sia-sia belaka, karena aku merasa bisa menjawab dengan baik dua mata kuliah tadi, tanpa berfikir panjang dan tanpa izin keluar aku berteriak dalam hati, tanpa kembali mengakidkan apakah itu benar nilaiku atau aku melihatnya kurang teliti karena memang cuma sekilas saja langsung ditutup lembaran nilai itu.

Merenung, muhasabah diri, jiwa tak labil, semua fikiran yang tidak baik kali ini membunuhku, aku baru tahu rasanya sakit hati karena Natijah yang diluar dugaan, ramadhanku seakan tidak berarti, tapi, aku terus berdoa dan memohon ampun kepada Allah, mungkin aku kurang mendekatkan diri kepada-Nya , cobaan berat dalam ramadhanku harus kulalui dengan perasaan gundah dan gelisah. Ya Allah .. Ya Rabbi ampunkan segala kesalahan dan kekhilafan yang hamba telah perbuat .. Aku terus berdoa dan memohon kepada-Nya, shalat taubat pun aku kerjakan, permintaan maaf kepada orang-orang pun aku tunaikan, aku berusaha untuk sabar dan tegar menghadapi taqdir Allah yang dicantumkan kepadaku. Aku menulis surat permohonan maaf dan doa kepada keluarga ku melalui facebook, namun aku tak berani untuk bilang apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, karena aku tak mau membebani keluargaku dengan masalah yang aku hadapi. Tapi dalam benakku, sebelum Natijah itu terpampang benar di dinding atau jendela Alazhar, aku hanya meminta doa kepada semua keluargaku untuk mendoakan ku agar lulus dalam ujian akhir strata satu ku ini.

Jiwa ku semakin tegar dan berusaha tidak putus asa dengan apa yang dituliskan Allah padaku, aku tidak mau karena Natijah yang diluar dugaan itu membuat ibadah ku kepada Allah menurun drastis, aku tidak mau tergoda oleh bujuk rayuan syetan yang terus menghantuiku, aku terus berdoa kepada Allah dalam sujud suciku setiap shalat wajib dan sunnah .. Ya Allah .. Jika ini memang sudah taqdir yang Engkau tulis kepadaku .. Berikan aku ketegaran dalam menjalani hari-hari ku ke depan, dan berikan semangat kepadaku untuk memperbaiki nilai yang turun itu .. Dan satu hal lagi .. Jangan Engkau cabut nikmat iman-Mu dari ku .. Siang hari setelah shalat Dzuhur berjamaah dengan langkah pasti dan siap menerima ketentuan Allah yang diberikan kepadaku, aku kembali ke kantor Syuun Thulab tingkat 4, kembali pula rasa khawatir itu menyelimutiku, kali ini sang penanggung jawab itu marah kepadaku, karena dia benar-benar sibuk menulis semua nilai akhir tingkat 4, dengan muka senyum aku meminta kepadanya untuk mengakidkan Natijahku yang sebenarnya, tapi aku malah melihat dengan pasti Natijah temanku yang harus remedial satu mata kuliah karena ketika aku ingin melihat Natijahku aku masih melihat dengan samar-samar dua mata kuliah yang ada dalam garis nilaiku. Aku masih terus berdoa kepada Allah agar diberikan keputusan terbaik kepada ku, karena aku pun yakin Allah tidak akan membebani masalah yang diluar kemampuanku, dan aku pun yakin setiap amalan perbuatan serta kerja keras ku sewaktu ujian Allah akan membalasnya sesuai dengan amalan ku tersebut.

Hari ini, hari ke enam belas bulan ramadhan Natijah tingkat 4 terpampang, tapi aku belum ke kampus untuk memeriksanya, dengan hati dan jiwa yang penuh kelapangan, aku semakin percaya diri menghadapi hari-hari ku ke depan, tak segan aku pun berkata jujur kepada setiap teman atau orang yang menanyakan kabar Natijahku, dengan penuh keikhlasan aku jawab bahwa aku harus tashfiyah dua mata kuliah, aku tidak mau mengganggu kegiatan ramadhan ku karena Natijah ku itu. Allah Maha Segalanya, sesuatu yang diluar dugaan manusia apapun pasti akan terjadi, iman ku harus kuat. Ketika aku sedang beristirahat di kamar ku selepas pulang shalat dzuhur, ada suara dari bawah berteriak kencang, memanggil namaku, iya aku mengenal suara itu, itu suara temanku, dia berteriak dari bawah memanggil namaku, "Mabruk .. Mabruk .. Irhamni sudah LC .. ". Dalam hati aku bersabar, kenapa masih ada orang yang mau membuat hati ku kacau dengan candaan yang berlebihan itu. Aku buka jendela kamarku, dan berkata kepadanya "Jangan becanda berlebihan ah .. " selorohku kepadanya, namun temanku itu sepertinya tidak becanda, karena ketika aku bilang kepadanya sumpah demi Allah, dia menunaikan sumpahnya itu, dengan jiwa dan fikiran yang penuh tanda tanya, aku bergegas untuk mengambil air wudhu untuk melakukan shalat sunnah agar aku diberikan yang terbaik oleh Allah. Dengan mengucapkan bismillah, aku pergi ke kampus untuk melihat dengan mata kepalaku sendiri tentang nasib Natijah akhirku, pas sampai di kuliah, salah seorang temanku meneleponku melalui telepon genggam ku, "Alfu Mubarak Am .. Mubarak ya .. Nte Jayyid lagi", aku langsung menanyakan kepadanya di mana letak Natijah tingkat 4 itu ditempel. Dengan mengucapkan Alhamdulillah dan pujian syukurku kepada Allah, air mata ini mengalir dengan sendirinya, iya benar, karena aku sudah melihat dengan pasti Natijah akhirku yang sebenarnya dengan perasaan tenang. Ya Allah .. Terima kasih banyak Engkau telah mendengar rintihan doaku selama tiga hari yang lalu di saat aku benar-benar tidak terpedaya .. Terima kasih ku juga ku ucapkan kepada kedua orang tua ku, ummi, abi, kakak-kakakku, adik-adikku, kakak pembimbingku, semua sanak keluargaku, semua teman-temanku, semua orang yang mendoakan ku agar aku lulus mendapatkan LC strata satu ku di Alazhar dengan lancar. Terima kasih Alazhar ku, Mesir ku, para dukturku yang mengajarkan aku tidak kenal rasa lelah, semua pihak kuliah. Terima kasih Kuwait ku, yang memberikan aku beasiswa prestasi setiap bulan selama aku tinggal di Mesir. Semoga Allah membalas semua doa dan kebaikan kalian dengan balasan yang berlipat ganda. Natijah .. Kau membuat jiwa raga dan LC ku mati suri .. Dengan menghidupkan kembali rasa semangat untuk meraih gelar MA dan DR yang menjadi impian ku dan semua orang yang menyayangiku, semoga Allah memudahkan untuk mendapatkan semuanya. Aamiin ..

Daqahlia, 26 Agustus 2010 M. / 16 Ramadhan 1431 H.

Sunday, May 09, 2010

بحث عن سمسار بورصة الأوراق المالية ومعاونيه في ضوء الفقه الإسلامي دراسة فقهية معاصرة



جامعة الأزهر
كلية الشريعة والقانون
بالدقهلية


بحث عن

سمسار بورصة الأوراق المالية

ومعاونيه في ضوء الفقه الإسلامي

دراسة فقهية معاصرة

إعـــــــداد :

ارحمني بن الحاج رافعون الإندونيسي
رقم الجلوس : ١٠٦٧٦


إشراف :
د. محمد شكري الجميل العدوي
أستاذ الفقه المقارن بالكلية



٢٠٠٩- ٢٠١٠ م

بسم الله الرحمن الرحيم


الحمدُ لله رب العالمين وبه نستعين وعلى أمور الدنيا والدين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين أما بعد :

فقد جاءت الشريعة الإسلامية لتحقيق مصالح العباد وهدايتهم إلى سبيل الرشاد ، ولهذا نظمت المعاملات المالية تنظيماً دقيقاً في أبواب الفقه الإسلامي ، وتضمنت هذه المعاملات العقود التي تنظم العلاقة بين الناس بصفة عامة ، وهي العقود المسماة التي أقرت الشريعة الإسلامية التعامل بها بين الناس ، إلاَّ أنَّ مصالح الناس اليومية متنامية ومتغيرة بحسب الزمان والمكان ، وعقد السمسرة من العقود غير المسماة التي لم تقرُّ لها الشريعة أحكاماً خاصةً بها تميزها عن غيرها من العقود.

اتسمت المعاملات المالية والاقتصادية بالعالمية فى ظل عصر العولمة والجات والنظام الاقتصادى العالمى الجديد ، وساعد على ذلك التقدم العظيم فى وسائل تقنية المعلومات وشبكات الاتصالات الإلكترونية العالمية ، وأصبح التعامل فى أسواق الأوراق المالية العالمية ممكناً من أى مكان.
وتحتاج المؤسسات المالية الإسلامية وما فى حكمها إلى معرفة الضوابط الشرعية للتعامل مع السماسرة بصفة عامة فى أسواق الأوراق المالية المحلية وبصفة خاصة فى أسواق الأوراق المالية العالمية ، ومعرفة الجائز شرعاً والمنهى عنه شرعاً ، وكذلك معرفة الشروط الواجب توافرها فى هؤلاء السماسرة .
ويختص الجزء الأخير من هذه الدراسة بتناول الضوابط الشرعية للتعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية العالمية مع الإشارة إلى الشروط الواجب توافرها فيهم وذلك فى ضوء أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية والفتاوى الصادرة عن مجامع ومجالس الفقه الإسلامى .
فأقدم بين حضراتكم هذا البحث إلى فضيلتكم مع رجائي التوجيهات والإرشادات لنفسي ولهذا البحث الوجيز فعسى الله أن يجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه.
وأخيراً والله أرجوه أن يوفقني وإياكم لما يحبه ويرضاه وأن يجعل هذا العمل خالصا لوجهه الكريم إنه ولي المؤمنين.
وآخر دعوانا عن الحمد لله رب العالمين.
تفهنا الأشراف ، ليلة الخميس ٢٧ أبريل ٢٠١٠
كتبه
ارحمني بن الحاج رافعون الإندونيسي

خطة الدراسة

هذا البحث الوجيز المتواضع يشتمل على مقدمة وأربعة مباحث والخاتمة على النحو التالى:

المبحث الأول: بين يدي السمسرة والسمسار ومعاونيه
وفيه مطلبان:
المطلب الأول: مفهوم السمسرة والسمسار ومعاونيه في الفقه الإسلامي
المطلب الثاني: أدلة مشروعية السمسرة والسمسار ومعاونيه

المبحث الثاني: طبيعة عقد السمسرة في سوق الأوراق المالية

المبحث الثالث: الشروط الواجب توافرها في السمسار في سوق الأوراق المالية

المبحث الرابع: الضوابط الشرعية العامة للتعامل مع السمسرة

الخاتمة
فأبدأ هذا البحث الوجيز المتواضع وأقول وبالله التوفيق والهداية ...


المبحث الأول: بين يدي السمسرة والسمسار ومعاونيه
o المطلب الأول: مفهوم السمسرة والسمسار ومعاونيه في الفقه الإسلامي

♦ تعريف السمسرة وقد أفادَ بأنها في الأصل كلمة فارسية من حيث الأصل ، ومع ذلك فهي معربة وقد استعملها العرب في زمن الجاهلية ، ويُرادُ بها في اللغة : الوسيط بين البائع والمشتري لإمضاء البيع ، واستشهدَ بكلام الأعشى :
فأصبحتُ لا أستطيع الكلا م سوى أن أراجع سمسارها
وأما في الاصطلاح فلها تعريفات متقاربة ، وقد عرفها أرباب المذاهب الفقهية الأربعة ، وقد عرفها ابن تيمية بأنها: (التوسط بين المتعاقدين للتوفيق بينهما لإتمام العقد).
يُقصد بالسمسرة فى مجال المعاملات المالية : بأنها الوساطة بين البائع والمشترى ومن فى حكمهما فى تنفيذ عمليات البيع والشراء ونحو ذلك نظير أجر معلوم يتم التراضى عليه بين الأطراف ، وتعتبر السمسرة نوع ذو طبيعة خاصة من أنواع الوكالة طبقاً للأوامر الصادرة من الطرف المعطى لها.
♦ مفهوم السمسار:
ويطلق على الشخص الذى يقوم بعمليات السمسرة اسم الوسيط أو الدلال بأنه يتوسط بين البائع والمشترى ، كما أنه أحياناً يقدم معلومات تدلهما على تحقيق رغباتهم .
ويعتبر عمل السمسار من الأعمال المهنية والتى تتعلق بتقديم خدمات لمن يرغب من المتعاملين نظير أجر أو أتعاب يتم الاتفاق عليها فى إطار القوانين والأعراف ، يطلق عليها أتعاب السمسرة .
ويختلف عمل السمسار عن الأجير وعن الشريك من الناحية الشرعية والقانونية والمهنية ، وليس هذا هو المجال لمناقشة ذلك تفصيلاً ويرجع فى ذلك إلى المراجع المتخصصة.
سمسار الأوراق المالية : هو شخص ذو مؤهلات ومواصفات معينة يتلقي أوامر العملاء بالبيع والشراء في الأوراق المالية ، ويقوم بتنفيذها نيابة عنهم وبمعاونة مساعديه مقابل سمسرة - عمولة – محددة باللائحة ، ويمارس مهنته منفردا أو كشريك متضامن في شركة سمسرة.
وقيل : هو شخص ذو دراسة وعلم وكفاءة في شؤون الأوراق المالية ، ويقوم بعقد عماليات بيع وشراء الأوراق المالية من خلال بورصة الأوراق المالية ، وفي المواعيد الرسمية المحددة لها لحساب العملاء مقابل عمولة محددة من كل من البائع والمشتري ، ويعتبر السمسار ضامنا لصحة كل عملية تم تنفيذها بيعا وشراءً.
♦ معاونو سمسار بورصة الأوراق المالية:
يقوم سمسار الأوراق المالية في الأصل بعمله بنفسه ، ولكن ما أن يتسع نشاطه حتى يستشعر الحاجة في تنفيذ أعماله إلى أن يتخذ لنفسه أشخاصاً يعاونونه في تنفيذ أعماله ، ويكونون تابعين له ويعملون لحسابه وتحت مسؤوليته.
وعلى ذلك فمعاونو سمسار بورصة الأوراق المالية : هم أشخاص تابعون له يعاونوه في تنفيذ أعماله ويعملون لحسابه وتحت مسؤوليته. وهؤلاء المعاونين هم :
1- المندوب الرئيسي :
وهو مستخدم يعمل بأجر من قبل السمسار ، ليعاونه في تنفيذ الأوامر داخل المقصورة ، ولا يجوز له العمل إلا باسم السمسار الذي يتبعه وتحت مسؤوليته ، ولا يجوز أن يكون طرفاً في العمليات التي يعقدها السمسار ، ولا أن يعمل لحساب الخاص.
2- الوسيط :
وهو أداة اتصل بين العميل والسمسار ، ويتلقي الأوامر من العميل ويبلغها للسمسار - شركة السمسرة – المقيد عنده ، مقابل عمولة لا تتجاوز نصف المحصل من عمولة العمليات المعقودة بواسطته ، وهو مسئول عن المليات التي يتوسط فيها.
والوسطاء نوعان :
الأول: وسطاء لهم حق التعاقد : وهؤلاء هم الذين يجوز لهم دخول المقصورة لتنفيذ الأوامر الموكلة إليهم باسم السمسار - شركة السمسرة – الذي يتبعونه ولحسابه وتحت مسئوليته.

الثاني: هم الوسطاء الذين ليس لهم حق التعاقد : وهولاء يظل عملهم خارج نطاق المقصورة ، لأنهم ليس لهم حق التعاقد.
3- صانع السوق :
يمكن للوسيط أن يقوم بدور صانع السوق ، وذلك بقيامه ببيع وشراء الأوراق المالية بعد الترخيص من لجنة البورصة ، حيث يحق له أن يعمل لصالح عملائه أو لصالح نفسه.
ولصانع السوق دور مهم في المحافظة على توازن السوق واستمراريته ، فهو مشتر عندما يكون السمسار مشترياً ، ويترتب على ذلك تدفق السيولة في السوق ، والمحافظة على توازن العرض والطلب.
4- شركات المقاصة والتسوية :
تقوم هذه الشركات بدور مكمل لعمل السمسار أو شركة السمسرة في إتمام صفقات التداول ، حيث تقوم بما يأتي :
استكمال العمليات التي قامت بها شركات السمسرة من استلام وتسليم الأوراق المالية.
تسوية المراكز المالية الناتجة عن عمليات التداول بين الأطراف المتعاملة والمقاصة بينها.
الحفظ المركزي ، حيث يودع العملاء الأوراق المالية عندها مقبل إيصالات ، وعند إتمام صفقة عليها ، تقوم الشركة بقيد ملكية الأوراق لحساب المشتري ، وخصمها من ملكية حساب البائع وهي ما زالت في الحفظ المركزي ، مثلما يحدث في البنوك من تسوية حساب عميل إلى حساب آخر.

5- المتعهدون بتغطية الإصدارات المالية :
يمكن للوسيط بالإضافة لدوره كصانع السوق ، أن يمثل المتعهد لتغطية إصدار الأوراق المالية (يعني الإصدارات الجديدة للأوراق المالية) ، إذ يتعهد الوسيط أو من يقوم مقامه - مثل مؤسسة مالية ، أو بنك استثمار ، أو شركة استثمار – للجهة المصدرة بتسويق جميع إصدارتها مقابل عمولة معينة ، وفي هذه الحالة يتيعن عليه شراء ما يعجز عن تسويقه من هذه الإصدارات.

o المطلب الثاني: أدلة مشروعية السمسرة والسمسار ومعاونيه

تعتبر مهنة السمسرة من احتياجات الناس فى كافة المعاملات ولا سيما المعاملات المالية والتجارية حيث يحتاج البائع إلى من يعاونه فى بيع سلعته ويحتاج المشترى إلى من يدله عن ما يحتاجه من سلع ، وتأسيساً على ذلك يعتبر عمل السمسار من موجبات التجارة ولا سيما العالمية ، وتدخل فى نطاق التعاون على قضاء الصالح .

ولقد أجمع الفقهاء على مشروعية السمسرة وعمل السمسار واعتمدوا فى ذلك على مجموعة من الأدلة المستنبطة من مصادر الشريعة الإسلامية من أهمها ما يلى :( )
♦ ـ الكتاب:
يقول الله تبارك وتعالى : ........ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ [المائدة:2] ، ويعتبر عمل السمسار أحد صيغ التعاون فى تنفيذ عمليات البيع والشراء وما فى حكمهما فى إطار أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية .
♦ ـ السنة النبوية:
يقول الرسول صلى الله عليه وسلم : إن لله عباداً اختصهم لحوائج الناس يفزع الناس إليهم فى حوائجهم ، أولئك الآمنون من عذاب الله [ رواه الطبرانى ] ، وتدخل مهنة السمسرة فى نطاق قضاء حوائج الناس لأنها مما يحتاجها البائع والمشترى فى تحقيق مقاصدهم ، ولقد أجاز رسول الله صلى الله عليه وسلم أعمال السماسرة فى الأسواق ، فقد روى قيس الجهنى أنه قال : خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن نتبايع بالسوق ، وكنا نُدعى بالسماسرة ، فقال : يا معشر التجار إن الشيطان والإثم يحضران البيع فشوبوا بيعكم بالصدقة [رواه الترمذى وقال حديث حسن صحيح] ، ويُفهم من هذا الحديث أن الرسول صلى الله عليه وسلم لم ينكر عليهم السمسرة وأوجب عليهم الزكاة والصدقات لتطهير أموالهم من اللغو والحلف والكذب ونحو ذلك من الآثام .
♦ ـ الإجماع:
لم يرد عن الفقهاء ما يشير إلى عدم جواز مهنة السمسرة ، بل أجمعوا على جوازها ووضعوا لها الضوابط الشرعية على النحو الذى سوف يرد تفصيلاً فيما بعد ، فقد قال ابن سيرين وعطاء وإبراهيم والحسن فى أمر السمسار : لا بأس ، كما ورد عن ابن عباس رضى الله عنهما قوله عن السمسار : (( لا بأس بأن يقول بع هذا الثوب فما زاد على كذا وكذا فهو لك ))( ) ، وتعتبر أعمال السمسرة من الأعمال المباحة شرعاً وفقاً للقاعدة الشرعية : (( الأصل فى العقود الإباحة فلا يُحرم منها إلا ما حرمه الله ورسوله ، ولم يحرم الله عقداً فيه مصلحة للمسلمين بلا مفسدة )) ، وتأسيساً على ذلك أن أى عقد مستجد فى الحياة المعاصرة يكون مقبولا شرعاً إذا لم يتصادم مع دليل شرعى يشتمل على مفسدة راجحة ( ) .
وخلاص القول فى مشروعية السمسرة : أنها من الأعمال المشروعة بأدلة من الكتاب والسُنة والإجماع ما دامت تلتزم بأحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية .

المبحث الثاني: طبيعة عقد السمسرة في سوق الأوراق المالية

يعتبر عقد السمسرة من العقود المشروعة يتعلق بالوساطة بين البائع والمشترى فى سوق الأوراق المالية فى تنفيذ عمليات بيع وشراء الأوراق المالية وغيرها فى ضوء الأوامر الواردة له من العملاء وطبقاً للقوانين والتعليمات المنظمة لذلك نظير عمولة (أجر أو أتعاب) يتم الاتفاق عليها .
وتتمثل أركان هذا العقد فى الآتى :
الإيجاب: الصادر من البائع الراغب فى البيع ، أو من المشترى الراغب فى الشراء.
القبول: الصادر من السمسار الموافق على تنفيذ عمليات البيع أو الشراء وفق الأوامر الواردة له .
موضوع العقد: الوساطة فى تنفيذ عمليات الشراء أو البيع.
صيغة العقد: تنفيذ عملية كذا..... بشروط وضوابط كذا ..... نظير عمولة كذا .....

ويجب أن يشترط فى أركان هذا العقد الشروط العامة للعقود فى الفقه الإسلامى ، وليس هذا هو مناط الدراسة والبحث ، ولمزيد من التفصيل يمكن الرجوع إلى المراجع المذكورة فى الهامش ( ) .

المبحث الثالث: الشروط الواجب توافرها في السمسار في سوق الأوراق المالية

يشترط فيمن يقوم بأعمال السمسرة بصفة عامة وفى سوق الأوراق المالية بصفة خاصة مجموعة من الشروط (المعايير) والتى يمكن تبويبها فى مجموعتين رئيسيتين هما :
شروط تتعلق بالتكوين الشخصى للسمسار من حيث خلقه وسلوكياته (الأخلاق والسلوك).
شروط تتعلق بالجوانب الفنية من حيث المعارف والخبرة المهنية (الكفاءة الفنية).

وسوف نتناول هذه الشروط بشىء من التفصيل مع التطبيق على سوق الأوراق المالية.

أولاً القيم الأخلاقية والسلوكية للسمسار فى سوق الأوراق المالية: من أهمها ما يلى:

• الصدق : يلتزم السمسار فى كل معاملاته بالصدق والباعث له على ذلك قيمة الإيمانية ، ودليل ذلك قول الله تبارك وتعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
[التوبة:119] ، والدليل من السنة النبوية قول الرسول صلى الله عليه وسلم : التاجر الصدوق مع النبيين والصديقين والشهداء [رواه الترمذى] ، ويقول صلى الله عليه وسلم : البيعان بالخيار حتى يتفرقا فان صدقا وبَيَّنا بورك لهما فى بيعهما ، وإن كتما وكذبا محقت بركة بيعهما [البخارى ] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يكون صادقاً فى البيانات والمعلومات التى يقدمها لعملائه من البائعين والمشترين ، ويتجنب الكذب والغش والتدليس والكتمان وما فى حكم ذلك من الأمور التى حرمتها الشريعة الإسلامية.

• الأمانة : يلتزم السمسار بالأمانة فى المعاملة مع المتعاملين معه لأن هذا من موجبات التعاقد معه، ولقد أمر الله سبحانه وتعالى بالأمانة فقال : إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعاً بَصِيراً [النساء:58] كما أكد الرسول صلى الله عليه وسلم على ذلك فقال : أد الأمانة لمن ائتمنك ولا تخن من خانك [رواه أحمد وأبو داود]
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يتحرى الأمانة فى كل معاملاته طبقاً للأوامر الواردة له ، كما يجب أن يكون أميناً فى المشورة والنصيحة التى يقدمها لعملائه عند طلبها فالمستشار مؤتمن ويتجنب الغش والتدليس والتزوير.

• الوفاء : يلتزم السمسار بالوفاء بالعقود والعهود ولا سيما بالأوامر الواردة له من العملاء ، حيث أن ذلك من موجبات الثقة فيه كوسيط ودلاَّل ، ولقد أمر الله سبحانه وتعالى بالوفاء فقال : وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ [النحل:91] ، ويؤكد الرسول صلى الله عليه وسلم على قيمة الوفاء بالعهود فيقول : من كان بينه وبين قوم عهد فلا يحل عهدا ولا يشدنه حتى يمضى أمره أو ينبذ إليهم على سواء [رواه الترمذى وقال حديث حسن ] .
وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يلتزم بوعوده وعهوده حتى يكون موضع ثقة من المتعاملين معه .

• النصيحة : يجب على السمسار أن يقدم النصيحة الصادقة والخالصة لعملائه وأن يكون لهم موجهاً ومرشداً إلى الأفضل والأحسن ، وأن لا يخشى إلا الله ، ويؤمن إيماناً راسخاً بأن الله هو الرزاق ذو القوة المتين ، ودليل خِصلة النصح من القرآن الكريم قول الله تبارك وتعالى : إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر:3] ، ويقول الرسول صلى الله عليه وسلم : الدين النصيحة ، قلنا لمن ؟ ، قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم [رواه مسلم] ، وتأسيساً على ذلك يجب أن يكون السمسار مقداماً فى تقديم النصائح والتوصيات والإرشادات لعملائه لما فيه مصلحة لهم وأن لا يكون غشاشاً أو مدلساً أو مزوراً وما فى حكم ذلك ، ويرى فقهاء المعاملات أن الدافع والباعث والحافز على التزام السمسار بهذه القيم الأخلاقية هو القيم الإيمانية ومنها الإخلاص فى العمل ابتغاء وجه الله سبحانه وتعالى بجانب الباعث المجتمعى والمهنى .

ثانياً قيم الكفاءة المهنية : ومن أهمها ما يلى :

• أن يكون مؤهلا تأهيلاً علمياً مناسباً يمكنه من القيام بالمهام المكلف بها على الوجه اللازم ، وأن يكون على علم مستمر بالمستجدات فى مجال المعاملات فى أسواق الأوراق المالية .

• المعرفة التامة بالجوانب القانونية التى تحكم المعاملات فى سوق الأوراق المالية حتى يجنب عملائه مخاطر مخالفتها ، كما يجب أن يكون على علم تام بالجوانب الإجرائية اللازمة لتنفيذ الأوامر الواردة له من العملاء .

• أن يكون السمسار متقناً فى تنفيذ الأوامر الواردة له وفقاً للقوانين والأعراف والنظم واللوائح ، وله أن يستعين فى ذلك بالأساليب المعاصرة ، ولقد أوصى الرسول صلى الله عليه وسلم فقال : إن الله يحب إذا عَمِل أحدكم عملاً أن يتقنه [رواه البيهقى] .

• أن يأخذ السمسار بمنهج المعاصرة فى كافة أعماله ومعاملاته ، فالحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها فهو أحق الناس بها ، وأن يكون مقداماً ومبدعاً ، ومن أساليب المعاصرة الواجب عليه الأخذ بها :
أساليب الحاسبات الإلكترونية المتقدمة وبرامجها المعاصرة .
أساليب شبكات الاتصالات المتقدمة وبرامجها المعاصرة .
نظم المعلومات المتكاملة العالمية الإلكترونية .
بنوك البيانات الوافية العالمية الإلكترونية .
نظم المواقع الإلكترونية المتخصصة .
وهكذا ....

• أن يستعين السمسار بفريق من الخبراء والمستشارين من التخصصات ذات العلاقة بمعاملاته والذين يقدمون له المعرفة والمشورة والرأى السديد مما يحتاجه ليقدمه لعملائه ، ومن بين هذه التخصصات : الاستثمار و الاقتصاد .
المعاملات الشرعية .
الجوانب القانونية .

• أن لا يمارس السمسار أى أفعال ضارة بالغير أو بالسوق وفقاً للقاعدة الشرعية المتواترة : ((لا ضرر ولا ضِرار ، والضرر يُزال )) كما يجب أن لا يقدم معلومات خاطئة ومضللة للعملاء ليتكسب من وراء ذلك بدون حق مشروع ، كما يجب ألا يساعد بعض العملاء على القيام بأعمال ضارة بالآخرين بهدف إخراجهم من السوق أو ما فى حكم ذلك .

• أن لا يمارس أى أعمال تتعارض مع المصالح المرسلة المشروعة الذى وضعها ولى الأمر (الجهات الحكومية المشرفة والمراقبة للأسواق ) لضبط وتنظيم التعامل فى الأسواق ما دام ذلك لا يتعارض مع أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية والأعراف السائدة .

تعقيب :
نخلص من الشروط السابقة الواجب توافرها فى السمسار فى أسواق الأوراق المالية أنها تدور حول محورين أساسيين هما : القيم الأخلاقية والسلوكية من ناحية والكفاءة الفنية والمهنية من ناحية أخرى وهذا يضمن أداء خدمات السمسرة بجودة وإتقان بما يحقق المقاصد المرجُوة التى وردت فى الأوامر الواردة من العملاء ، كما يحقق له الأجر الحلال الطيب المبارك .


المبحث الرابع: الضوابط الشرعية العامة للتعامل مع السمسرة
يحكم التعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية مجموعة من الضوابط الشرعية الكلية العامة والمستنبطة من مصادر الشريعة الإسلامية وتتسم هذه الضوابط بمجموعة من الخصائص المميزة لها مثل :الثبات والموضوعية والشمولية والتوازن والتحفيز والمعاصرة والقابلية للتطبيق فى كل زمان ومكان ، كما أن مبعث الالتزام بها بصفة عامة : القيم والمُثل والأخلاق والسلوكيات الحسنة وتحقيق المصالح والمنافع للناس وللمجتمع ، وهى تنطبق على كافة السماسرة المحليين والعالميين .
ومن أهم هذه الضوابط ما يلى :

• المشروعية فى الاستثمار والمعاملات :

ويقصد بذلك أن يكون مجال معاملات السمسرة مشروعاً لا يتعارض مع نص صريح فى القرآن الكريم أو السنة النبوية الشريفة أو إجماع الفقهاء الثقات الصادرة عن مجامع الفقه ، كما يجب تجنب المعاملات التى تحرمها الشريعة الإسلامية والتى تتضمن الربا والغرر والتدليس والاحتكار والمقامرة (الميسر) والجهالة وكل ما يؤدى إلى أكل أموال الناس بالباطل.

وتأسيساً على ذلك يجب أن يبين العميل للسمسار ذلك بوضوح حتى يقدم له البيانات والمعلومات عن طبيعة الشركات المصدرة للأوراق ليختار منها ما يدخل فى نطاق الحلال المشروع.

• الطيبات فى الاستثمارات والمضاربات :

ويقصد بذلك أن تتعلق معاملات السمسرة بالأوراق المالية لشركات تعمل فى مجال الطيبات ذات العلاقة بتحقيق مقاصد الشريعة الإسلامية ،وهى حفظ الدين والنفس والعقل والعِرض والمال ، وهذا الضابط ثابت فى كل الأديان السماوية ، ودليل ذلك قول الله تبارك وتعالى : ........ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [لأعراف:157] ، ويقول الرسول صلى الله عليه وسلم : إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا ، ولا تقبل صدقة من غلول [رواه مسلم] .

وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يقدم بيانات ومعلومات لعملائه عن طبيعة أنشطة الشركات التى يتم التعامل فى أسهمها فى أسواق الوراق المالية حتى يوجههم إلى الحلال الطيب ، ولقد قامت بعض شركات الوساطة بذلك من خلال مساعدة الفقهاء وعلماء الاقتصاد الإسلامى.

• المحافظة على الأموال من الهلاك والضياع :

من بين مقاصد الشريعة الإسلامية حفظ المال ، ولذلك يجب أن يتعاون السمسار مع عملائه فى التعامل فى أسواق الأوراق المالية فى اختيار الأوراق المالية وبالآليات التى تقلل المخاطر وتنمى العوائد ، فعلى سبيل المثال لا يجب الدخول فى معاملات ذات مخاطر عالية غير مجدية وتؤدى إلى هلاك المال ، كما يجب تجنب طرق التعامل ذات المخاطر العالية مثل الاختيارات والمستقبليات والمشتقات المالية والتى لم تجيزها الشريعة الإسلامية.

• تنمية المال فى إطار المشروعية والطيبات :

يسعى المتعاملين فى سوق الوراق المالية إلى تنمية استثماراتهم وفقاً لشرع الله سبحانه وتعالى ، وذلك من خلال اختيار الأوراق المالية التى تنمو فى قيمتها وفى عوائدها فى إطار الحلال الطيب ، ولقد حث الإسلام على تنمية المال بصفة عامة وعدم اكتنازه ، فيقول الله تبارك وتعالى : ........... وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ [التوبة:34] ، ويحث الرسول على الاستثمار فيقول صلى الله عليه وسلم : استثمروا أموالكم حتى لا تأكلها الصدقة [رواه الإمام أحمد] .

وتأسيساً على ذلك يجب على السمسار أن يدل وينصح ويرشد عملائه إلى أنواع الاستثمارات التى تنمى أصل المال وعوائده بالحلال وفى إطار أحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية.

• التوازن والتنوع لتقليل المخاطر وتنمية العوائد والأرباح :

اتصالاً بالضابط السابق يجب على السمسار أن يرشد ويوجه عملائه إلى مجموعة من الأوراق المتنوعة فى إطار المشروعية والطيبات بما تقلل المخاطر إلى أدنى مستوى ممكن وتنمى العوائد إلى أقصى مستوى ممكن ، وتساهم خبرات السمسار وما لديه من معلومات أن يحقق ذلك لعملائه ، وله أن يستعين فى ذلك بأهل الخبرة والاختصاص.


• المعلومية والتدوين والتوثيق بين السمسار وعملائه لحفظ الحقوق :

ويقصد بذلك أن كل من العميل والسمسار وغيرهم مقدار ما يقدمه من مال للاستثمار ومقدار ما يتحمله من مخاطر إذا حدثت ، وأن يكتب ذلك فى عقود موثقة ومكتوبة حتى لا يحدث جهالة وغرر ويؤدى ذلك إلى شك وريبة ونزاع بينهما ، ولقد تناول القرآن الكريم هذه المسألة فى آية التدوين فيقول الله تبارك وتعالى : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمّىً فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئاً فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهاً أَوْ ضَعِيفاً أَوْ لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيراً أَوْ كَبِيراً إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةَ تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [البقرة:282].
وتأسيساً على ذلك يجب أن تكون الأوامر الصادرة من المتعاملين مع السمسار مكتوبة وواضحة وشفافة ، كما يجب أن يكون عقد السمسرة بين العميل والسمسار مبيناً فيه كافة الشروط والاتفاقيات ولا سيما مقدار أجرة السمسرة.

تعقيب :

تتفاعل هذه الضوابط الشرعية مع بعضها البعض لتحقق للمتعاملين فى أسواق الأوراق المالية ولشركات الوساطة المالية والسماسرة مجموعة من المقاصد الهامة والمشروعة ومنها :

التعامل وفقاً لأحكام ومبادئ الشريعة الإسلامية لتحقيق النمو والنماء.

المحافظة على الأموال وتنميتها بالحق ومنعها من الاستثمار فى الحرام الخبيث.

المحافظة على حقوق المتعاملين والسماسرة وفقاً للعقود والعهود.

المحافظة على استقرار المعاملات فى الأسواق وتجنب الأزمات والتقلبات.

حماية أسواق الأوراق المالية من الغش والغرر والجهالة والتدليس والإشاعات المغرضة وكافة صور أكل أموال الناس بالباطل.
الــخـاتــــمة

إن الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه واقتفى أثره واسنن بسنته إلى يوم القيامة ، وبعد.

فإن هذا البحث الوجيز المتواضع لم يكن شاملاً كافياً حاوياً لكل مسائل موجودة في سمسار بورصة الأوراق المالية ومعاونيه وأن ثمة مسائل أخرى تحتاج إلى تفصيلها وتفريعها وتخريج أقوال الفقهاء فيها وإن شاء الله تعالى أن تدرسها سويا في أيام قادمة.

وأما من خلال ما تقدم في هذا البحث الوجيز المتواضع يلاحظ أربعة أشياء ، من أهمها ما يلى :
أولاً : تعتبر السمسرة من المهن الخدمية المشروعة بأدلة من الكتاب والسُنة والإجماع ، ولقد وضع الفقهاء من السلف والخلف لها الضوابط الشرعية لتحقيق مقاصدها المنشودة للمتعاملين فى الأسواق.
ثانياً : يعتبر السمسار وسيطاً ومرشداً وموجهاً وناصحاً لمن يتعاملون معه وفق الأوامر التنفيذية الصادرة له فى عمليات البيع والشراء وما فى حكم ذلك مقابل أجر أو أتعاب معلومة ومحددة يتم الاتفاق عليها طبقاً للقوانين والأعراف السائدة فى الأسواق ولقد كَيَّف بعض الفقهاء التعاقد معه على أنه عقد وكالة بنظام خاص.
ثالثاً : يشترط فى السمسار ومعاونيه بصفة عامة سواء كان محلياً أو عالمياً مجموعة من الشروط يمكن تبويبها فى مجموعتين رئيسيتين هما :
شروط القيم والمثل والأخلاق والسلوكيات.
شروط الكفاءة الفنية والمهنية.
ويستنبط من هذه الشروط معايير جودة أداء خدمة السمسرة بصفة عامة ، والسمسرة فى أسواق الأوراق المالية المحلية والعالمية بصفة خاصة ، وهذا أمر ضرورى وحاجى فى ظل الأزمات المالية العالمية.
رابعاً : يحكم التعامل مع السماسرة فى أسواق الأوراق المالية بصفة عامة مجموعة من الضوابط الشرعية الواجب مراعاتها فى الأوامر التنفيذية الصادرة لهم من العملاء ، من أهمها ما يلى :
• ضابط مشروعية المعاملات والاستثمارات.
• ضابط الطيبات فى الاستثمارات.
• ضابط المحافظة على الأموال من الهلاك والضياع.
• ضابط تنمية الاستثمارات وعوائدها.
• ضابط تقليل المخاطر وتنمية العوائد.
• ضابط المعلومية والتدوين والتوثيق لحفظ الحقوق.
والحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات
 
قائمة المراجع المختارة

د. عادل عبد الفضيل عيد ـ (السمسرة في الفقه الإسلامي والتطبيقات المعصرة) ـ دار الفكر الجامعي ـ 2008م.
د. عطية فياض ـ (سوق الأوراق المالية فى ميزان الفقه الإسلامى) ـ دار النشر للجامعات ، القاهرة ، 1998م.
د. حسين حسين شحاتة ، د. عطية فياض ـ (الضوابط الشرعية للتعامل فى سوق الوراق المالية) ـ دار التوزيع والنشر الإسلامية ـ القاهرة ـ 2001م.
شعبان محمد إسلام البرواري ـ (بورصة الأوراق المالية من منظور إسلامي) ـ دارالفكرالمعاصرـ 2002م.
د.محمد شكري الجميل العدوي – (بورصة الأوراق المالية في ميزان الشريعة الإسلامية والقانون الوضعي) – مكتبة الكلية – 2009-2010م.
علاء الدين أحمد جبرـ (بورصة الأوراق المالية) ـ طبعة الهيئة المصرية العامة للكتاب ـ 2007م.
د. عبد الفضيل محمد أحمد – (بورصات الأوراق المالية) بحث منشور بمجلة البحوث القانونية والاقتصادية – كلية الحقوق , جامعة المنصورة, العدد الثالث, إبريل, 1988م.
د. محمد صبري هارون – (أحكام الأسواق المالية) – طبعة: دار النفائس للنشر والتوزيع- الأردن, الطبعة الأولى – 1999م
سيد سابق ، (فقه السنة) ، الجزء الثالث.
د. على أحمد الندوى ، (جمهرة القواعد الفقهية فى المعاملات المالية) ، الجزء الأول.
الشيخ على الخفيف ، (أحكام المعاملات الشرعية ) ، من مطبوعات بنك البركة الإسلامى ، البحرين.
د. عبد الحميد محمود البعلى ـ (ضوابط العقود) ـ مكتبة وهبة ـ القاهرة ـ الطبعة الأولى.
د. عبد الستار أبو غدة ـ (أوفوا بالعقود) ـ من مطبوعات دلة البركة ـ 1997م.
الشيخ حسن أيوب ـ (فقه المعاملات المالية فى الإسلام) ـ دار النشر والتوزيع الإسلامية ـ 1998م.

لك الحمد ولك الشكر كما ينبغي لجلال وجهك الكريم ولعظيم سلطانك


 

Friday, March 19, 2010

Dr. Ahmad Thayyib: Syekh Al-Azhar Yang Baru


Dr. Ahmad Thayyib: Syekh Al-Azhar Yang Baru

Presiden Muhammad Husni Mubarak pada hari Jumat ini (19/03/10), mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 62 tahun 2010 tentang pengangkatan Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib sebagai Syekh Al-Azhar yang baru.

Keputusan tersebut ditetapkan untuk mengangkat Dr. Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib sebagai Syekh Al-Azhar, pengganti Syekh Muhammad Sayyid Thantawi, yang meninggal pekan lalu. Adapun Masa kepemimpinan sebagai Syekh Al-Azhar adalah seumur hidup.

Ketika Syekh Thantawi meninggal, anggota kantornya, Ashraf Hassan, telah mengatakan bahwa Muhamad Washil, wakil Syekh Thantawi, diharapkan untuk sementara mengambil alih memimpin lembaga sampai Presiden Mesir menunjuk Syekh Al-Azhar yang baru.

Sejak 1961, Imam Besar Al-Azhar telah ditentukan melalui dekrit presiden, hal tersebut membuka pos untuk kritik karena terlalu dekat dengan pemerintah.

Hal ini terkait dengan Universitas Al-Azhar yang didirikan pada abad kesepuluh sebagai pusat yang paling penting untuk belajar Islam Sunni di dunia, yayasan tersebut mengeluarkan sejumlah fatwa untuk membimbing kaum Muslim.

Sebelum pengangkatan resmi Syekh Al-Azhar yang baru diumumkan, beberapa sumber di Al-Azhar mengatakan kandidat yang paling terkemuka untuk menggantikan Syekh Thantawi di antaranya adalah Menteri Wakaf Mahmud Hamdi Zaqzuq, Dekan Universitas Al-Azhar Ahmad Thayyib, dan Mufti Negara Mesir Ali Jum’ah.

Salah satu sumber berkata kepada Reuters bahwa Ali Jum’ah, telah memotong kunjungannya ke Jepang setelah mengetahui pemberitaan kematian Syekh Al-Azhar, tampaknya kurang mungkin atau mempunyai kesempatan yang sangat kecil karena ia memulai pendidikan Azhari setelah menerima gelar sarjana dari Fakultas Perdagangan Universitas Ain Syams di Kairo.

Syekh Ali Jum’ah pun tidak menunggu untuk dapat diangkat sebagai Syekh Al-Azhar sebelum kembalinya Presiden Husni Mubarak ke Mesir dari Jerman, yang melewati masa pemulihan setelah pembedahan untuk menghilangkan striktur bilier.

Dr. Ali Jum’ah – orang yang pertama memberikan ucapan selamat kepada Syekh Al-Azhar yang baru – harapan beliau kepada Dr. Ahmad Thayyib adalah semoga Allah membantunya dalam tugas besar ini untuk melayani Islam dan kaum Muslim di mesir dan dunia.

Mufti juga memuji – melalui telegram yang dikirimnya untuk Syekh Al-Azhar yang baru- Dr. Ahmad Thayyib memiliki peran penting melalui pengetahuannya dan status relijius dan ilmiahnya, yang menekankan kerja sama penuh dari semua lembaga-lembaga keagamaan di Mesir untuk melayani Islam dan kaum Muslim.

Sementara itu, Dr. Ahmad Thayyib ingin mengungkapkan apresiasinya yang mendalam terhadap kepercayaan besar yang diberikan kepadanya oleh Presiden Husni Mubarak dengan ditunjuknya sebagai Syekh Al-Azhar yang baru.

Telah dibayangi keadaan gembira seluruh Universitas Al-Azhar karena terpilihnya kepemimpinan Syekh Al-Azhar yang baru, meskipun hari ini adalah akhir pekan, tetapi kantor rektor universitas telah menerima ratusan panggilan untuk mengucapkan selamat kepada Dr. Ahmad Thayyib dengan posisinya yang baru.

Biografi Singkat Dr. Ahmad Thayyib, Pendidikan dan Karirnya.


Lahir pada tahun 1946, di desa El-Marashda, distrik Deshna, provinsi Qana, Mesir. Dari keluarga yang terhenti keturunannya dengan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ahmad Thayyib kecil bergabung dengan sekolah yang berafiliasi Al-Azhar pada usia 10 tahun, dengan rentang karir 40 tahun di lembaga pendidikan. Beliau menerima gelar License (Lc.) dari Universitas Al-Azhar pada fakultas Aqidah dan Filsafat Islam pada tahun 1969, dan diangkat menjadi dosen di Universitas, dan menerima gelar master pada tahun 1971, kemudian gelar Doktor (PhD) pada tahun 1977.

Dr. Ahmad Thayyib adalah seorang profesor dalam aqidah Islam, lancar dalam berbahasa Prancis dan Inggris, mempunyai banyak kajian, penelitian dan karangan mengenai aqidah dan filsafat Islam, beliau menerjemahkan sejumlah referensi berbahasa Prancis ke bahasa Arab, dan bekerja sebagai dosen beberapa waktu di Prancis.

Pernah diberikan kekuasaan sebagai Dekan Fakultas Studi Islam dan Arab untuk putra di Qana, dan kemudian ditugaskan sebagai Dekan Fakultas Studi Islam untuk putra di Aswan, dan kemudian ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Internasional, Pakistan.

Dahulunya pernah memegang jabatan Mufti Negara Mesir hingga September 2003. Hingga akhirnya beliau diangkat sebagai Rektor Universitas Al-Azhar, beliau juga salah seorang anggota Akademi Riset Islam (Islamic Research Academy) - dan akan memimpin Dewan tersebut setelah ditunjuk sebagai Syekh Al-Azhar yang baru ini -, dan anggota Dewan Tertinggi Tarekat Sufi dan sebagai Syekh Tarekat Ahmadiyah Klutip menggantikan ayahnya, pendiri tarekat klutip di Aswan, dan juga memimpin Komite Dialog Antar Agama di Al-Azhar.

Para Ulama di Al-Azhar mengatakan: Beliau adalah seorang yang mempunyai ilmu yang luas, beliau tidak akan masuk dalam perdebatan ke arah isu kontroversial, dan ketika menjadi mufti Negara Mesir beliau tidak merilis fatwa yang memicu kontroversi.

"Perbedaan di antara orang-orang, baik dalam keyakinan agama, pola fikir, bahasa atau emosi, adalah prinsip dasar Al-Quran. Allah menciptakan beragam suku bangsa," katanya sebelum menerima Uskup Agung Canterbury, Rowan Williams, dalam upaya untuk meningkatkan dialog antar-agama.

Dr. Ahmad Thayyib juga dikenal karena sikap kerasnya terhadap kelompok Al-Ikhwanul Muslimun, organisasi yang paling terorganisir dari kelompok oposisi, yang tetap resmi dilarang walaupun tetap dapat dukungan dari sebagian rakyat.

Pada tahun 2006, ia mengecam parade gaya militer oleh Persaudaraan mahasiswa di Universitas Al-Azhar di mana mereka memakai masker hitam "seperti Hamas, Hizbullah dan Pengawal Republik di Iran," katanya pada saat itu. Beberapa mahasiswa diskors dari universitas setelah parade dan puluhan lainnya ditangkap.

Demikianlah Profil singkat Dr. Ahmad Thayyib Syekh Al-Azhar yang baru, semoga cita-cita para leluhur Al-Azhar yang moderat agar lembaga ini terus memberikan sumbangsih khazanah keilmuan Islam akan tercapai dan terus berlanjut melalui kepemimpinannya.

Wednesday, March 10, 2010

Wafatnya Seorang Ulama Yang Arif dan Bijaksana: Fadhilatul Imâmil Akbar Ad-Duktûr Muhammad Sayyid Thantawi Syaikhul Azhar Asy-Syarif


Syekh Thantawi yang dijuluki Fadhilatul Imamil Akbar Syaikhul Azhar Asy-Syarif, meninggal Rabu pagi di Arab Saudi setelah mengalami serangan jantung yang akut, pada usia 81 tahun.
Beliau telah menderita penyakit jantung, yang sudah terpasang penyangga di dalam jantungnya pada tahun 2006. Beliau juga menderita diabetes, dan kesehatannya mengalami krisis pada akhir 2008 setelah terluka dalam salah satu kakinya dengan infeksi berat pada saraf kaki, dan dirawat di rumah sakit selama 10 hari.
Kunjungan Syekh Thantawi ke Kerajaan Saudi untuk menghadiri acara pemberian penghargaan Internasional Raja Faisal untuk layanan Islam kepada para pemenang tahun ini.
Wartawan BBC di Kairo memberitakan bahwa Syekh Thantawi menderita serangan jantung ketika sedang dalam perjalanan ke bandara untuk kembali ke Mesir. Dan dibawa ke rumah sakit terdekat di mana ia meninggal.
Jasad Syekh Al-Azhar tersebut kemudian dipindahkan melalui pesawat pribadi ke Madinah untuk dimakamkan di pemakaman Baqi' Al-Gharqad (penj: terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi tempat di mana dimakamkan sebagian isteri nabi, putra-putri nabi, para sahabat dan tabi'in serta orang shaleh lainnya. Dan banyak hadits tentang keutamaan penghuni dan maqam baqi', antaranya: Dari Aisyah ketika Rasulullah berziarah ke maqam Baqi' beliau mengucapkan: Salam sejahtera bagi kalian di tempat pemakaman umat Islam. Telah datang kepada kalian perkara yang telah dijanjikan, pada hari esok kalian akan ditundakan. Dengan izin Allah kita bisa bertemu besok. Ya Allah ampunilah para penghuni pemakaman baqi' [Hadits Shahih Imam Muslim 974] dan masih banyak hadits yang lainnya berkenaan tentang maqam baqi'), pemerintah Saudi telah mengirimkan pesawat pribadi ke Kairo untuk membawa keluarganya untuk berpartisipasi dalam upacara pemakaman.
Abdullah Al-Najjar, salah satu penasihat Syekh Thantawi pada waktu diwawancarai oleh televisi Nil Mesir, beliau mengatakan bahwa kematian Syekh Thantawi adalah secara tiba-tiba, saat itu kesehatan dan keadaan Syekh terlihat sangat baik selama kunjungannya di Arab Saudi.
Menurut kantor berita reuters, mengutip perkataan Hasan Asyraf, salah seorang staf Syekh Thantawi mengatakan bahwa Syekh Washil Hasan yang selama ini menjadi wakil Syekh Al-Azhar secara otomatis langsung memegang kendali sementara dalam kewenangan urusan yayasan Al-Azhar. Akan tetapi beberapa petinggi di Al-Azhar memprediksikan jabatan Grand Syekh Al-Azhar yang baru akan diisi oleh Syekh Dr. Muhammad Ali Jum’ah yang saat ini menjabat sebagai Mufti Negara Mesir. Namun demikian yang berkuasa penuh dalam pengangkatan Syekh Al-Azhar yang baru akan ditunjuk langsung oleh Presiden Mesir Husni Mubarak.

Kisah perjalanan hidup Syekh Thantawi


Syekh Thantawi dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1928 di desa Salim Timur, distrik Tama, provinsi Suhaj, dan beliau belajar serta menghafal Al-Quran di kota Alexandria.
Beliau menerima gelar doktor dalam ilmu hadits dan tafsir pada tahun 1966 dengan prediket Cumlaude, kemudian bekerja sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin, dan kemudian ditugaskan untuk mengajar di Libya Arab Jamahiriya selama 4 tahun, kemudian bekerja sebagai dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Islam di Madinah.
Penunjukkan Dr. Muhammad Sayyid Thantawi sebagai Mufti Negara Mesir pada tanggal 28 Oktober 1986, dan menduduki posisi ini sampai beliau diangkat sebagai Syekh Universitas Al-Azhar pada tahun 1996. Menggantikan Syekh Jad al-Haq Ali Jad al-Haq.
Syekh Tantawi adalah salah satu dari Ulama Al-Azhar yang paling mulia dan paling disiplin dalam ilmu, terutama dalam ilmu tafsir.
Terlihat kepemimpinannya bagi Yayasan Al-Azhar yaitu sejumlah sikap yang memicu perdebatan yang luas di tengah-tengah masyarakat Mesir, dan pengaruh pendapatnya yang moderat terhadap kaum militan, seperti keputusan untuk melarang pemakaian niqab (baca: cadar) di suatu kelas pada akhir tahun lalu.
Syekh Thantawi telah terkejut di tengah-tengah kunjungannya ke Ma’had Azhar di Nasr City, utara-timur Kairo dengan salah seorang siswi di kelas dua yang mengenakan niqab di dalam ruang kelas kemudian beliau memerintahkan siswi tersebut untuk melepaskannya.
Dikutip oleh laporan media bahwa beliau mengatakan di depan para siswi bahwa "Niqab hanya sebuah adat dan tidak ada hubungannya dengan agama Islam, dari dekat atau jauh."
Langkah ini dipandang sebagai sebuah bagian dari perjuangan menciptakan Islam moderat yang diperjuangkan oleh Negara, namun memicu amarah kalangan Islam radikal di Mesir.
Namun demikian beliau adalah ulama yang sangat mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok atau pribadi, dan tidak asal mengeluarkan fatwa-fatwa melainkan karena tuntutan situasi dan kondisi yang penting serta masih banyak lagi keunggulan serta jasa beliau dalam memajukkan umat Islam di Mesir maupun di seluruh dunia.
Kullu nafsin dzaiqatul maut ... Mudah-mudahan segala amal perbuatan beliau diterima di sisi Allah ‘azza wajalla, dan ditempatkan di Raudhah-Nya. Amin ya robbal ‘alamin.

Monday, February 22, 2010

Wawancara Eksklusif Ustzh. Hj. Siti Roudhoh Hasbiallah, Lc. - Mesir


Kenapa Mesir yang menjadi tempat pilihan Ustadzah dalam menuntut ilmu?
Alhamdulillah saya haturkan kepada Allah Swt. karena saya dapat menginjakkan kaki di bumi kinanah ini. Kita sebagai duta-duta bangsa tentunya harus tahu kenapa mesti mesir yang jadi pilihan kita. Saya pribadi dahulu setelah tamat di Pondok Pesantren Attaqwa Putri sekitar tahun 1996, dihadapkan dua pilihan yaitu Mesir dan Pakistan. Lalu kenapa saya memilih Mesir? Karena di Mesir kita akan mempunyai banyak pilihan, artinya tinggal kita yang mau memilihnya mau jadi apa di mesir; salafi, sufi, sekuler, moderat, nabi musa bahkan fir'aun pun juga bisa. Kemudian yang menjadi daya tarik karena Mesir banyak disinggahi para pengembara ilmu. Hal itu karena Mesir mempunyai segudang stock para Ulama yang tak diragukan lagi wawasan keilmuanya, dan juga banyak dari para Anbiya yang diturunkan di Mesir serta banyak juga kisah-kisah mengenai Mesir yang diceritakan di dalam Al-Qur’an. Namun tentunya kita tetap harus waspada dengan Mesir dengan segala ahwalnya, karena tergadang kita akan mudah terbawa arus keadaan dan akhirnya terlena serta melupakan niat awal kenapa kita berada di negeri seribu menara ini. Jadi, waspadalah dengan mesir, karena jika kita tidak dapat menundukannya maka dialah yang akan membinasakan kita.
Adakah kendala-kendala dalam akademis yang pernah dilalui?
Bicara tentang kendala-kendala ketika belajar di Mesir, dulu ketika awal saya tiba di Mesir tidak ada semacam Fushul Taqwiyah seperti sekarang ini, cuma sekedar bimbingan belajar yang disediakan oleh almamater dan itu cukup berpengaruh pada proses belajar, terlebih bagi kita yang merasa IQnya standar jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Maka, berangkat dari situlah saya bertekad akan bersungguh-sungguh dalam belajar, wal hasil alhamdulillah saya bisa menemempuh S1 walaupun dalam kurun waktu yang agak lama. Namun, terkadang saya menilai bukanlah titel yang menentukan kadar keilmuan seseorang, melainkan sejauh mana ilmunya itu diamalkan serta bermanfaat bagi orang lain, maka mudah-mudahan keberkahan ilmulah yang menjadi tolak ukur kita. Khairunnâs 'Anfauhum Linnâs.
Apa saja aktifitas yang dijalani sekarang?
Kesibukan saya di Mesir setelah selesai S1, selain mengamalkan ilmu yang telah didapat, saja juga ibu dari dua orang anak, kemudian saya juga sering menyibukkan diri dengan kegiatan-kegitan, diantaranya: Sebagai Penasehat Forum Silaturahmi Umahât (Fosma) H-10 dan sekitarnya yang mengkaji berbagai permaslahan seperti Fiqih Kontemporer, kesehatan reproduksi serta membahas bagaimana kiat-kiat sukses studi dan sekses berkeluarga. Kemudian saya juga aktif di Keluarga Mahasiswa Jambi (KMJ) sebagi simpatisan sekaligus anggota Istimewa serta aktif sebagai Penasehat Devisi Kewanitaan Ruhama juga aktif di berbagai kajian-kajian, seminar-seminar dan juga talkshow kewanitaan dengan akhwat-akhwat serta ibu-ibu yang ada di mesir.
Bagaimana cara Ustadzah mengatur waktu antara studi dan tugas rumah tangga?
Yang pertama, kita harus memahami keadaan orang yang kita sayangi, artinya kita harus tafahum, kemudian nanti akan timbul tasamuh. Kalau sudah tasamuh kita akan tahu sejauh mana tingkat keikhlasan kita. Maka berangkat dari situlah semuanya akan berjalan dengan baik. Kemudian kita juga harus bisa membagi waktu untuk belajar dan untuk tugas keluarga dengan memperhatikan kondisi keluarga atau pertumbuhan anak-anak, misalnya ketika suami kita sedang belajar, berarti kita yang mengurus anak-anak, begitu juga sebaliknya. Intinya, semuanya harus kita kasih ruang untuk bergerak agar bisa berksinambungan yang pada akhirnya akan datang kesuksesan yang kita harapkan, karena semuanya bisa dilihat dari sini kalau kita bisa sukses dalam mengatur waktu untuk belajar dan tugas kelurga insya Allah kita akan suskses juga dalam mengatur hal yang lainnya. Yang terakhir, jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada suami kita dalam menjalani semuanya, karena dukungan kita sebagai pasanganya sangat mempengaruhi proses kesuksesannya di dalam mearih cita-cita dan azam.
Apa saja persiapan bagi teman-teman ingin studi di Mesir?
Persiapan yang perlu diperhatikan bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studinya di mesir, paling tidak harus mengusai bahasa arab dan nahwu sharaf atau ilmu alat, karena itu merupakan modal dasar untuk proses dalam memahami pelajaran-pelajaran di kuliah. Kemudian juga kita harus memperdalam pengalaman-pengalaman yang ada, misalnya menanyakan kepada senior-senior yang sudah kembali ke tanah air perihal seputar keadaan Mesir. Semua itu untuk menjadikan barometer kita disini, apakah kita bersungguh-sungguh atau berleha-leha. Dan juga yang paling terpenting adalah azam serta cita-cita kita untuk belajar disini haruslah benar-benar kita tanamkan. Bismillah.. Faidzâ ‘azamta Fa Tawakkal ‘alallah. Maka insya Allah semua cita-cita yang kita dambakan bisa diraih.
Adakah pesan dan kesan untuk Attaqwa tercinta?
Pesan untuk teman-teman Attaqwa yang ada di Mesir, pertama kita harus kenali dan pelajari diri kita dulu, siapa diri kita dan untuk apa kita berada di Mesir, lalu kita harus memanaje dengan baik segala sesuatu yang harus kita kerjakan selama proses belajar karena sudah tentu yang kita inginkan adalah benar-benar kesuksesan bukan kegagalan. Dan kesuksesan itu diraih bukan hanya dengan berpangku tangan saja melainkan dengan kejuhudan dalam belajar. Pernah ada sebuah guyonan dari salah seorang senior IKPMA, “Belajar di Mesir itu kepala jadi kaki, kaki jadi kepala.” Artinya, kesuksesan benar-benar tidak bisa dijual, harus dengan Juhud dan Tadhiyyah. Maka dari itu, untuk teman-teman IKPMA mari kita semangat, kita buka lembaran baru setelah tahu sejauh mana kadar kemampuan kita. Intinya, bagaimana kita berusaha untuk bisa sampai kepada tujuan yang sesuai dengan janji kita kepada orang-orang yang kita sayangi, orang tua, keluarga, guru-guru, pondok, masyarakat serta nusa dan bangsa. Wallahu a’lam bishshawâb.

Friday, February 19, 2010

Wawancara Eksklusif Bang Abdul Hayyi Alkattani, MA. - Mesir


T: Bagaimana perjalanan abang bisa sampai ke Mesir hingga hampir menyelesaikan program dukturah dan kenapa memilih Mesir sebagai tujuan?

J: Saya itu selesai di Attaqwa tahun 1991. Pada zaman saya orang yang lulus dari Attaqwa lulusan aliyah tidak bisa langsung ikut ujian negeri, tapi satu tahun kemudian baru bisa ikut ujian persamaan, tidak seperti sekarang. Jadi tahun 1992 saya baru bisa ikut ujian tahun itu. Ketika itu pula saya diinformasikan ada kesempatan untuk sekolah ke Mesir jadi semenjak itu saya ke Mesir. Kenapa saya pilih Mesir? Waktu itu saya ada pilihan: imma ke Malaysia atau imma ke Saudi atau ke Pakistan atau Mesir. Jadi dari sekian pilihan-pilihan itu saya lihat ternyata Mesir yang paling menjanjikan. Dalam artian di Mesir itu kita bisa menguasai bahasa Arab secara langsung tapi juga kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain, hal-hal yang bersifat organisasi dan ilmu-ilmu yang lebih luas.

T: Masalah S3 program dukturah, kapan rencana abang menyelesaikan disertasi dan apa saja yang abang sudah persiapkan dalam hal tersebut?. Kalau boleh tahu apa yang akan abang bahas dalam disertasi tersebut?

J: Ketika tahun 1991 selesai aliyah, saya berkesempatan selama sepuluh bulan menemani pak kyai pada hari-hari terakhir dari beliau sakit sampai beliau meninggal. Dari situ saya melihat bahwa betapa ulama itu sangat penting. Ketika beliau sakit kita kehilangan, dari situlah dan selama itu pula saya disamping menemani ternyata saya belajar informal. Ya saya cukup belajar di samping kasur, sambil menemani pak kyiai saya membaca. Kadang-kadang ketika melihat teman-teman PPA-Wati yang sedang berjalan ke sekolahnya, saya sedih juga ingin seperti anak-anak sekolah lagi. Jadi ada dua hal yang yang mendorong saya untuk sampai S3. Pertama, pentingnya ulama; yang kedua, pentingnya belajar. Ketika itu saya berfikir dan bertekad jika ada kesempatan saya akan pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Karena saya merasakan saat itu jadi betapa pentingnya ilmu. Kita merasa kehilangan ketika almarhum meninggal. Di samping itu juga saya merasa betapa kosongnya saat itu karena tidak belajar. Jadi dua hal itu yang mendorong saya untuk bertekad: pokoknya di Mesir saya harus selesai pada puncaknya, bagaimana pun caranya. Dari situ saya belajar rajin. Maka ketika S1 alhamdulillah saya jayyid empat tahun selesai. S2 saya ke Al Azhar, tapi ternyata di Azhar itu saya tidak muqayyad juga setelah setahun mendaftar. Saya lulus tes tapi muqayyad nya ngga turun-turun. Jadi karena dorongan untuk belajar maka saya melompat ke Darul Ulum, walaupun bayar. Kemudian saya pindah kesana. Ternyata krisis ekonomi datang. Jadi dari situ saya mau S2 cepat, tapi malah jadi molor. Karena apa? Karena saya masuk Darul Ulum harus bayar, tapi uangnya tidak ada. Ya kemana lagi selain harus kerja. Kerjanya apa? Ya banyakin terjemah? Ini jadi sebab kenapa terjemah saya banyak. Ya karena buat bayar kuliah dan buat hidup. Jadi bukan saja terjemah itu saya hobi, tapi juga karena kebutuhan. Karena memang jalannya seperti itu, ya kita jalanin.


Jadi cukup lama juga disini. Saya intinya kerja juga kan. Di situlah kenapa akhirnya saya banyak punya buku yang diterbitkan. Jadi ada hikmahnya. Satu segi saya lambat tapi satu segi saya banyak punya buku. Tapi seharusnya dua tahun malah molor 5-6 tahun. Syukur alhamdulillah 2004 selesai. Dan setelah itu saya masih belum puas karena cita-cita yang paling akhir itu belum dapat, yaitu S3 di Mesir. Maka saya pun mengusahakan tahun 2005 saya daftar judul, alhamdulillah diterima. Pas itu saya pulang ke indonesia libur tiga bulan. Ketika balik ke Mesir, saya dapati ternyata judul saya ada yang sama dengan judul orang lain. Maka saya akhirnya harus dari awal mencari judul cari lagi. Tahun 2006 saya masih cari judul. Akhir 2006 atau 2007 baru mendapatkan judul lain. Dua tahun hilang. Maka kita di situ diuji kesabarannya. Di mesir ini, jika kita ada kesulitan kemudian kita hadapi dengan sabar dan tidak lari, insya Allah bisa menemukan jalan keluarnya. Ada kesulitan ada kemudahan. Jadi inna ma’al ‘usri yusra itu benar adanya. Insya Allah dikasih jalan keluar. Ketika itu semenjak tahun 2007 saya mulai baca kumpulin bahan jadi 2008 itu saya baru mulai menulis dan diusahakan hingga akhir tahun ini selesai. Jadi cukup lama perjalanannya dari tahun 1992 sampai 2009. Memang ilmu itu sangat penting dari dulu pun ulama belajar sampai meninggal. Nabi Musa ditanya oleh Allah siapakah orang yang paling cerdas dan pintar dimuka bumi ini? Nabi musa bilang, "saya". Ternyata jawaban itu ditolak oleh Allah swt. Maka kaget kan nabi musa. Padahal Nabi Musa kan seorang nabi, tapi masih ada yang lebih pinter darinya. Maka nabi musa diperintahkan untuk belajar ke Nabi Khidir. Intinya, di atas yang lebih pintar ada lagi yang lebih pinter lagi. jadi ga boleh berhenti belajar. Ilmu itu tidak ada batasnya.

Kembali ke risalah saya, yang saya tulis saat ini tentang “Khuludun nas bayna asshufiyah walfalasifah islamiyyin” yaitu tentang konsep kekekalan jiwa antara kalangan tasawuf dan kalangan filosof Islam. Jadi menyangkut bagaimana memahami jiwa itu apa terus bagaimana setelah meninggal.

T: Pembicaraan yang paling anyar untuk saat ini dikalangan masisir kurang lebih ada tiga, pertama permasalahan seputar Maba. Kedua, seputar partai politik atau pemilu. Yang ketiga, permasalahan nasib Palestina. Untuk ketiga permasalahan ini kami dari redaksi Kreasi ingin mengetahui pandangan abang tentang hal tersebut.
Pertama seputar Maba: Melihat kondisi sekarang sepertinya sulit sekali untuk melanjutkan studi ke timur tengah khususnya mesir, dampak dari kondisi tersebut adalah nasib para maba khususnya maba attaqwa yang berjumlah 17 orang yang sampai saat ini tak kunjung datang yang sudah pasti meninggalkan mata kuliah pada termin satu. Bagaimana pandangan abang mengenai hal ini dan solusi bagi mereka?

J: menurut saya kita dalam masalah ini dari segi fakta disini kita menyalahkan lembaga resmi pemerintah Indonesia dalam hal ini Depag dan orang-orang yang bertanggung jawab disana. Ini setelah saya pelajari adalah murni kesalahan mereka jadi permainan zaman dulu, sistem zaman dulu itu masih dipakai. Ini tidak bisa dipergunakan untuk pergaulan internasional. Ini adalah tamparan bagi Indonesia. Bagi kita apabila terjun di Depag maka harus melakukan perubahan. Salah kalau gaya lama diterapkan untuk menangani milik orang luar . Azhar itu kan memberikan kesempatan kepada kita. Itu sebenarnya sama saja kita diberikan beasiswa. Walaupun yang tidak dapat beasiswa secara langsung pun tetap secara hakikatnya mendapatkan beasiswa dari Al Azhar. Karena kita bayar cuma sedikit. Jadi fasilitas itu sama saja beasiswa. Secara tidak langsung semua orang yang belajar di Azhar itu menikmati wakaf orang mesir. Kekayaan wakaf orang mesir ini yang sedang kita nikmati di Mesir berupa fasilitas belajar apalagi yang dapat beasiswa kan seperti di bu'uuts dan kuliah itu semua wakaf kekayaan orang Mesir. Disini kita menyayangkan Depag tidak profesional sebetulnya ini merupakan suatu tamparan yang memalukan. Sebagai lembaga agama banyak orang yang pintar dan katanya agamawan, ternyata seperti itu. Jadi kalau kita dulu bisa bersembunyi sekarang orang luar melihat dan membuka masalah ini jadi betul-betul terlihat. Bagi kita sebagai rakyat biasa dan bukan pejabat yang berwenang, melihat mahasiswa baru itu tidak bisa mempunyai tawaran apa-apa untuk mengubah itu semua, karena memang permainannya itu tingkat lembaga Negara. Jadi melihat kondisi sekarang kita harus ambil hikmahnya. Selama kosong itu manfaatkan apa saja ilmu yang bisa dipelajari. Apakah bahasa Arab atau bahasa Inggrisnya. Apakah dia memperdalam dan menyiapkan hafalan al Qur`annya dan sebagainya. Memang betul para MABA itu berada dalam penyesalan, menyalahkan atau pusing-pusing malu sama tetangga karena katanya mau berangkat tapi belum juga. Maka menurut saya, saat menunggu itu seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Supaya nanti ketika datang waktunya berangkat ke Kairo, dia sudah siap.

T: Selanjutnya bila mereka sudah sampai di Mesir, apa yang seharusnya mereka lakukan?

J: Jadi menurut saya mahasiswa baru itu sebaiknya tingkat satu dan tingkat dua malah memfokuskan dirinya pada pelajaran. Dia harus menguasai pelajaran dan merasakan lulus, minimal di tingkat satu. Jadi ketika lulus, dia tahu bagaimana cara ber ta’amul, cara menghadapi Azhar itu bagaimana supaya bisa lulus. Apalagi jika nilainya bagus, tentu akan sangat baik. Jadi kalau sudah ketahuan carannya maka bisa mengatur waktu untuk hal-hal yang lain. Misalnya organisasi.


Jadi organisasi itu tidak kemana-mana, sehingga tidak perlu dikejar-kejar. Kita tinggal dan tidak ikut organisasi itu juga tidak kenapa-napa. Tapi kalau pelajaran, ya kalau kita tidak pelajari maka kita nya kemana-mana, tapi belajarnya kemana tau. Jadi untuk saat ini, yang terpenting adalah pelajaran, terutama al Qur`an dan bahasa Arabnya baik fushah maupun 'amiyah, serta pengungkapannya. Jadi kalau itu sudah kuat, untuk kedepannya enak. Usahakan kenal langsung sama orang Mesir, gaul, jadi bahasa nya itu bukan bahasa Indonesia tapi Arab Mesir. Jangan kita sampai di sini kumpul sama orang satu kampung, sama saja preman ciplak pindah markas ke Kairo; orangnya dia-dia juga. Kalau dulu nongkrongnya di warteg Ciplak, kalau sekarang adanya di Kairo Hayyul Asyir. Orangnya dia-dia juga dan yang dibicarakan itu-itu juga, ya sama saja.

T: Mengenai Pemilu Raya tahap pertama yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009, bagaimana persepsi abang tentang kegiatan partai politik di kalangan masisir dan tentang Golput?

J: Menurut saya, ini adalah momen untuk kita menentukan sedikit berperan dalam masalah Negara. Jadi kesempatan untuk turut menentukan dengan cara memilih orang yang baik. Ketika –misalnya- kita golput, ya tidak ada yang rugi. Yang rugi kita saja. Karena seharusnya kita berperan, jadi ngga. Malahan yang untung non-muslim seperti kalau tidak salah di Kalimantan Tengah. Orangnya mayoritas muslim tapi banyak yang golput atau yang Islam itu pendidikannya kurang dan tidak suka bergerak di bidang politik dan pemerintahan. Jadinya anggota DPRD serta bupati dan gubernurnya kebanyakan non-muslim. Sekarang baru mereka menyadari dan merasakan kena batunya. Atau tidak enaknya memilih golput. Karena ternyata pejabat-pejabat itu menggalakan pendirian gereja di sana, padahal di daerah muslim. Para penduduk menentang tidak bisa, karena dikuasai oleh non-muslim. Jadi selama kita mampu menggunakan kesempatan untuk menentukan pilihan yang terbaik, lakukanlah.

T: Seputar nasib Palestina: Jika Palestina berjihad dengan perang, tentunya kita selaku sesama muslim tidak bisa begitu saja membiarkan saudara kita susah. Lantas, menurut Bang Hayyi jihad seperti apa yang bisa kita lakukan agar kita tidak termasuk golongan yang dikatakan “tertawa di atas penderitaan saudaranya (Muslim Palestina, Red)”?

J: Jadi sebenarnya kasus Palestina-Israel itu kasus yang kompleks. Sebetulnya ini sudah masuk kategori kasus internasional. Saya lihat, hingga negara Arab pun ketika terjun itu kemungkinan mereka malah rugi. Jadi kenapa negara Arab malah buat perjanjian damai? Karena seandainya Yordania, Saudi, Mesir itu berperang melawan Israel, kemungkinan malah Mesir nya yang ke ambil bukan Israelnya yang diambil. Karena apa?Karena Israel itu pada hakikatnya Amerika. Kita perhatikan kekuatan tahun 1948 terus tahun 1967, serta sebelumnya perang ‘Udwan Tsulatsi; Ketika tahun 1948 di Mesir ini dan negara-negara Arab dalam jajahan. Kekuatan dan pusatnya Islam itu ada di Turki. Tidak ada kekuatan bersenjata secara riil dan massif di Timur Tengah, saat itu. Yang ada suku-suku kecil. Jadi memang, tidak dapat berbuat banyak. Sementara Israel itu kepanjangan tangan dari Inggris dan Prancis. Karenanya, Negara-negara Arab pada 1948 itu kalah. Karena memang tidak ada pemerintahan yang efektif. Tentara yang ada di Timur Tengah itu tentara Inggris. Walaupun di Mesir ada Ikhwannya, tapi sedikit yang pegang senjata dan kurang massif dan kurang efektif. Tahun 1967 juga sama. Israel nyerang duluan dengan senjata yang mutakhir. Arab baru mengumpulkan senjata sudah diserang. Sementara tahun 1973, Amerika gentian menyokong Israel. Jadi semuanya memang baik Inggris maupun Perancis menggunakan Israel sebagai agennya di Timur Tengah.

Sementara saat ini, seandainya Mesir berperang melawan Israel, maka Mesir akan dikucilkan dan kemungkinan kehilangan sebagian negaranya serta rakyatnya mati. Negaranya berkurang dan masyarakatnya jatuh miskin karena habis buat beli senjata. Jadi kadang kita fahami juga kenapa Mesir dan Yordan akan menjadi lebih parah lagi seandainya dia perang. Karena memang kondisinya belum memungkinkan.

Maka bagi kita pelajar di Mesir ini, kita perang melawan kebodohan. Jadi ketika kita misalnya benci dan marah terhadap Israel maka kemarahannya itu seharusnya ditujukan kepada kebodohan kita. Kalau misalkan selama ini nilainya pas-pasan, maka perangnya berarti harus jayyid demi palestina misalnya. Jadi bukan sambil nangis meratapi Palestina, tapi tetap tidak belajar. Melihat orang dibunuh marah, dsb. Israel malah senang kalau kita marah dan stress. Kita marah tidak ada pengaruhnya buat dia. Kita ada pengaruhnya kalau kita jadi pintar, bisa menguasai, dan bisa diplomasi. Jadi kalau kita bisa berkomunikasi menggalang masa, itu yang ditakutkan sama dia. Kita bisa menggalang financial untuk gerakan umat islam itu yang ditakutkan sama dia. Kalau bom-boman malah dia senang sambil mengatakan: ternyata Islam itu teroris, tuh lihat buktinya.

Terkadang kita senang berjuang jangka pendek, padahal yang paling susah itu berjuang jangka panjang. Yaitu dengan membangun pendidikan, mendidik masyarakat dsb. Itu perjuangan. Jadi perang itu ada selesainya, kalau bangun masyarakat itu tidak ada selesainya. Perang ada selesainya, sedangkan belajar tidak ada selesainya. Karena ilmu tidak ada habisnya.

T: Kalimat penutup dan pesan untuk kawan-kawan IKPMA.

J: Menurut saya, sampainya kita di Mesir itu amanah. Karena ada ribuan orang bahkan jutaan orang ingin ke Mesir. Ada orang yang susah lulus tes. Ada yang sudah lulus tapi tidak dapat visa. Ada yang punya kemampuan tapi tidak ada uang. Maka suatu kesalahan bila kita sudah sampai disini apalagi bisa lulus ternyata kita tidak pergunakan itu untuk mempercepat atau memperdalam ilmu. Jadi kalau ada yang terburu-buru ingin berbakti ke Indonesia, ingin ngajar, sebelum menempuh pendidikan secara total di Mesir hingga jenjang yang tertinggi, itu menurut saya godaan. Zaman dulu itu kyiai-kyiai kalau sebelum dipanggil orang tuanya belum pulang. Jadi kalau orangtua nya sudah tua, sudah saatnya regenerasi, baru pulang. Tentunya sampai selesai jenjang yang tinggi. Tapi kalau orangtua masih muda, sehat, baru empat tahun sudah pulang, itu namanya manja. Sementara kalau dia di Mesir ini ada pengurusan beasiswa dan macam-macam, sehingga terbuka kesempatan untuk terus lanjut. Jadi amanah di Mesir itu tidak semua orang dapat meraihnya. Banyak yang ngiler. Paling yang kita harus bayar itu waktu; yaitu lamanya waktu belajar dimesir. Seperti saya alami sendiri. Kemudian kedua, kesabaran. Karena sering ktia menghadapi musykilah ini musykilah itu. Jadi di Mesir itu harus pintar mengolah kesabaran. Ada musykilah visalah, ada musykilah temanlah, ada musykilah pembiayaanlah. Jadi semuanya itu warna-warni kehidupan. Jadi kalau baru S1 pulang ya susah. Ngapain di sana? Biasa saja, belum ada atsarnya. Minimal S2 atau S3. Apalagi ternyata dari segi kemampuan, anak-anak kita itu hanya kalah dengan MANPK Koto Baru Padang. Berarti mengalahkan Ciamis, Darunnajah, Gontor dll. Dulu kan kita kagum sama Gontor, tapi ternyata secara akademis yang kelihatannya kita tidak bisa apa-apa, disini kita bisa punya kemampuan mengungguli mereka. Tapi kenapa justru lulusan Gontor itu banyak tampil di tanah air, tampil kayak di sini? Nah itu yang harus kita pelajari. Kekurangan kita itu apa dalam segi akademis? Saya yakin kita cukup bagus dalam hal akademis itu. Nah kekurangannya itu harus dilihat dan dipelajari kemudian diberikan solusinya. Jadi jangan berpuas diri dengan capaian yang ada. Karena jika tidak, maka ketika pulang jadinya begitu-begitu saja, di kampung lagi, jadi ustadz kampong. Padahal lulusan Kairo itu seharusnya garapannya imma nasional, atau malah internasional. Atau kalau ngga nasional, minimal provinsi dah. Bagaimana caranya? Lihat orang-orang yang sudah sukses di nasional, seperti pak Quraisy Shihab. Kalau internasionalnya seperti Said Agil Mahdali yang bukunya diterbitkan di Mesir, atau Darul Hadits. Dari pilihan-pilihan itulah yang nantinya menentukan bakat kita. Jadi kita harus sungguh-sungguh berusaha baru tercapai cita-cita.

Curriculum Vitae
H. Abdul Hayyie al Kattani,MA.TTL:Bekasi, 26 Juli 1972.Menikah, Nur Inayah Dimyathi (Isteri)dikaruniai dua orang putra Syadi Abdul Hayyi dan Muhammad Abdul Hayyi.Pekerjaan: Mahasiswa Program Dukturoh Universitas Darul Ulum, Mesir.Email: alkattani1@gmail.com.Kekeluargaan :KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta)Almamater: IKPMA (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Attaqwa)Aktifitas : Wakil ketua redaksi bulletin Fajar 1995-1996, anggota dewan redaksi Jurnal Oase 1996-1998, ketua kelompok studi Mizan Study Club 1998-1999, pengurus ICMI Orsat-Cairo 1997-1999, Peneliti di ISSR (Islamic Studies and Social Research) Cairo 1998-2000, Director on Board Cimas (Centre for Information, Middle East and Africa Studies) Cairo, Dewan Konsultatif PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir 1999-2000, Penasehat Pengurus Wilayah PII Mesir (1999-sekarang), anggota dewan redaksi bulletin Kreasi - Cairo, 1994-1995, dan peneliti di FOSHAM (Forum Studi Hak Asasi Manusia) Mesir. Buku-bukunya (terjemahan) yang telah dan akan terbit adalah:Islam dan Pluralitas, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Trend Islam 2000, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1997. Fiqh Responsibilitas, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, GIP, Jakarta, 1998.Berita Kemenangan Islam, Dr. Yusuf al Qardhawie, GIP, Jakarta, 1997. Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Dr. Yusuf al-Qardhawie, GIP, Jakarta, 1998. Hidangan Islami, Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, GIP, Jakarta, 1997. Bepergian (Rihlah) secara Islam, Dr. Abdul Hakam Ash Sha'idi, GIP, Jakarta, 1998. Hukum Murtad, Dr. Yusuf Al Qardhawie, GIP, Jakarta, 1997. Al Quran Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Dr. Yusuf al Qardwahie, GIP, Jakarta, 1998. Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam, Dr.Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Islam dan Keamanan Sosial, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Pergolakan Pemikiran, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1998. Miskin dan Kaya dalam Pandangan Al Quran, Muhammad Bahauddin Al Qubbani, GIP, Jakarta, 1999. Hukum Tata Negara, Al Mawardie, GIP, Jakarta, 2000 Dosa-dosa Besar, Syekh Mutawalli Sya'rawi, GIP, Jakarta, Khutbah-Khutbah Imam Ali KW, karya Imam Muhammad Abduh, GIP, Jakarta, Tuntunan dalam Khitbah (Bertunangan), karya Muhammad Ali Quthb, GIP, Jakarta, Petunjuk Jalan, karya Sayyid Quthb, GIP, Jakarta. Sekarang sedang menggarap terjemah kitab Al-fiqhu al-Islam wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhaili bersama tim terjemahnya. Dan Masih banyak lagi buku-buku terjemahannya yang lain.

Monday, February 15, 2010

Wawancara Eksklusif Bapak H. Nasruddin Lathief, MA - Libya


Kapan Bapak lulus dari Attaqwa, serta bagaimana perjalanan studi Bapak?

Kalau ditanya lulus, sebenarnya saya tidak lulus. Yang tepat adalah lolos. Karena saya tidak tamat sampai kelas 6. Saya hanya menyelesaikan kelas 3 MTs saja. Jadi saya lolos Mts tahun 1976. Ceritanya begini, pada tahun tersebut saya termasuk siswa bersama H. Maturidi Muhiddin, yang mengikuti ujian negeri. Dari siswa kelas 3 MTs hanya saya berdua saja. Sedangkan yang lain semuanya dari abituren atau santri yang telah lulus dan mengabdi di pondok. Saya mendengar kabar bahwa siapa saja yang mengikuti ujian negeri, akan dikeluarkan dari pondok. Saya merasa termasuk dari mereka itu. Namun, saya masih mengikuti ujian akhir kelas 3 MTs, walau hanya mengerjakan soal sebentar dan keluar. Sehingga sempat ditanyakan oleh alm. Guru Tadjuddin Marzuki, “Kemana Nasruddin? Tidak ikut ujian?” Kawan-kawan menjawab bahwa saya sudah keluar. Kendati demikian, kalau tidak salah saya masih menduduki rangking ke-2 dalam kenaikan kelas ujian tersebut.

Akhirnya saya mendaftar ke SPIAIN (Sekolah Persiapan IAIN) -setingkat Aliyah-, Ciputat. Sekarang sudah berganti menjadi MAN 3. Ketika mendaftar, saya ditanya mau ikut tes kelas berapa? Saya jawab. “Kelas 2”. Ternyata saya lulus. Sehingga saya tidak merasakan duduk di kelas 1. Mungkin bisa saya katakan bahwa kurikulum pondok Attaqwa saat itu cukup bagus sehingga santrinya bisa lulus walau bukan pada mustawa-nya (tingkatan). Dalam pikiran saya, andaikan saya ikut tes kelas 3, saya yakin akan lulus.

Setelah lulus, saya melanjutkan ke IAIN (kini: UIN). Ada beberapa Fakultas yang saya geluti, karena saya dari SPIAIN bisa mendaftar di beberapa Fakultas sebelum menentukan pilihan yang tepat. Tapi saya juga mengikuti tes negeri (saat itu namanya SKALU). Saya pilih jurusan Sastra Arab UI. Saya lulus juga, dan akhirnya saya pilih Sastra Arab UI di Rawamangun. Di Jurusan tersebut saya juga menempati ranking tertinggi dalam pengumpulan SKS, sehingga saya diberikan beasiswa dari Pemda DKI yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Pak Tjokropranolo.

Setelah satu tahun setengah menjalani kuliah, saya mulai gelisah karena untuk menjadi sarjana, menurut saya mudah. Tapi belum tentu berilmu dan berkualitas. Saat itulah saya berkata kepada orang tua bahwa saya ingin melanjutkan kuliah ke Mesir. Permintaan itu didukung oleh orang tua, maka pada bulan januari 1982 saya tiba di Kairo dan mengambil cuti di UI. Tapi saya baru masuk kuliah pada bulan September 1982. Saya masih ingat pengumuman di Universitas Al-Azhar bahwa hasil pengumuman bahwa saya diterima kuliah tertulis dengan tulisan tangan, sedangkan di sebelah atasnya tertulis dengan mesin ketik. Wallahu A’lam apakah karena saya alumni lama (tahun 1979) atau ada pertimbangan hal yang lain. Tapi saya kira di samping itu, yang menjadi pertimbangan barangkali nilai ijazah Aliyah saya cukup tinggi. Kalau tidak begitu, bisa saja saya tidak diterima. Tapi teka-teki tersebut sampai sekarang tidak terjawab. Saya hanya bersyukur saja pada Allah bahwa cita-cita untuk kuliah di Al-Azhar tercapai.

Pada tahun 1982, untuk pertama kalinya saya melaksanakan haji dan bekerja kepada Syaikh di Makkah mengurus jamaah haji. Setelah lulus di Mesir saya melanjutkan ke Islamabad, Pakistan. Disana saya banyak bertemu dengan para alumni Attaqwa yang melanjutkan studinya di IIUI. Dan pertemuan tersebut berlanjut di milis attaqwa-bekasi@yahoogroups.com hingga sekarang. Cuma sangan disayangkan, para ‘pejabat resmi’ saya lihat belum ada yang ada yang jadi member dengan milis yang banyak berbicara untuk kemajuan Attaqwa tersebut.

Saat ini, apa kesibukan Bapak?

Di KBRI Tripoli saya bertugas sebagai staff Politik. Sebelumnya saya pernah bertugas sebagai staf Bidang Urusan Haji (BUH), Konsulat Jenderal RI di Jeddah, dan juga pernah bertugas sebagai APRO (Asst. Public Relation Officer) di Konsulat Agung Negara Brunei Darussalam juga di Jeddah. Kemudian saya kembali ke Jakarta dan mengabdi sebagai tenaga pengajar di Universitas Paramadina, Jakarta. Bahkan saya pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Falsafah dan Agama di Universitas tersebut sebelum akhirnya saya berangkat ke Tripoli. Keberangkatan ke Tripoli ini didahului dengan mengikuti tes di Deplu Jakarta untuk Lokal Staf. Karena faktor usia, saya yang tidak lagi pantas untuk penerimaan diplomat. Tapi saya bersyukur karena mantan santri Attaqwa bisa demikian. Sedikit info, ada pengakuan dari pimpinan bahwa kalau kemampuan sama dengan diplomat, cuma nasib saja barangkali yang berbeda….haaa..haaa. (Pujian itu bukan kepada saya, tapi kepada Attaqwa yang telah melahirkan alumni yang berkemampuan bagus).

Bisa sedikit digambarkan bagaimana tentang kondisi Libya?

Libya, lengkapnya cukup panjang, yaitu Great Socialist People’s Libyan Arab Jamahiriya (GSPLAJ). Bahasa Arabnya, Al-Jamahiriyah al-Arabiyah al-Libiyah al-Sya’biyah al-Isytirakiyah al-Udzma, biasa disingkat dengan al-Jamahiriyah al-Udzma atau al-Jamahiriyah saja. Sistem demokrasinya adalah demokrasi langsung dan kekuasaan rakyat dengan motto, ‘Parlemen yang memutuskan dan Kabinet yang melaksanakan, berdasarkan gagasan pemikiran yang diformulasikan oleh Kol. Muammar Gaddafi, Pemimpin Libya. Kol. Gaddafi tidak menduduki jabatan resmi dalam pemerintahan. Dia hanya the leader (Pemimpin Libya), atau lebih tepatnya the leader of Al-Fateh Revolution. Kekusaan tertinggi ada di tangan rakyat melalui Parlemen yaitu, General People’s Congress (GPC). Keanggotaan parlemen ini dimulai dari Basic General People’s Congress. Semua keputusan penting harus melalui parlemen, sedangkan Kabinet (General Peole’s Cabinet) melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh parlemen. Ketua Kabinet atau Perdana Menteri sekarang adalah Dr. Al-Baghdadi Ali Al-Mahmudi, sedangkan ketua parlemennya adalah Embarek Ammar Al-Samekh. Parlemen menjadi kekuasaan tertinggi sebagai representatif rakyat. Karena itu, kresidensial para duta besar asing disampaikan kepada ketua parlemen, bukan kepada PM atau kepada Kol. Gaddafi. Itu sedikit gambaran ringkas mengenai sistem pemerintahan Libya.

Sedangkan mengenai pembangunan Libya, sebagaimana kita ketahui bahwa Libya baru saja mendapat pencabutan sanksi PBB yang dikenal dengan embargo pada tahun 2003. Libya saat ini sedang giat-giatnya membangun fasilitas infrastruktur di dalam negeri. Dari sisi ekonomi, Libya mempunyai cadangan devisa sangat kuat, bahkan termasuk negara yang tidak terkena imbas krisis ekonomi dunia akhir-akhir ini -dimana negara kaya banyak yang terkena termasuk Uni Emirat Arab, Dubai, dsb-. Libya yang perharinya menghasilkan 1,7 juta barel minyak, rencananya akan ditingkatkan menjadi 3 juta barel perhari pada tahun 2013. Kekayaan alam yang lain adalah gas dan tenaga surya juga angin. Karena itu, banyak perusahaan asing EP (Eksplorasi dan Produksi) yang bergerak di bidang perminyakan, termasuk Pertamina dan PT. Medco Energy dari Indonesia bekerja sama dengan Libya. Sedangkan di bidang infrastruktur, banyak perusahaan asing yang bergerak membangun pembangunan yang digalakkan oleh pemerintah Libya tersebut.

Perusahaan Indonesia juga ada yang mendapat proyek pembangunan infrastruktur, yaitu PT. Citramegah Karya Gemilang (CKG) yang bekerjasama dengan PT. Inti Karya Persada Teknik (IKPT). Di samping itu, ada juga beberapa perusahaan Indonesia yang mendapat kontrak pembangunan infrastruktur yang lain.

Bagaimana gambaran pendidikan tinggi Islam di Libya?

Di Tripoli terdapat sebuah lembaga Pendidikan Islam yang dikelola oleh World Islamic Call Society (WICS) atau Jam’iyyah al-Dakwah al-Islamiyah al-'Alamiyah. Sekjennya bernama Dr. Mohamed Ahmed Sherif. (WICS ini yang membangun Gaddafi Islamic Center di Sentul dan rencananya akan membuka cabang Kulliyah al-Dakwah al-Islamiyah (KDI) disitu). Lembaga ini seperti Al-Azhar di Mesir yang mengelola Universitas Al-Azhar. Lembaga pendidikan yang dikelola oleh WICS bernama KDI. Mahasiswa Indonesia yang belajar di lembaga tersebut saat ini berjumlah ±130 orang. KDI hanya menerima 1000 mahasiswa dari seluruh dunia, dan semuanya diberikan beasiswa (saya lebih menekankan uang zakat, karena lebih greget).

Untuk mendaftar ke KDI, pihak WICS mempercayakan kepada perwakilannya di Indonesia yang juga merupakan alumni KDI. Namanya K.H. Muhyiddin Junaidi (biasa disapa dengan Pak Jun). Beliau juga sebagai pengurus MUI Pusat, Ketua Bidang Kerjasama Hubungan Luar Negeri MUI saat ini. Setiap tahun, mahasiswa yang ingin belajar di KDI mengikuti seleksi yang diselenggarakan di Jakarta, tempatnya di kantor PP Muhammadiyah Menteng. Bagian yang bertugas di bidang pengiriman mahasiswa LN adalah Ust. Zainal Abidin, sahabat saya alumni Universitas Zaituniyah, Tunisia. Bagi santri Attaqwa yang berminat bisa mengikuti tes tersebut di tempat yang saya sebutkan di atas dan bisa minta informasi dari Ust. Zainal Abidin di PP Muhammadiyah. Setiap tahun, Indonesia mendapat quota belasan mahasiswa untuk belajar di KDI.

Adakah pesan dan Kesan untuk Attaqwa tercinta?

Pesan saya, pertama untuk para sesepuh perguruan putra dan putri agar bergabung dengan milis grup Attaqwa-Bekasi, karena milis tersebut berbicara tentang kepedulian mengenai perguruan Attaqwa, terutama kepala Perguruan dan Kepala Sekolah seperti Guru Nurul Anwar, Guru Masilla, dsb.

Kedua, pesan saya kepada para santriwan/wati agar memanfaatkan sebanyak mungkin media untuk melihat dunia. Kalau pada zaman saya di pesantren semua masih serba mustahil, sekarang tidak lagi. Semua informasi mengalir dengan deras, ‘ragma anfih’, kata orang Arab.

Kesan saya, pertama kepada para ‘sesepuh pengelola’ Attaqwa masih mengidap penyakit post power syndrome. Saya masih mendengar ada kecurigaan, misalnya, milis itu sebagai tempat orang-orang yang mengkritik Attaqwa, yang sebenarnya seharusnya malah berterima kasih bahwa para alumni sangat perduli pada perguruan. Seharusnya berfikir positif saja, bahwa semua kritikan tersebut merupakan penilaian yang sangat netral yang bisa dijadikan barometer pengelolaan perguruan selama ini.

Kesan kepada santriwan/wati saya tidak ada karena sudah kelamaan.