Monday, February 15, 2010

Wawancara Eksklusif H. Husnul Amal, MA. - Maroko.


Berikut ini cuplikan wawancara dari H. Husnul Amal, MA, alumni Attaqwa putra tahun 1998.

Bagaimana perjalanan studi anda?

Saya alumni Ponpes Attaqwa Tahun 1998. Namun, saya baru kuliah melanjutkan S1 tahun 1999 di al-Azhar Kairo. Karena pada tahun 1998 saat saya lulus, Indonesia masih dalam masa resesi ekonomi yang membuat perekenomian dan nilai mata uang kita anjlok. Sehingga dalam keadaan yang tidak pasti -di dalam negeri- menyulitkan saya untuk memutuskan apakah melanjutkan studi di luar negeri (Mesir) atau tidak. Akhirnya saya putuskan untukmenunggu. Sembari wait and see, saya mengabdi beberapa bulan di almamater dan kemudian masuk ke UIN Jakarta (saat itu masih IAIN) selama satu tahun. Setelah menempuh program S1 di Meisr, saya melanjutkan studi di Maroko.

Apa status profesi di Maroko?

Saat ini saya sedang menjalani Program Doktoral di Universitas Sultan Moulay Slimane yang berlokasi di salah satu wilayah Maroko yaitu Kota Beni Mellal. Di universitas ini, hanya terdapat 2 orang mahasiswa Indonesia, saya dan 1 lagi teman saya yang sedang menempuh program S2. Sebelumnya saat S2, saya menyelesaikannya di kota Rabat pada Institut Dar al- Hadits al-Hassaniyah li al-Dirasat al-Islamiyah al-'Ulya. Jadi saat ini saya beada di kota baru, universitas baru dan tentunya dengan suasana dan tantangan yang baru dari kondisi sebelumnya.

Mengapa anda memilih Maroko sebagai tempat menuntut ilmu? Kira-kira apa kelebihan dan kekurangannya?

Ada beberapa hal yang membuat saya memilih Maroko sebagai tempat melanjutkan studi, diantaranya:
Pertama, khazanah keilmuan Islamnya yang kaya dan tidak kalah dengan negara arab/timur tengah lainnya. Bagi sebagian masyarakat kita, mendengar nama Maroko memang masih terasa asing dan belum menjadi negara tujuan studi. Saya pikir, ini disebabkan karena minimnya informasi yang sampai kepada kita dan alumninya, Dari Indonesia pun memang belum banyak alumni dan tidak terlalu dikenal. Namun, sejatinya Maroko memiliki andil yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang keilmuan Islam, terutama ulama-ulama yang berasal atau pernah singgah/menetap di wilayah Maghrib al-'Araby yang termasuk kawasan Maroko, hingga Andalusia di Spanyol pada masa kejayaan Islam yang ada di wilayah baratnya. Misalnya, dalam bidang kajian hadits yang saya ikuti, tercatat nama Al-Qadhi 'Iyyadh, pengarang kitab "Masyariq al-Anwar", "Ikmal al-Mu'lim" yang merupakan salah satu syarah kitab Shahih Muslim dan kitab "al-Syifa", sebuah kitab sirah nabawiyah. Beliau wafat dan dimakamkan di Marakech, salah satu kota di Maroko. Di bidang fiqih kita mengenal nama Ibnu al-'Arabi al-Ma'afiry penulis kitab "Ahkam al-Qur'an". Di bidang lainnya, kita kenal nama-nama seperti Ibnu Batutah seorang pengembara muslim, berasal dan wafat di kota Tanger/Tanjah, Maroko yang telah menulis perjalanannya keliling dunia dalam bukunya yang masyhur bernama "Rihlah Ibnu Batutah". Kita kenal juga Ibnu al-Jurrumi al-Shonhaji pengarang kitab nahwu "al-Jurrumiyah", ulama asal kota Fez/Fas, Maroko juga Syaikh al-Jazuli yang dimakamkan di Marakech. Juga pengarang kitab "Dalail al-Khairat" yang tidak asing lagi bagi kalangan pesantren di Indonesia. Sementara ulama-ulama kontemporer dalam bidang hadits kita sebut saja keluarga Al-Ghimari seperti al-Syaikh Abdullah bin al-Shiddiq Al-Ghimari asal kota Tanger/Tanjah, Maroko. Juga keluarga al-Kattani seperti al-Syeikh Abdul Hayyi al-Kattani pengarang kitab "Fihris al-Faharis" dan al-Syeikh Yusuf al-Kattani yang sangat konsen dengan kajian Shahih al-Bukhari. Beliau merupakan ketua Jam'iyyah al-Imam al-Bukhari di Maroko. Sementara untuk universitas, di Maroko terdapat universitas al-Qarawiyyin di kota Fez/Fas yang menurut catatan sejarah telah ada sebelum berdirinya al-Azhar di Mesir dan juga merupakan salah satu pusat studi Islam pada masanya yang telah melahirkan banyak ulama.
Kedua, target dan sistem studi yang terukur dan efisien hingga memungkinkan bisa lebih cepat selesai. Setelah saya selesai S1 dari Fak. Ushuluddin al-Azhar Kairo tahun 2003, saya melanjutkan S2 yang harus berada di tempat yang kondusif dan dapat memacu saya agar lebih cepat selesai. jika memungkinkan masih harus di negara arab, tentunya selain Mesir. Maka saya memilih Maroko karena masa tempuh studi S2 hanya 2 tahun. Pada saat mulai memasuki masa tamhidy (red: masa belajar-mengajar) pada tahun kedua, sudah bisa mengajukan judul dan mengerjakan risalah yang diharapkan dapat diselesaikan bersamaan dengan selesainya tamhidy kedua ini. Namun, jika belum selesai dapat diperpanjang (tamdid) hanya 1 tahun dan dianggap DO (mafshul) bila tidak selesai juga setelah masa perpanjangan ini. Jadi kita akan merasa tertantang dengan kesempatan, target yang diberikan, dan berpacu dengan waktu untuk segera selesai studi. Tahun ini (2009) memang telah ada perubahan kebijakan-kebijakan pendidikan oleh pemerintah yang harus diadaptasi kembali bagi mahasiswa yang belajar di Maroko pada semua tingkatan universitas. Namun perubahan itu tentunya bertujuan baik untuk menciptakan iklim belajar-mengajar yang lebih kondusif. Yang saya ketahui, studi S2 dalam kebijakan barunya saat ini hanya 2 tahun; 3 semester (1,5 tahun) dipadatkan untuk masa tamhidy. Sisa 1 semester (1/2 tahun) khusus untuk menyelesaikan risalah dengan bimbingan intensif dari Musyrif (red: Pembimbing).
Ketiga, pertimbangan saya yang tidak kalah penting memilih Maroko, yaitu saya ingin mencari kesempatan melanjutkan studi dengan biaya minimalis, bahkan kalau bisa yang gratis seperti di al-Azhar. Selain itu, juga bisa mendapat kesempatan untuk memperoleh minhah. Nah, di Maroko tingkat pendidikan baik di sekolah ataupun universitas milik pemerintah semuanya gratis, baik untuk pribumi ataupun orang asing. Jika kita mendaftar melalui prosedur resmi yang sudah disepakati oleh pemerintah Indonesia dan Maroko, begitu kita diterima di salah satu lembaga pendidikan resmi milik pemerintah Maroko maka dengan otomatis kita mendapatkan hak minhah. Dengan minhah ini, diharapkan dapat meringankan biaya kehidupan sehari-hari yang harus ditanggung sendiri selama masa studi nantinya.
Keempat, adanya faktor taufiq dari Allah Swt. atau jika boleh saya sebut faktor "keberuntungan". Dan saya sangat bersyukur pada Allah Swt. untuk hal yang satu ini. Karena yang saya ingat, ada beberapa teman seangkatan yang lulus S1 al-Azhar tahun 2003 mencoba ikut mendaftar melalui murasalah ke Maroko, tapi mereka tidak kunjung mendapat panggilan hingga akhirnya mereka tidak sabar dan pulang ke tanah air.
Kelima, untuk membuka dunia baru bagi hidup saya dan juga bagi alumni Attaqwa di masa yang akan datang, agar tercipta jaringan baru dan lebih luas. Selama ini, tradisi alumni kita setelah lulus nyantri untuk melanjutkan studi, sering ikut-ikutan atau takut-takutan. Meski saya tidak bermaksud menafikan pertimbangan atau tidak menghormati pilihan masing-masing pribadi. Kita seringkali mengikuti kemana arah angin berhembus. Biasanya kalau ke luar negeri lebih sering anginnya ke Mesir, Malaysia atau Pakistan. Atau barangkali juga kita memang seringkali takut-takutan untuk mencoba sesuatu yang baru dan tinggal di tempat yang asing bagi kita. Saya menjadi orang Ujungmalang atau Bekasi pertama yang "nyaba" negeri Maroko sebagai mahasiswa. Semoga saja bukan menjadi yang terakhir. Namun saya berharap akan muncul generasi Attaqwa kemudian yang mau dan mampu mengambil juga hikmah dan mutiara ilmu di Maroko ini.
Dari penjabaran di atas, tentunya itu bisa dinilai sebagai hal positif mengapa saya memilih Maroko. Sedangkan untuk hal yang negatif, saya tidak ingin menilai hal-hal yang tersebut merupakan sisi negatife belajar di Maroko, namun itu semua merupakan tantangan yang harus ditempuh dengan sungguh-sungguh.
Pertama, mengenai jumlah mahasiswa yang minim dan posisi mereka yang tersebar di berbagai kota di Maroko, baik yang berjauhan ataupun yang berdekatan. Belum lagi segala hal yang berbau keindonesiaan -seperti makanan, rumah makan atau kegiatan-kegiatan mahasiswa Indonesia- hal-hal ini menjadi sesuatu yang mahal dan istimewa bagi mahasiswa Indonesia di Maroko.
Kedua, soal biaya hidup yang bagi saya yang telah berbekal pengalaman membandingkan dengan kehidupan di Mesir, ternyata biaya di Maroko lebih mahal. Menurut pengalaman dan perhitungan saya, untuk dapat hidup "cukup pas" di Maroko butuh $150-$200/bulan. Semua itu untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sewa rumah, bayar air dan listrik, biaya makan dan belanja, transportasi, membeli buku wajib/muqarrar serta membeli buku-buku tambahan. Sementara di Mesir, kita bisa hidup hanya dengan biaya $50-$100. Itupun sudah bisa mencukupi kebutuhan hidup kita sebagai mahasiswa saat itu. Namun, beban biaya hidup di maroko ini alhamdulillah bisa sedikit terkurangi dengan adanya minhah bagi mahasiswa sebesar $80/bulan. Atas dasar pertimbangan poin inilah, sebagai informasi, seringkali kami menghimbau kepada rekan-rekan yang akan mendaftar di Maroko agar tidak terjun bebas, tidak datang sebelum mendapat panggilan dan agar mendaftar pada prosedur dan jalur yang sudah ditentukan aturannya, agar tidak menjadi beban hidup kita di Maroko nantinya terlebih lagi bagi orang tua.
Ketiga, berbeda dengan al-Azhar yang menganut sistem perkuliahan tidak ketat absensi kehadirannya, tidak ada muqarrar khusus pada tiap maddah (terkadang ada juga dosen yang memberikan/menulis buku untuk muqarrar), tidak terdapat sistem muraqabah mustamirrah (ujian-ujian tambahan sebelum ujian tiap semester, khusus untuk S1), dan tidak adanya kewajiban membuat makalah. Kuliah di Maroko, kita harus rajin kuliah, berusaha mencari sendiri sumber-sumber materi dalam satu maddah dengan pedoman syllabus mata kuliah, membuat makalah untuk tiap maddah serta mempresentasikannya, dan tidak cukup menjawab ujian dengan jawaban yang sesuai dengan soal yang ditanyakan.Tetapi, kita diharuskan menjawab soal dengan komprehensif dan dengan metode menjawab yang berbeda dengan al-Azhar. Metode menjawab soal ujian di Maroko seperti metode pembuatan makalah, ada muqadimah, sub-sub bahasan dari soal yg ditanyakan, inti dari jawaban soal, hingga kepada kesimpulan dan penutup yang semuanya harus tesusun rapih. Karena itu, biasanya soal ujian di Maroko lebih sedikit, hanya 1 atau 2 soal. Semua pertanyaannya berbentuk essai dan harus sesuai dengan metode jawaban yang berlaku. Alhamdulillah, semua ujian akhirnya dapat saya lalui dengan lancar.
Keempat, terkait dengan maddah kuliah. Mata kuliah bahasa asing yang diwajibkan adalah bahasa Perancis. Di Maroko ini pengaruh Perancis sebagai bekas penjajahnya sangatlah kuat. Bahasa Perancis adalah bahasa resmi komunikasi pemerintahan dengan masyarakat Maroko (selain bahasa arab). Hal ini terkadang juga dapat menjadi kendala tersendiri bagi penduduk Indonesia yang lebih familiar dengan bahasa Inggris. Untungnya bagi saya, di tempat saya kuliah saat S2, bahasa asing selain arab yang wajib dipelajari ada 2, satu bahasa pilihan utama yang nantinya akan masuk materi ujian, satu lagi adalah bahasa tambahan untuk dipelajari saja dan tidak diujikan. Pilihannya adalah antara bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Saya tentu saja mengambil jurusan dan pilihan yang aman untuk kelancaran studi. Maka saya pilih bahasa Inggris sebagai bahasa utama dan bahasa Perancis sebagai bahasa tambahan dalam materi kuliah selama S2.

Apa saja yang harus dipersiapkan untuk melanjutkan studi di Maroko?

Persiapan yang utama, tentunya niat yang ikhlas dan kuat untuk belajar.dengan gambaran tantangan yangtelah diceritakan sebelumnya, meski bukan untuk menakut-nakuti teman-teman yang akan melanjutkan studi di Maroko. Tentu kita dapat mengambil pelajaran bahwa belajar di Maroko bukanlah menjadi suatu hal yang mudah. Namun, belum tentu juga menjadi sulit, karena lingkungannya, baik para dosen dan teman-teman di kampus mereka sangat baik dan terbuka untuk memberikan bantuan kepada kita. Karena itu, yang paling utama diperlukan adalah niat ikhlas dan keinginan kuat untuk belajar. Persiapan yang tidak kalah pentingnya juga adalah mental dan kesiapan untuk berada jauh dari komunitas penduduk Indonesia saat hidup di Maroko, serta mental untuk mau dan siap mempelajari hal-hal baru serta siap mengalahkan segala tantangan kondisi yang akan dijalani. Karena realitanya, untuk bisa terdaftar kuliah di Maroko agak sulit ketika hendak menentukan kampus serta jurusan yang diinginkan. Jadi, diharapkan jika ingin ke Maroko, haruslah siap mental dengan jurusan apapun yang dicapai nantinya (kecuali S1, biasanya sesuai dengan jurusan Dirasat Islamiyah untuk studi ilmu keislamanseperti apa yang diharapkan), dan kita juga harus siap ditempatkan di universitas manapun milik pemerintah Maroko dan di kota mana pun lokasinya. Meski pada prinsipnya kita bisa mengajukan permohonan berada di kampus yang kita inginkan saat mengirim berkas pendaftaran. Namun keputusan tetap pada pihak Maroko dan institusi Maroko yang memfasilitasi pendaftaran kita. Hal ini lebih dikenal dengan sebutan AMCI.
Quota pelajar serta beasiswa untuk Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Maroko pun hanyalah sebanyak 15 orang pertahun untuk semua tingkatan studi. Jadi, sangat disayangkan jika quota ini dengan sengaja dimain-mainkan dan disia-siakan.
Bagi rekan yang ingin mengambil jurusan umum, disini pun bisa memanfaatkan jatah 15 kursi beasiswa tersebut, karena memang pemerintah Maroko tidak mengkhususkan beasiswa itu untuk para mahasiswa pelajar ilmu-ilmu agama saja. Namun, jika mengambil kuliah jurusan umum, syaratnya harus mempunyai latar belakang dan siap dengan kemampuan bahasa Perancisnya. Karena untuk kuliah semacam ilmu hukum, ekonomi-bisnis dan sebagainya, biasanya lebih banyak menggunakan bahasa Perancis dalam proses belajar-mengajar.
Adapun persiapan procedural seperti biasanya adalah:
a. Fotokopi ijazah terakhir dan transkrip nilai yang telah dilegalisasi (minimal 2 lembar). Ijazah dan transkrip nilai yang tidak berbahasa arab harus diterjemahkan secara resmi,
b. Fotokopi paspor (minimal 2 lembar),
c. Pas foto berwarna (10-15 lembar),
d. Biodata atau curriculum vitae,
e. Surat permohonan pendaftaran,
f. Mengisi formulir serta form pilihan jurusan yang diinginkan (biasanya disediakan oleh Depag)
g. Lulus tes di Depag. Khusus untuk poin ini, berlaku sejak 3 tahun lalu, disebabkan pendaftaran yang kurang terkoordinasi antara Depag, kedutaan Maroko di Jakarta, KBRI di Maroko dan AMCI. Karena itu, diputuskanlah kebijakan pendaftaran hanya 1 jalur, yaitu wajib melalui tes Depag bagi mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke Maroko. Padahal pada masa sebelumnya, dibenarkan proses terjun langsung yang difasilitasi KBRI Maroko untuk pendaftarannya. Namun untuk saat ini, jika tidak melewati pintu tes Depag, maka pendaftarannya tidak dapat diurus, sebagaimana kebijakan ini diberlakukan dan telah dilaksanakan untuk para calon mahasiswa yang akan ke Mesir dan beberapa Negara timur tengah lainnya.

Berapa banyak prosentasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Maroko dan apa saja kegiatannya?

Saat ini jumlah mahasiswa dan pelajar Indonesia di Maroko kurang lebih ada sekitar 40 orang (jumlah pastinya ana tidak hapal) yang tersebar di berbagai kota di Maroko seperti yang sudah ana jelaskan, baik mereka yang S1, S2 ataupun S3. Adapun kegiatan mahasiswa pada umumnya sama dengan rekan mahasiswa di Mesir atau negara lain. Dengan jumlah yang sedikit, kami semua terhimpun dan beraktifitas hanya dalam 1 wadah pelajar/mahasiswa, yaitu PPI Maroko (Persatuan Pelajar Indonesia Maroko). Tidak ada organisasi mahasiswa lain selain PPI. Kami berdiskusi, menyelenggarakan seminar/lokakarya/bedah buku/workshop/penerbitan buku atau sejenisnya, mengadakan event olahraga baik untuk komunitas intern atau pun dengan extern dalam hal ini adalah pelajar se-Asia tenggara bersama dengan mahasiswa Thailand dan Malaysia, baik dalam skala kecil atau pun besar. Kami mempunyai event olahraga dwi tahunan bernama "Seas Games", dan secara bergantian dengan mahasiswa Thailand dan Malaysia menjadi tuan rumah penyelenggaraannya. Mengadakan event kekeluargaan dalam peringatan hari- hari besar Islam, atau pun ikut berpartisipasi menghadiri acara dan event nasional kenegaraan atau yang bersifat insidentil yang seringkali diadakan oleh KBRI Maroko dan masyarakat Indonesia di sini. Alhamdulillah kerjasama dan keakraban PPI, KBRI dan masyarakat Indonesia di Maroko dapat di nilai sangat baik hingga saat ini. Untuk dapat menjalankan dan mengisi kegiatan-kegiatan tersebut tentunya kami menyiasatinya dengan segala tantangan keterbatasan yang kami hadapi, baik dari sisi jumlah mahasiswa yang cukup sedikit atau pun lokasi kami tinggal yang terpisah berjauhan antar kota serta dana yang diperlukan. Karenanya, untuk agenda dan event besar biasanya dilaksanakan pada saat hampir semua mahasiswa kumpul di kota Rabat di mana terdapat sekretariat PPI dan lokasinya tidak berapa jauh dengan KBRI. Kami memanfaatkan waktu-waktu seperti pada masa libur panjang musim panas, pada saat kawan-kawan berkumpul untuk dan sepulang dari haji/temus, dan saat libur hari raya idul fitri atau idul adha, di mana pada kesempatan-kesempatan ini kami maksimalkan waktu penggunaannya agar kawan-kawan PPI semua dapat mengikuti agenda dan kegiatan yang telah dicanangkan oleh PPI. Adapun waktu-waktu selain itu, maka biasanya diisi dengan menyiasati pelaksanaan dalam skup lokal masing-masing kota tempat kami tinggal dan dalam skala yang lebih kecil tentunya, terutama di kota yg terdapat lebih dari 3 orang mahasiswa Indonesia yang menetap di situ. Selebihnya, maka kami menyibukkan diri dengan kegiatan perkuliahan dan kampus masing-masing.

Adakah pesan dan kesan untuk Attaqwa tercinta?

Teruntuk almamater Attaqwa tercinta, tentunya selalu kita harapkan Attaqwa dapat semakin maju. Karena zaman juga sudah semakin maju yang menuntut kita untuk berakselerasi lebih cepat, lebih terukur dengan standar-standar yang berlaku pada masa sekarang serta dengan profesionalisme yang dapat dipertanggungjawabkan. Sejatinya Attaqwa tidak akan pernah kekurangan potensi untuk untuk lebih mengembangkan diri dan lebih memajukan Attaqwa jauh ke depan. Namun, tugas dalam mewujudkan harapan ini tentunya tidak hanya menjadi tanggung jawab para penerus yang secara formal mengurus kelanjutan Attaqwa, tapi juga menjadi tanggung jawab kita sebagai alumni, juga masyarakat Attaqwa dan sekitarnya. Kita tidak lagi berada pada zaman dimana kita bisa mengandalkan sebuah kharisma dan kerja individual untuk mencapai tujuan. Tapi saat ini, kita harus mampu bekerja secara komunal dan profesional untuk mencapai kemajuan. Semoga saja kita menjadi alumni yang selalu siap untuk memberikan kontribusi kepada Attaqwa kapanpun dan dimanapun berada. Saat ini, bagi kita yang belum mendapat kesempatan berkontribusi secara langsung, jangan lupa untuk selalu mendoakan Attaqwa. Ibarat jika kita cinta pada nabi Muhammad saw. cinta itu tidak akan pernah terbukti jika hanya bershalawat, itupun hal yang malas kita lakukan, bahkan tidak pernah. Maka demikian juga jika kita mengaku mencintai Attaqwa, maka sisipkanlah selalu doa untuknya di setiap shalat kita. Selain doa, pesan untuk diri saya pribadi dan juga untuk para alumni Attaqwa lainnya, agar senantiasa menjaga nama baik almamater dimanapun berada. Karena hal itu merupakan salah satu bukti cinta kita pada Attaqwa. Untuk adik-adik yang akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya buat adik-adik yang akan lulus di Attaqwa atau pun rekan KREASI dan IKPMA Mesir, jangan pernah takut untuk belajar di tempat baru, negara baru yang lebih jauh. Karena saya yakin, sebagaimana dalam sebuah riwayat hadits Rasulullah Saw. mengungkapkan bahwa Allah Swt. akan memudahkan jalan menuju surga bagi setiap penuntut ilmu. Maka insya Allah jalan kita di dunia ini dalam menuntut ilmu pun akan senantiasa diberi jaminan kemudahan oleh Allah Swt. Amiin.
sebagai penutup, saya mohon didoakan agar dapat selalu menuntut ilmu dengan ikhlas dan istiqamah serta dapat menyelesaikan studi yang sedang saya jalani sekarang ini dengan baik serta mendapat ilmu yang bermanfaat. Begitu juga untuk para dewan guru yang telah ikhlas memberikan ilmunya di Attaqwa, untuk kakak, sahabat, adik, para alumni Attaqwa semua, agar kita dapat saling mendoakan untuk kebaikan kita semua di dunia dan akhirat. Salam Attaqwa!!

1 comment:

Terima kasih telah membaca postingan ini ... Silahkan tinggalkan pesan Anda.