Friday, February 19, 2010

Wawancara Eksklusif Bang Abdul Hayyi Alkattani, MA. - Mesir


T: Bagaimana perjalanan abang bisa sampai ke Mesir hingga hampir menyelesaikan program dukturah dan kenapa memilih Mesir sebagai tujuan?

J: Saya itu selesai di Attaqwa tahun 1991. Pada zaman saya orang yang lulus dari Attaqwa lulusan aliyah tidak bisa langsung ikut ujian negeri, tapi satu tahun kemudian baru bisa ikut ujian persamaan, tidak seperti sekarang. Jadi tahun 1992 saya baru bisa ikut ujian tahun itu. Ketika itu pula saya diinformasikan ada kesempatan untuk sekolah ke Mesir jadi semenjak itu saya ke Mesir. Kenapa saya pilih Mesir? Waktu itu saya ada pilihan: imma ke Malaysia atau imma ke Saudi atau ke Pakistan atau Mesir. Jadi dari sekian pilihan-pilihan itu saya lihat ternyata Mesir yang paling menjanjikan. Dalam artian di Mesir itu kita bisa menguasai bahasa Arab secara langsung tapi juga kita mempunyai kesempatan untuk mempelajari hal-hal lain, hal-hal yang bersifat organisasi dan ilmu-ilmu yang lebih luas.

T: Masalah S3 program dukturah, kapan rencana abang menyelesaikan disertasi dan apa saja yang abang sudah persiapkan dalam hal tersebut?. Kalau boleh tahu apa yang akan abang bahas dalam disertasi tersebut?

J: Ketika tahun 1991 selesai aliyah, saya berkesempatan selama sepuluh bulan menemani pak kyai pada hari-hari terakhir dari beliau sakit sampai beliau meninggal. Dari situ saya melihat bahwa betapa ulama itu sangat penting. Ketika beliau sakit kita kehilangan, dari situlah dan selama itu pula saya disamping menemani ternyata saya belajar informal. Ya saya cukup belajar di samping kasur, sambil menemani pak kyiai saya membaca. Kadang-kadang ketika melihat teman-teman PPA-Wati yang sedang berjalan ke sekolahnya, saya sedih juga ingin seperti anak-anak sekolah lagi. Jadi ada dua hal yang yang mendorong saya untuk sampai S3. Pertama, pentingnya ulama; yang kedua, pentingnya belajar. Ketika itu saya berfikir dan bertekad jika ada kesempatan saya akan pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk belajar. Karena saya merasakan saat itu jadi betapa pentingnya ilmu. Kita merasa kehilangan ketika almarhum meninggal. Di samping itu juga saya merasa betapa kosongnya saat itu karena tidak belajar. Jadi dua hal itu yang mendorong saya untuk bertekad: pokoknya di Mesir saya harus selesai pada puncaknya, bagaimana pun caranya. Dari situ saya belajar rajin. Maka ketika S1 alhamdulillah saya jayyid empat tahun selesai. S2 saya ke Al Azhar, tapi ternyata di Azhar itu saya tidak muqayyad juga setelah setahun mendaftar. Saya lulus tes tapi muqayyad nya ngga turun-turun. Jadi karena dorongan untuk belajar maka saya melompat ke Darul Ulum, walaupun bayar. Kemudian saya pindah kesana. Ternyata krisis ekonomi datang. Jadi dari situ saya mau S2 cepat, tapi malah jadi molor. Karena apa? Karena saya masuk Darul Ulum harus bayar, tapi uangnya tidak ada. Ya kemana lagi selain harus kerja. Kerjanya apa? Ya banyakin terjemah? Ini jadi sebab kenapa terjemah saya banyak. Ya karena buat bayar kuliah dan buat hidup. Jadi bukan saja terjemah itu saya hobi, tapi juga karena kebutuhan. Karena memang jalannya seperti itu, ya kita jalanin.


Jadi cukup lama juga disini. Saya intinya kerja juga kan. Di situlah kenapa akhirnya saya banyak punya buku yang diterbitkan. Jadi ada hikmahnya. Satu segi saya lambat tapi satu segi saya banyak punya buku. Tapi seharusnya dua tahun malah molor 5-6 tahun. Syukur alhamdulillah 2004 selesai. Dan setelah itu saya masih belum puas karena cita-cita yang paling akhir itu belum dapat, yaitu S3 di Mesir. Maka saya pun mengusahakan tahun 2005 saya daftar judul, alhamdulillah diterima. Pas itu saya pulang ke indonesia libur tiga bulan. Ketika balik ke Mesir, saya dapati ternyata judul saya ada yang sama dengan judul orang lain. Maka saya akhirnya harus dari awal mencari judul cari lagi. Tahun 2006 saya masih cari judul. Akhir 2006 atau 2007 baru mendapatkan judul lain. Dua tahun hilang. Maka kita di situ diuji kesabarannya. Di mesir ini, jika kita ada kesulitan kemudian kita hadapi dengan sabar dan tidak lari, insya Allah bisa menemukan jalan keluarnya. Ada kesulitan ada kemudahan. Jadi inna ma’al ‘usri yusra itu benar adanya. Insya Allah dikasih jalan keluar. Ketika itu semenjak tahun 2007 saya mulai baca kumpulin bahan jadi 2008 itu saya baru mulai menulis dan diusahakan hingga akhir tahun ini selesai. Jadi cukup lama perjalanannya dari tahun 1992 sampai 2009. Memang ilmu itu sangat penting dari dulu pun ulama belajar sampai meninggal. Nabi Musa ditanya oleh Allah siapakah orang yang paling cerdas dan pintar dimuka bumi ini? Nabi musa bilang, "saya". Ternyata jawaban itu ditolak oleh Allah swt. Maka kaget kan nabi musa. Padahal Nabi Musa kan seorang nabi, tapi masih ada yang lebih pinter darinya. Maka nabi musa diperintahkan untuk belajar ke Nabi Khidir. Intinya, di atas yang lebih pintar ada lagi yang lebih pinter lagi. jadi ga boleh berhenti belajar. Ilmu itu tidak ada batasnya.

Kembali ke risalah saya, yang saya tulis saat ini tentang “Khuludun nas bayna asshufiyah walfalasifah islamiyyin” yaitu tentang konsep kekekalan jiwa antara kalangan tasawuf dan kalangan filosof Islam. Jadi menyangkut bagaimana memahami jiwa itu apa terus bagaimana setelah meninggal.

T: Pembicaraan yang paling anyar untuk saat ini dikalangan masisir kurang lebih ada tiga, pertama permasalahan seputar Maba. Kedua, seputar partai politik atau pemilu. Yang ketiga, permasalahan nasib Palestina. Untuk ketiga permasalahan ini kami dari redaksi Kreasi ingin mengetahui pandangan abang tentang hal tersebut.
Pertama seputar Maba: Melihat kondisi sekarang sepertinya sulit sekali untuk melanjutkan studi ke timur tengah khususnya mesir, dampak dari kondisi tersebut adalah nasib para maba khususnya maba attaqwa yang berjumlah 17 orang yang sampai saat ini tak kunjung datang yang sudah pasti meninggalkan mata kuliah pada termin satu. Bagaimana pandangan abang mengenai hal ini dan solusi bagi mereka?

J: menurut saya kita dalam masalah ini dari segi fakta disini kita menyalahkan lembaga resmi pemerintah Indonesia dalam hal ini Depag dan orang-orang yang bertanggung jawab disana. Ini setelah saya pelajari adalah murni kesalahan mereka jadi permainan zaman dulu, sistem zaman dulu itu masih dipakai. Ini tidak bisa dipergunakan untuk pergaulan internasional. Ini adalah tamparan bagi Indonesia. Bagi kita apabila terjun di Depag maka harus melakukan perubahan. Salah kalau gaya lama diterapkan untuk menangani milik orang luar . Azhar itu kan memberikan kesempatan kepada kita. Itu sebenarnya sama saja kita diberikan beasiswa. Walaupun yang tidak dapat beasiswa secara langsung pun tetap secara hakikatnya mendapatkan beasiswa dari Al Azhar. Karena kita bayar cuma sedikit. Jadi fasilitas itu sama saja beasiswa. Secara tidak langsung semua orang yang belajar di Azhar itu menikmati wakaf orang mesir. Kekayaan wakaf orang mesir ini yang sedang kita nikmati di Mesir berupa fasilitas belajar apalagi yang dapat beasiswa kan seperti di bu'uuts dan kuliah itu semua wakaf kekayaan orang Mesir. Disini kita menyayangkan Depag tidak profesional sebetulnya ini merupakan suatu tamparan yang memalukan. Sebagai lembaga agama banyak orang yang pintar dan katanya agamawan, ternyata seperti itu. Jadi kalau kita dulu bisa bersembunyi sekarang orang luar melihat dan membuka masalah ini jadi betul-betul terlihat. Bagi kita sebagai rakyat biasa dan bukan pejabat yang berwenang, melihat mahasiswa baru itu tidak bisa mempunyai tawaran apa-apa untuk mengubah itu semua, karena memang permainannya itu tingkat lembaga Negara. Jadi melihat kondisi sekarang kita harus ambil hikmahnya. Selama kosong itu manfaatkan apa saja ilmu yang bisa dipelajari. Apakah bahasa Arab atau bahasa Inggrisnya. Apakah dia memperdalam dan menyiapkan hafalan al Qur`annya dan sebagainya. Memang betul para MABA itu berada dalam penyesalan, menyalahkan atau pusing-pusing malu sama tetangga karena katanya mau berangkat tapi belum juga. Maka menurut saya, saat menunggu itu seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Supaya nanti ketika datang waktunya berangkat ke Kairo, dia sudah siap.

T: Selanjutnya bila mereka sudah sampai di Mesir, apa yang seharusnya mereka lakukan?

J: Jadi menurut saya mahasiswa baru itu sebaiknya tingkat satu dan tingkat dua malah memfokuskan dirinya pada pelajaran. Dia harus menguasai pelajaran dan merasakan lulus, minimal di tingkat satu. Jadi ketika lulus, dia tahu bagaimana cara ber ta’amul, cara menghadapi Azhar itu bagaimana supaya bisa lulus. Apalagi jika nilainya bagus, tentu akan sangat baik. Jadi kalau sudah ketahuan carannya maka bisa mengatur waktu untuk hal-hal yang lain. Misalnya organisasi.


Jadi organisasi itu tidak kemana-mana, sehingga tidak perlu dikejar-kejar. Kita tinggal dan tidak ikut organisasi itu juga tidak kenapa-napa. Tapi kalau pelajaran, ya kalau kita tidak pelajari maka kita nya kemana-mana, tapi belajarnya kemana tau. Jadi untuk saat ini, yang terpenting adalah pelajaran, terutama al Qur`an dan bahasa Arabnya baik fushah maupun 'amiyah, serta pengungkapannya. Jadi kalau itu sudah kuat, untuk kedepannya enak. Usahakan kenal langsung sama orang Mesir, gaul, jadi bahasa nya itu bukan bahasa Indonesia tapi Arab Mesir. Jangan kita sampai di sini kumpul sama orang satu kampung, sama saja preman ciplak pindah markas ke Kairo; orangnya dia-dia juga. Kalau dulu nongkrongnya di warteg Ciplak, kalau sekarang adanya di Kairo Hayyul Asyir. Orangnya dia-dia juga dan yang dibicarakan itu-itu juga, ya sama saja.

T: Mengenai Pemilu Raya tahap pertama yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 April 2009, bagaimana persepsi abang tentang kegiatan partai politik di kalangan masisir dan tentang Golput?

J: Menurut saya, ini adalah momen untuk kita menentukan sedikit berperan dalam masalah Negara. Jadi kesempatan untuk turut menentukan dengan cara memilih orang yang baik. Ketika –misalnya- kita golput, ya tidak ada yang rugi. Yang rugi kita saja. Karena seharusnya kita berperan, jadi ngga. Malahan yang untung non-muslim seperti kalau tidak salah di Kalimantan Tengah. Orangnya mayoritas muslim tapi banyak yang golput atau yang Islam itu pendidikannya kurang dan tidak suka bergerak di bidang politik dan pemerintahan. Jadinya anggota DPRD serta bupati dan gubernurnya kebanyakan non-muslim. Sekarang baru mereka menyadari dan merasakan kena batunya. Atau tidak enaknya memilih golput. Karena ternyata pejabat-pejabat itu menggalakan pendirian gereja di sana, padahal di daerah muslim. Para penduduk menentang tidak bisa, karena dikuasai oleh non-muslim. Jadi selama kita mampu menggunakan kesempatan untuk menentukan pilihan yang terbaik, lakukanlah.

T: Seputar nasib Palestina: Jika Palestina berjihad dengan perang, tentunya kita selaku sesama muslim tidak bisa begitu saja membiarkan saudara kita susah. Lantas, menurut Bang Hayyi jihad seperti apa yang bisa kita lakukan agar kita tidak termasuk golongan yang dikatakan “tertawa di atas penderitaan saudaranya (Muslim Palestina, Red)”?

J: Jadi sebenarnya kasus Palestina-Israel itu kasus yang kompleks. Sebetulnya ini sudah masuk kategori kasus internasional. Saya lihat, hingga negara Arab pun ketika terjun itu kemungkinan mereka malah rugi. Jadi kenapa negara Arab malah buat perjanjian damai? Karena seandainya Yordania, Saudi, Mesir itu berperang melawan Israel, kemungkinan malah Mesir nya yang ke ambil bukan Israelnya yang diambil. Karena apa?Karena Israel itu pada hakikatnya Amerika. Kita perhatikan kekuatan tahun 1948 terus tahun 1967, serta sebelumnya perang ‘Udwan Tsulatsi; Ketika tahun 1948 di Mesir ini dan negara-negara Arab dalam jajahan. Kekuatan dan pusatnya Islam itu ada di Turki. Tidak ada kekuatan bersenjata secara riil dan massif di Timur Tengah, saat itu. Yang ada suku-suku kecil. Jadi memang, tidak dapat berbuat banyak. Sementara Israel itu kepanjangan tangan dari Inggris dan Prancis. Karenanya, Negara-negara Arab pada 1948 itu kalah. Karena memang tidak ada pemerintahan yang efektif. Tentara yang ada di Timur Tengah itu tentara Inggris. Walaupun di Mesir ada Ikhwannya, tapi sedikit yang pegang senjata dan kurang massif dan kurang efektif. Tahun 1967 juga sama. Israel nyerang duluan dengan senjata yang mutakhir. Arab baru mengumpulkan senjata sudah diserang. Sementara tahun 1973, Amerika gentian menyokong Israel. Jadi semuanya memang baik Inggris maupun Perancis menggunakan Israel sebagai agennya di Timur Tengah.

Sementara saat ini, seandainya Mesir berperang melawan Israel, maka Mesir akan dikucilkan dan kemungkinan kehilangan sebagian negaranya serta rakyatnya mati. Negaranya berkurang dan masyarakatnya jatuh miskin karena habis buat beli senjata. Jadi kadang kita fahami juga kenapa Mesir dan Yordan akan menjadi lebih parah lagi seandainya dia perang. Karena memang kondisinya belum memungkinkan.

Maka bagi kita pelajar di Mesir ini, kita perang melawan kebodohan. Jadi ketika kita misalnya benci dan marah terhadap Israel maka kemarahannya itu seharusnya ditujukan kepada kebodohan kita. Kalau misalkan selama ini nilainya pas-pasan, maka perangnya berarti harus jayyid demi palestina misalnya. Jadi bukan sambil nangis meratapi Palestina, tapi tetap tidak belajar. Melihat orang dibunuh marah, dsb. Israel malah senang kalau kita marah dan stress. Kita marah tidak ada pengaruhnya buat dia. Kita ada pengaruhnya kalau kita jadi pintar, bisa menguasai, dan bisa diplomasi. Jadi kalau kita bisa berkomunikasi menggalang masa, itu yang ditakutkan sama dia. Kita bisa menggalang financial untuk gerakan umat islam itu yang ditakutkan sama dia. Kalau bom-boman malah dia senang sambil mengatakan: ternyata Islam itu teroris, tuh lihat buktinya.

Terkadang kita senang berjuang jangka pendek, padahal yang paling susah itu berjuang jangka panjang. Yaitu dengan membangun pendidikan, mendidik masyarakat dsb. Itu perjuangan. Jadi perang itu ada selesainya, kalau bangun masyarakat itu tidak ada selesainya. Perang ada selesainya, sedangkan belajar tidak ada selesainya. Karena ilmu tidak ada habisnya.

T: Kalimat penutup dan pesan untuk kawan-kawan IKPMA.

J: Menurut saya, sampainya kita di Mesir itu amanah. Karena ada ribuan orang bahkan jutaan orang ingin ke Mesir. Ada orang yang susah lulus tes. Ada yang sudah lulus tapi tidak dapat visa. Ada yang punya kemampuan tapi tidak ada uang. Maka suatu kesalahan bila kita sudah sampai disini apalagi bisa lulus ternyata kita tidak pergunakan itu untuk mempercepat atau memperdalam ilmu. Jadi kalau ada yang terburu-buru ingin berbakti ke Indonesia, ingin ngajar, sebelum menempuh pendidikan secara total di Mesir hingga jenjang yang tertinggi, itu menurut saya godaan. Zaman dulu itu kyiai-kyiai kalau sebelum dipanggil orang tuanya belum pulang. Jadi kalau orangtua nya sudah tua, sudah saatnya regenerasi, baru pulang. Tentunya sampai selesai jenjang yang tinggi. Tapi kalau orangtua masih muda, sehat, baru empat tahun sudah pulang, itu namanya manja. Sementara kalau dia di Mesir ini ada pengurusan beasiswa dan macam-macam, sehingga terbuka kesempatan untuk terus lanjut. Jadi amanah di Mesir itu tidak semua orang dapat meraihnya. Banyak yang ngiler. Paling yang kita harus bayar itu waktu; yaitu lamanya waktu belajar dimesir. Seperti saya alami sendiri. Kemudian kedua, kesabaran. Karena sering ktia menghadapi musykilah ini musykilah itu. Jadi di Mesir itu harus pintar mengolah kesabaran. Ada musykilah visalah, ada musykilah temanlah, ada musykilah pembiayaanlah. Jadi semuanya itu warna-warni kehidupan. Jadi kalau baru S1 pulang ya susah. Ngapain di sana? Biasa saja, belum ada atsarnya. Minimal S2 atau S3. Apalagi ternyata dari segi kemampuan, anak-anak kita itu hanya kalah dengan MANPK Koto Baru Padang. Berarti mengalahkan Ciamis, Darunnajah, Gontor dll. Dulu kan kita kagum sama Gontor, tapi ternyata secara akademis yang kelihatannya kita tidak bisa apa-apa, disini kita bisa punya kemampuan mengungguli mereka. Tapi kenapa justru lulusan Gontor itu banyak tampil di tanah air, tampil kayak di sini? Nah itu yang harus kita pelajari. Kekurangan kita itu apa dalam segi akademis? Saya yakin kita cukup bagus dalam hal akademis itu. Nah kekurangannya itu harus dilihat dan dipelajari kemudian diberikan solusinya. Jadi jangan berpuas diri dengan capaian yang ada. Karena jika tidak, maka ketika pulang jadinya begitu-begitu saja, di kampung lagi, jadi ustadz kampong. Padahal lulusan Kairo itu seharusnya garapannya imma nasional, atau malah internasional. Atau kalau ngga nasional, minimal provinsi dah. Bagaimana caranya? Lihat orang-orang yang sudah sukses di nasional, seperti pak Quraisy Shihab. Kalau internasionalnya seperti Said Agil Mahdali yang bukunya diterbitkan di Mesir, atau Darul Hadits. Dari pilihan-pilihan itulah yang nantinya menentukan bakat kita. Jadi kita harus sungguh-sungguh berusaha baru tercapai cita-cita.

Curriculum Vitae
H. Abdul Hayyie al Kattani,MA.TTL:Bekasi, 26 Juli 1972.Menikah, Nur Inayah Dimyathi (Isteri)dikaruniai dua orang putra Syadi Abdul Hayyi dan Muhammad Abdul Hayyi.Pekerjaan: Mahasiswa Program Dukturoh Universitas Darul Ulum, Mesir.Email: alkattani1@gmail.com.Kekeluargaan :KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta)Almamater: IKPMA (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Attaqwa)Aktifitas : Wakil ketua redaksi bulletin Fajar 1995-1996, anggota dewan redaksi Jurnal Oase 1996-1998, ketua kelompok studi Mizan Study Club 1998-1999, pengurus ICMI Orsat-Cairo 1997-1999, Peneliti di ISSR (Islamic Studies and Social Research) Cairo 1998-2000, Director on Board Cimas (Centre for Information, Middle East and Africa Studies) Cairo, Dewan Konsultatif PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) Mesir 1999-2000, Penasehat Pengurus Wilayah PII Mesir (1999-sekarang), anggota dewan redaksi bulletin Kreasi - Cairo, 1994-1995, dan peneliti di FOSHAM (Forum Studi Hak Asasi Manusia) Mesir. Buku-bukunya (terjemahan) yang telah dan akan terbit adalah:Islam dan Pluralitas, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Trend Islam 2000, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1997. Fiqh Responsibilitas, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, GIP, Jakarta, 1998.Berita Kemenangan Islam, Dr. Yusuf al Qardhawie, GIP, Jakarta, 1997. Sunnah Rasul Sumber Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, Dr. Yusuf al-Qardhawie, GIP, Jakarta, 1998. Hidangan Islami, Syekh Fauzi Muhammad Abu Zaid, GIP, Jakarta, 1997. Bepergian (Rihlah) secara Islam, Dr. Abdul Hakam Ash Sha'idi, GIP, Jakarta, 1998. Hukum Murtad, Dr. Yusuf Al Qardhawie, GIP, Jakarta, 1997. Al Quran Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, Dr. Yusuf al Qardwahie, GIP, Jakarta, 1998. Fundamentalisme dalam Perspektif Pemikiran Barat dan Islam, Dr.Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Islam dan Keamanan Sosial, Dr. Muhammad Imarah, GIP, Jakarta, 1999. Pergolakan Pemikiran, Dr. Murad Wilfred Hoffman, GIP, Jakarta, 1998. Miskin dan Kaya dalam Pandangan Al Quran, Muhammad Bahauddin Al Qubbani, GIP, Jakarta, 1999. Hukum Tata Negara, Al Mawardie, GIP, Jakarta, 2000 Dosa-dosa Besar, Syekh Mutawalli Sya'rawi, GIP, Jakarta, Khutbah-Khutbah Imam Ali KW, karya Imam Muhammad Abduh, GIP, Jakarta, Tuntunan dalam Khitbah (Bertunangan), karya Muhammad Ali Quthb, GIP, Jakarta, Petunjuk Jalan, karya Sayyid Quthb, GIP, Jakarta. Sekarang sedang menggarap terjemah kitab Al-fiqhu al-Islam wa Adillatuhu karya Wahbah Zuhaili bersama tim terjemahnya. Dan Masih banyak lagi buku-buku terjemahannya yang lain.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah membaca postingan ini ... Silahkan tinggalkan pesan Anda.

Post a Comment